YEREVAN-KEMPALAN: Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashaniyan menyetujui pemilu awal demi menyelesaikan krisis politik negaranya. Ia menyampaikan bahwa hal itu akan dilaksanakan pada 20 Juni 2021.
Akan tetapi, oposisi meminta Pashaniyan untuk mengundurkan diri terlebih dahulu sebelum mengadakan pemilu awal dan pendukungnya memblokade bangunan pemerintah dan membarikade jalan untuk menekan pemerintah agar menyepakati permintaan para demonstran.
Di laman Facebooknya, Pashaniyan mengatakan bahwa ia menyepakati pemilu awal setelah bertemu dengan Gagik Tsakuryan, pemimpin oposisi terbesar, Prosperous Armenia.
“Selama pertemuan, kami menyatakan bahwa cara terbaik keluar dari situasi politik dalam negeri yang sekarang adalah pemilihan umum yang lebih awal,” tuturnya.
Ia juga memperhitungkan pembicaraan dengan Presiden Armenian, Armen Sarkisian, bahwa pemilihan umum awal anggota parlemen Armenia akan diadakan pada 20 Juni 2021.
Armenia telah menghadapi situasi politik yang genting semenjak kekalahannya dalam pertempuran melawan Azerbaijan.
Situasi politik ini diperparah dengan tiap pihak dalam negeri yang saling menuding karena kegagalan tersebut. Seperti yang dilakukan oleh Onik Gasparyan, Kepala Staf Ketentaraan Armenia yang meminta Nikol Pashaniyan untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai Perdana Menteri Armenia.
Hal ini dilawan oleh Pashaniyan dengan mengumpulkan pendukungnya dan meminta pemecatan Onik, tindakan yang dianggap inkonstitusional oleh Armen Sarkisian. Tak lama kemudian, Armen dan Nikol bertemu untuk membahas penyelesaian krisis politik yang bermuara pada keputusan untuk mengadakan pemilu awal ini.
Namun ketika pertemuan itu terjadi, demonstran berkumpul untuk meminta Nikol mengundurkan diri dari posisinya sebagai perdana menteri, mereka meneriakkan “Armenia Tanpa Pashaniyan” dan “Nikol Pengkhianat.” (Euronews, rez)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi