Berita Pelintiran yang Tidak Objektif, tapi Justru Menarik Bagi yang Terbiasa Tidak Logis
KEMPALAN: Dalam sebuah diskusi online. Saya bilang: “Kitab suci saja bisa diinterpretasi macam-macam, apalagi Undang Undang.” Terus muncul berita plintiran di media, Henri Subiakto menyamakan UU dengan kitab suci. He he he.
Padahal tidak ada wartawan yang wawancara saya. Tidak ada yang menghubungi saya. Dan apa yang saya sampaikan juga sama sekali tidak seperti itu. Tapi tiba tiba muncul berita dengan judul tidak masuk akal, sensaional dengan isi dan kesimpulan yg salah. Tapi itulah menariknya sebuah berita. Berawal dari sepenggal diskusi yg belum tuntas, tiba tiba menghasilkan berita yang dibuat tanpa prosedur jurnalistik yg benar.
Hari Sabtu pagi itu, sebenarnya saya sdh berusaha menolak diskusi radio tersebut, karena waktunya tidak memungkinkan. Diskusi dijadwalkan jam 10.00-12.00, sedang saya harus terbang jam 10.40. Ternyata benar, ketika saya baru bicara sebentar saya harus boarding. Walhasil saya tidak punya waktu menjawab pertanyaan moderator atau presenter karena sudah di atas pesawat. Pernyataan saya dalam diskusi itu belum lengkap. HP saya sudah harus dimatikan. Moderator sudah bilang, bhw saya tdk bisa meneruskan karena harus terbang.
Sebenarnya tidak sampai sejam pesawat sudah nyampai. Saya lihat telpon tdk ada WA masuk, tdk pula ada yg telpon sampai sore. Hanya kemudian saya dikirimi berita oleh teman, yg isinya sama sekali jauh dan bukan dari pernyataan saya. Tapi memang menarik. Sesuatu yang tidak normal pasti menarik. Mosok UU disamakan dengan kitab suci he he. Semua orang tahu Kitab Suci itu wahyu Tuhan, sedang UU hanya buatan manusia. Tidak mungkin disamakan. Tapi manusia itu mahkluk kreatif yang suka menafsir dan menginterpretasi apapun. Termasuk kitab suci, apalagi UU.

Yang kedua mosok saya dikatakan anti revisi, padahal saya tidak pernah mengucapkan itu. Kalau menjelaskan tentang interpretasi yg benar dan ada kesalahan pemahaman, itu memang tugas saya. Sebagai abdi negara, yang ditunjuk jadi tim pengkaji dari pemerintah untuk UU ITE, tidak mungkin saya menutup diri dari kemungkinan revisi. Karena tim di mana saya berada salah satunya menyiapkan kemungkinan revisi. Tapi itulah hasil wartawan membuat berita berdasar prasangka, persepsi dan delusi.
Wartawan dan media itu memang bisa dan biasa salah. Apalagi kalau si wartawan memiliki sikap pribadi dan kepentingan terhadap berita itu. Prasangka personal akan menyeretnya ke pemberitaan yang tidak netral. Fakta yang harus dia beritakan hasilnya tercampur dengan prasangka, emosi, ataupun sikap dan opini pribadinya. Tak heran banyak berita menjadi tidak akurat, tendensius, tidak logik dan jauh dari objektivitas.
Makanya dalam ilmu jurnalistik yang berbasis etika, para wartawan selalu ditekankan pentingnya mengikuti prosedur etika jurnalistik. Kata Bill Kovack harus berkomitmen pada kebenaran, atau fakta. Bukan mendahulukan perasaan, prasangka, atau sikap pribadinya saat membuat berita.
Para ilmuwan Komunikasi dan jurnalistik tahu, bahwa manusia itu subjektif. Saat menjadi wartawan mau membuat berita pasti juga cenderung subjektif. Maka prosedur jurnalistik menjadi penting. Penerapan prosedur saat melakukan kerja jurnalistik menjadi bagian dari etika profesi. Teori praktis yang diajarkanpun adalah menekankan pentingnya prosedur praktis, para wartawan saat membuat berita. Tujuannya tak lain agar mengurangi atau mereduksi subjektivitas pelaku jurnalistik. Jadi objektivitas berita itu sangat tergantung ketaatan wartawan pada prosedur.
Etika berkomitmen pada kebenaran atau fakta. Mengajarkan pada wartawan tidak boleh mendahulukan perasaan, prasangka, atau sikap pribadinya saat membuat berita. Di situ ada prosedur check and recheck. Itu adalah prosedur mengurangi kemungkinan salah persepsi dari wartawan. Atau mengurangi ketidakakuratan fakta yang mau diberitakan.
Tapi dengan berbagai alasan praktis, banyak wartawan enggan melakukan check and recheck. Apa yang dia dengar, tangkap dan persepsi, langsung dia tulis. Langsung diberitakan tanpa konfirmasi. Tidak peduli apa persepsi pribadinya salah, atau tidak akurat, bahkan tidak logis.
Padahal ada ajaran prosedur jurnalistik berikutnya. Yaitu netral, artinya saat nulis fakta, pendapat dan sikap pribadi wartawan tidak boleh ikut masuk mewarnai tulisan. Atau tidak boleh mencampur adukkan fakta dengan opini pribadinya. Kalau ajaran prosedur ini diikuti, maka akan menekan subyektivitas tulisan atau berita. Karena hanya fakta yang ditulis atau diungkap di medianya.
Contoh prosedur lain adalah balance, atau imbang. Artinya suatu berita itu perlu memberi tempat yang sama antara yang pro dan yang kontra. Ini yg disebut cover both side. Di lapangan sering sekali, suara yang kebetulan berbeda atau berseberangan dengan sikap media atau wartawan, lalu hanya diberi tempat yang sedikit. Apalagi kalau khalayak media itu fanatik pada yang kontra. Maka yang pro tambah dipersempit ruangnya, agar sebagian besar khalayak media akan suka dan bertepuk tangan. Media memang sering isinya tunduk pada keinginan khalayak.
Jadi objektivitas berita itu sangat tergantung prosedur jurnalistik yang dijalankan. Sayangnya prosedur ini banyak yang dilanggar, wartawan sak karepe dewe yg penting menarik. Persoalannya berita atau informasi yang mlenceng, tidak akurat, tidak masuk akal, bahkan tendensius serta menyerang itu punya pangsa pasar sendiri. Berita semacam itu punya khalayaknya sendiri. Bahkan dianggap sebagai berita yang menarik. Layak diviralkan, diamplifikasi, oleh orang orang yg berkarakter sama. Yaitu tendensius, tidak masuk akal, mlenceng dan tidak objektif.
Jadilah karut marut tidak jelas di public sphere kita. Mana fakta, mana plintiran, mana kebencian, mana cari keuntungan agar viral, campur aduk. Kebenaran menjadi korbannya. Masyarakat luas makin terjauh dari informasi yg objektif. Hanya wartawannya mungkin senang, tersenyum, beritanya viral dan laku. Orang yang ngeshare senang juga punya bahan menyerang. Dahaga kebenciannya ada saluran. Itulah media yang sudah konvergen dengan medsos.
Berita yg tidak logis, tidak akurat, karena dibuat tanpa wawancara dan tanpa mengikuti prosedur, malah jadi menarik dan viral serta menyenangkan bagi mereka yg memang tidak biasa dengan berita yang benar dan objektif.
Bagi saya pribadi, berita salah itu cukup saya koreksi dengan tulisan saya di medsos. Kalau berita itu sudah menyebar, ya itu konsekuensi era medsos. Saya malah jadi makin terkenal he he he. Kalau mereka percaya berita itu, berarti mereka percaya dengan sesuatu yang tidak logis. Maklumlah karena yang mempercayainya mungkin memang sudah terlalu lama dan terlalu terbiasa berpikir tidak logis. Jadinya menelan begitu saja berita plintiran dan salah.
Polanya, berita pelintiran itu langsung disamber oleh beberapa media abal abal, dan langsung diviralkan oleh buzzer atau influencer, yang kalau ada berita buruk langsung ngiler ingin segera menyebar dan muter 🤣. (*)
