WASHINGTON-KEMPALAN: Laporan intelijen AS dibuka pada Jumat (26/2), menunjukkan bahwa Pangeran Mohammed bin Salman, putra mahkota Arab Saudi, menyetujui operasi di Istanbul untuk “menangkap atau membunuh” Jamal Khashoggi tahun 2018 lalu.
Menurut Sputniknews, laporan yang disediakan oleh Office of the Director of National Intelligence itu menyatakan bahwa penilaian itu didasarkan pada “kendali atas keputusan” yang dimiliki oleh sang pangeran di Arab Saudi.
Ringkasan eksekutif dari laporan itu menyampaikan bahwa “semenjak 2017, sang putra mahkota memiliki kendali total dari keamanan dan organisasi intelijen kerajaan, membuat tidak mungkin bahwa pejabat Saudi melaksanakan operasi semacam ini tanpa restu dari sang putra mahkota.”
Laporan itu turut menyampaikan bahwa Pangeran Mohammed bin Salman melihat Khashoggi sebagia ancaman terhadap kerajaan dan mendukung penggunaan kekerasan yang dibutuhkan untuk membungkam jurnalis itu.
Selain sang pangeran Saudi, ada juga tujuh nama lainnya yang “terlibat, memerintahkan, atau bertanggungjawab atas kematian Jamal Khashoggi.” Di tahun 2019 silam, Pangeran Mohammed bin Salman menyampaikan bahwa ia bertanggung jawab sepenuhnya atas kejadian ini, karena terjadi di bawah masa kekuasaannya, bukan karena ia memerintahkannya.
Akan tetapi, seperti yang dilansir dalam Russia Today, kesimpulan dari laporan tersebut masih samar. Komunitas intelijen sendiri menyatakan bahwa mereka masih belum mengetahui apakah tim tersebut melakukan perjalanan ke Istanbul dengan tujuan membunuh Khashoggi, dan Pangeran MBS hanya “secara umum mendukung penggunaan tindak kekerasan jika dibutuhkan untuk membungkamnya.”
Laporan itu sendiri tidak menyediakan bukti yang jelas. Keterlibatan dari penguasa de facto Saudi itu hanyalah sebuah “penilaian” dan bahwa operasi itu mustahil dilaksanakan tanpa restu darinya. Adapun beberapa bagian dari laporan itu telah disunting, termasuk yang mengidentifikasi informasi mengenai orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan, dan informasi yang menandakan badan intelijen mana yang berkontribusi dalam laporan itu.
Dalam laporan itu, seperti yang dilansir oleh CNN, juga mengatakan bahwa 15 orang dari Saudi yang tidak di Istanbul pada waktu pembunuhan Jamal Khashoggi termasuk di dalamnya ada anggota Saudi Center for Studies and Media Affairs yang dipimpin oleh penasihat dekat Pangeran MBS, serta “tujuh anggota pasukan pengawal pribadi Mohammed bin Salman, yang dikenal sebagai Rapid Intervention Force.”
Laporan itu juga mencatat bahwa pada saat pembunuhan Khashoggi, “putra mahkota membentuk sebuah lingkungan di mana para pembantunya takut jika terjadi kegagalan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan akan mengakibatkan dia memecat atau menangkap mereka.” (Sputniknews/Russia Today/CNN, Reza Maulana Hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi