Joko Widodo: Indonesia Tidak Boleh Kalah dengan Negara Lain Terkait Teknologi dan Inovasi

waktu baca 2 menit

KEMPALAN: Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia, mengatakan bahwa Indonesia harus mampu bersaing dengan negara-negara lain terkait sektor teknologi dan inovasi. Joko Widodo secara eksplisit menginginkan agar Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk dapat menarik investasi asing di bidang inovasi dan teknologi ke dalam negeri.

“Saya selalu menekankan Indonesia mengundang investasi dan mengundang teknologi maju untuk masuk ke negara kita, membangun pabriknya di Indonesia. Silakan pasarnya untuk ekspor, silahkan pasarnya untuk dalam negeri, sehingga kita ini maju bersama-sama,” ujar Presiden Joko Widodo, saat membuka acara Hipmi, Jumat (5/3).

Indonesia sebagai negara berkembang memang perlu untuk mentransmisikan teknologi dari negara lain. Ditambah lagi, bidang inovasi dan teknologi yang selama ini belum menjadi fokus di tanah air.

Kemudian, masuknya investasi asing saat ini memang sangat dibutuhkan guna mengakselerasi pertumbuhan nasional. Lalu, target investasi tahun ini yang cukup besar, yaitu Rp 900 triliun. Sehingga ketertarikan investor untuk masuk perlu ditangani dengan serius.

Di saat ekonomi tengah anjlok akibat pandemi, Indonesia tidak bisa serta-merta mengandalkan investasi domestik saja. Tapi juga perlu lebih gencar menarik investor luar negeri. Terlebih lagi jika menyangkut bidang teknologi dan produk inovasi.

“Penanaman modal asing memang harus ditingkatkan, karena kalau hanya mengandalkan investasi domestik tidak bisa menarik teknologi baru. Indonesia belum bisa menghasilkan produk yang nilai tambahnya tinggi,” ujar Teuku Riefky selaku ekonom makroekonomi dan pasar keuangan LPEM FEB UI dalam keterangannya, Senin (15/3).

Mengundang investasi asing masuk, memang tak semudah membalikan tangan, apalagi tingkat kemudahan berbisnis Indonesia juga masih jadi yang paling buruk di dunia. Sebagai catatan, tiga tahun terakhir peringkat ease of doing business Indonesia selalu tertahan pada level 73.

Rendahnya peringkat tersebut menjadi acuan investor dalam menjadikan suatu negara menjadi tujuan investasi. Oleh karena itu, jika ada investor yang menjadikan Indonesia sebagai tujuan investasi, seharusnya peluang tersebut tidak disia-siakan. (Rafi Aufa Mawardi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *