Gunakan Ekskavator, Puluhan Bangkai Paus Dikubur
BANGKALAN, KEMPALAN – Kawanan ikan paus jenis pilot yang terdampar dan mati di pesisir Pantai Desa Patereman, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, Kamis (18/2/2021) akhirnya dikubur.
Berdasarkan update data terbaru, jumlah paus yang terdampar bertambah dari 45 ekor menjadi 52 ekor. Dari jumlah tersebut, hanya tiga ekor yang hidup. Sedang 49 ekor lainnya mati dan kemudian dikubur.
Tiga ekor ikan paus yang hidup itu kemudian didorong kembali ke laut lepas, tapi hanya satu yang berhasil. Dua ekor lainnya menyusul mati, sehingga jumlahnya jadi 51 ekor. Paus yang hidup terus dipantau perkembangannya.
Sedang 51 paus yang mati bangkainya di kubur. Penguburan menggunakan dua unit ekskavator bantuan dari Pemprov Jatim. Proses penggalian dimulai sejak Sabtu (20/2/2021) pagi, mulai pukul 06.00 WIB.
Lokasi penguburan di perairan Pantai Modung dengan jarak sekitar 70 meter dari bibir pantai. Kedalaman galian minimal 5 meter. Ini penting untuk memastikan tidak adanya air yang masuk ketika laut pasang.
Berdasarkan informasi dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jatim, ada dua titik penguburan. Titik pertama untuk 25 ekor paus dan titik kedua 21 ekor.
Namun demikian, terdapat seekor paus yang dikubur manual. Sebab, jaraknya cukup jauh dari titik penguburan. Sedang 4 sisanya kemungkinan terseret arus ombak saat pasang terjadi.
Dalam rangka percepatan, banyak pihak yang terjun dan ikut langsung terlibat dalam proses penguburan. Selain Pemprov Jatim, juga turut terjun langsung di antaranya pihak Balai Besar KSDA Jatim, perwakilan Kementrian Lingkungan Hidup, TNI, Polri, para relawan dan pegiat lingkungan, tokoh masyarakat, Forum Koordinasi di tingkat Kecamatan Modung, Bangkalan, serta perwakilan akademisi dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unair.
Terkait penguburan ikan paus yang telah mati tersebut, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menyampaikan apresiasi dan terimakasih atas kerja keras dan gotong royong semua pihak.
Menurutnya, ini merupakan bentuk kolaborasi dan sinergitas sebagai wujud kepedulian lingkungan.
“Terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak, termasuk para nelayan dan relawan, sehingga masalah paus yang terdampar ini bisa segera kita atasi bersama. Ini adalah wujud rasa cinta serta peduli kepada lingkungan dan makhluk hidup di sekitar kita,” ungkap Khofifah ini saat ditemui di Gedung Grahadi, Surabaya, (20/2/2021).
Khofifah menyatakan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan pihak Tim Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut untuk mengetahui penyebab ikan paus terdampar di daerah Modung, Bangkalan tersebut.
Selain itu, pihaknya juga akan terus mengupdate terkait penelitian sampel dari ikan paus mati yang dilakukan oleh FKH Unair Surabaya.
“Kami akan terus mengupdate Untuk sampel ikan paus mati yang dilakukan oleh FKH Unair. Hasil penelitian ini penting sebagai rekomendasi, agar kita bisa melakukan pencegahan, sehingga tidak sampai terjadi kejadian yang sama,” kata Khofifah. (*)
Peliput: Dwi Arifin









