KEMPALAN: Raffi Ahmad menjadi salah satu artis paling top di Indonesia. Acara talk shownya disiarkan di seluruh televisi nasional dan mendapat rating yang bagus. Followernya di media sosial membeludak. Akun Insragramnya diikuti oleh 40 juta orang.
Raffi menjadi influencer yang sangat berpengaruh, dan berbagai produk antre untuk mendapatkan endorsementnya. Raffi miliarder crazy rich mendadak karena popularitasnya. Ia diundang ke istana untuk mendapatkan vaksinasi bersama Presiden Jokowi. Ia dilamar untuk menjadi calon wakil walikota mendampingi putri Wapres Ma’ruf Amien pada pilkada serentak 2020 yang lalu. Raffi menolak dengan halus.
Mungkin Raffi sudah berhitung. Dengan followers puluhan juta dia rugi kalau cuma nyalon jadi wakil walikota di Tangerang yang penduduknya sekitar dua juta kepala. Raffi menunggu tawaran yang lebih menarik karena karir politik sekarang menjadi semacam karir lanjutan bagi para selebritas.
Sekarang muncul tawaran yang lebih menarik dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sudah menyebut nama Raffi sebagai salah satu calon gubernur yang bakal diusung pada pilgub DKI 2024. Raffi belum memberikan respons karena PKB juga belum mengajukan tawaran resmi. Tetapi kelihatannya tawaran ini cukup menggoda dan mungkin Raffi berpikir serius untuk mempertimbangkannya.
Bukan PKB yang bisa menjadi daya tarik bagi Raffi karena PKB tidak mungkin bisa mengusung calon gubernur karena PKB adalah partai gurem di Jakarta. Tapi godaan untuk menjadi gubernur atau wakil gubernur di ibukota cukup membuat ngiler. Selama ini kalangan selebritas yang bisa menjadi gubernur adalah Si Doel Rano Karno di Banten dan Zumi Zola yang menjadi gubernur Jambi. Deddy Mizwar menjadi wakil gubernur Jawa Barat, dan ketika ingin naik kelas jadi gubernur si Jenderal Naga Bonar ini kalah.
Pilpres dan pilkada serentak baru akan dihelat 2024 mendatang, tapi partai politik sudah mulai mengelus-elus jago dan melemparkannya ke tengah masyarakat untuk mengetes ombak dan melihat apakah dagangan yang ditawarkan layak jual atau tidak. Selain nama-nama birokrat dan politisi, nama-nama selebritas dilemparkan juga ke pasar.
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) jauh-jauh hari sudah melempar nama Giring Ganesha untuk menjadi capres 2024. Reaksi pasar tidak terlalu antusias dan malah banyak yang menolak karena pencalonan ini dianggap mimpi kesiangan dan kapasitas Giring tentu masih jauh panggang dari api. PSI sebagai partai gurem tentu tidak punya modal politik yang cukup untuk mengusung capres sendiri. Karena itu pemunculan Giring dianggap tidak lebih sebagai politik caper, cari perhatian, dan cenderung hanya cari sensasi. Hanya beberapa bulan muncul sekarang Giring tenggelam.
Wacana PKB mengusung Raffi konteksnya mirip dengan PSI yang mengusung Giring. Meskipun secara nasional PKB termasuk partai lima besar tapi di DKI PKB adalah partai duafa yang cuma punya lima kursi dan ada di jurukunci bersama PPP yang punya satu kursi.
PKB termasuk partai yang merana di DKI karena kalah jauh dari partai pemenang seperti PDIP yang memborong 25 kursi, Gerindra 19 kursi dan PKS 16 kursi. Bahkan PKB kalah dari PSI yang masih ingusan tapi bisa dapat delapan kursi.
Karena itu manuver PKB ini lebih mirip sebagai politik caper untuk cari perhatian media, karena PKB tidak punya political power yang cukup karena kursinya yang minim. PKB juga melemparkan nama Agnes Monica menjadi kandidat gubernur untuk cari perhatian, karena beda dengan Raffi yang selama ini menunjukkan ketertarikan ke politik, Agnez Mo tidak menunjukkan gejala-gejala itu. Tapi PKB rupanya kebelet cari perhatian sehingga main lempar nama saja tanpa persetujuan si empunya nama.
Manuver parpol merangkul selebritas sudah menjadi fenomena umum. Popularitas artis dianggap sebagai senjata ampuh untuk menarik suara massa, para selebritas adalah vote getter, pengumpul suara yang mangkus. Tidak peduli punya kemampuan atau tidak yang penting punya popularitas. Karena itu para selebritas beramai-ramai dipasang namanya sebagai calon anggota legislatif pada pemilu 2019. Di Malang PDIP membawa Krisdayanti sebagai caleg DPR Pusat. KD yang kebetulan produk lokal tidak mengalami kesulitan menembus Senayan.
Partai Gerindra juga memakai strategi serupa dengan menjual nama pembalap Moreno Suprapto sebagai calon legislatif pusat. Sama dengan KD, Moreno punya akar lokal karena bapaknya, Tinton Suprapto berasal dari Malang. Moreno melenggang dua periode.
Deretan nama selebritas di gedung Senayan makin berjubel. Gerindra juga meloloskan Mulan Jamilah menjadi legislator nasional. Partai Amanat Nasional sudah terlebih dahulu membawa banyak artis ke Senayan. Sejak era Sutrisno Bachir menjadi ketua umum pada pemilu 2009 sejumlah selebritas diboyong ke PAN, dan partai itu diplesetkan sebagai Partai Artis Nasional.
Dessy Ratnasari dan Eko Patrio adalah artis-artis yang menjadi legislator nasional. Tidak semua selebritas bisa melenggang mudah. Penyanyi Denada yang diusung PAN di daerah pemilihan Jawa Timur gagal masuk Senayan.
PKB juga ikut-ikut memakai strategi itu. Raja dangdut Rhoma Irama ditarik menjadi vote getter dengan dimunculkan sebagai capres pada pemilu 2014. Nama besar Rhoma di kalangan penggemar dangdut membuat PKB bisa mengerek perolehan suara cukup besar dan masuk lima besar dengan total suara 9 persen. Rhoma Factor diyakini menjadi pengumpul suara yang mengatrol posisi PKB.
Tapi politik tetaplah politik. Alih-alih mengusung Rhoma Irama sebagai presiden, PKB main mata dengan Jokowi dan meninggalkan Rhoma patah hati. Rhoma kecewa dan mendirikan Partai Islam Damai dan Aman pada pemilu 2019. Ternyata hasilnya jauh dari damai dan aman karena tidak ada caleg yang lolos dan tak mampu melangkahi batas elektoral, electoral threshold. Rhoma gagal jadi presiden dan tetap menjadi presiden dangdut.
Di Amerika Ronald Reagan menjadi satu-satunya bintang Hollywood yang berhasil menduduki posisi politik tertinggi sebagai presiden ke-40 selama dua periode pada 1981 sampai 1989. Sebelumnya Reagan meniti karir sebagai gubernur California pada 1967 sampai 1975.
Si terminator Arnold Schwarzenegger mengikuti jejak Reagan menjadi gubernur California pada 2003 sampai 2011. Kedua bintang film itu sama-sama kader Partai Republik, tapi Schwarzenegger tidak bisa menembus layar politik nasional seperti Reagan. Pada pilpres 2020 penyanyi rap Kanye West sempat memunculkan namanya sebagai kandidat presiden tapi tidak terlalu serius dan namanya pun menguap.
Di Indonesia selebritas yang masuk jalur politik tidak perlu susah payah meniti jalur lewat bawah sebagai kader partai karena jalur pintas selalu tersedia. Semua parpol pun dengan sukarela membuka diri untuk siapa saja yang mau masuk lewat pintu pintas untuk mendapat tiket menjadi calon anggota legislatif maupun eksekutif mulai dari bupati, walikota, sampai presiden pun. Tidak perlu harus berdarah-darah mengikuti konvensi berbulan-bulan sebelum memperoleh tiket partai seperti mekanisme di Amerika. Di Indonesia jalur instan selalu tersedia. Mulai dari bikin mi sampai mencetak presiden semua bisa instan.
Tapi tidak ada makan siang gratis di mana pun. Jer basuki mawa bea, kalau mau makmur harus pakai biaya. Itu adalah motto resmi Provinsi Jawa Timur yang harusnya lebih pas menjadi tagline seluruh parpol Indonesia.
Demokrasi menjadi barang dagangan yang dijajakan dengan buka lapak dan dilepas kepada penawar tertinggi. Edward Aspinall dan Ward Berenschot membongkar fenomena jual beli demokrasi itu dalam buku “Democracy fo Sale: Elections, Clientelism, and State in Indonesia” (2019). Aspinall dan Berenschot menunjukkan bukti yang abundan mengenai jual beli demokrasi itu.
Penyakit kronis yang menggerogoti demokrasi Indonesia adalah klientelisme, memakai uang rakyat untuk mengongkosi politik. Anggaran negara dari keringat pajak rakyat itu dibagi-bagi dalam bentuk proyek untuk membeli dukungan rakyat. Klientelisme dilakukan secara telanjang dan terbuka, secara halus sampai yang paling kasar.
Aspinall dan Berenschot melakukan penelitian simultan di Indonesia, India, dan Argentina dan menemukan bahwa di India dan Argentina partai politik berinteraksi dengan rakyat setiap saat dan kantor partai selalu menjadi jujugan rakyat untuk mengadu dan minta bantuan. Kantor parpol di desa-desa mengurus adua rakyat mulai minta biaya anak sekolah sampai mencari pekerjaan. Semua dilayani oleh parpol sehingga rakyat lebih suka mengadu ke partai daripada ke pemerintah.
Di Indonesia semua pintu anggaran dikunci dan hanya disalurkan lewat birokrasi yang dikuasai dan dikontrol ketat oleh kepala pemerintahan. Hanya orang-orang yang bisa memberi dukungan politik yang bisa mendapat akses anggaran. Jual beli demokrasi melalui klientelisme anggaran semacam ini menjadi fenomena jamak di seluruh Indonesia.
Tidak ada kantor parpol di desa. Yang ada hanya di level kota-kabupaten dan provinsi. Itu pun lebih banyak suwung dan terkunci, dan hanya ramai lima tahun sekali saat pemilu atau pilkada berlangsung.
Parpol lebih banyak menjadi pengasong atau perusahaan rental yang menyewakan kendaraan politik kepada penyewa dengan tawaran tertinggi. Transaksi beli putus menjadi praktik yang umum. Politik jual beli transaksional menjadi pemandangan sehari-hari karena setelah tiket terbeli, parpol pun lepas tangan.
Mesin parpol tidak jalan dalam pemilu karena kader parpol tidak punya akses dan tidak mengakar. Di setiap perhelatan politik peran tim sukses selalu jauh lebih dominan dibanding jaringan partai. Namanya juga tim sukses, selalu sukses meskipun kandidatnya tidak sukses alias gagal. Tidak ada sebutan “tim gagal”, yang ada hanyalah “bekas tim sukses”.
Jalur tim sukses ini mengandalkan tokoh-tokoh yang punya pengaruh di daerah untuk mencari dukungan suara, dan karena itu politik transaksional tidak terhindarkan. Money politics dan vote buying, politik uang dan jual beli suara, akan terus-menerus terjadi. Jual beli demokrasi akan terus terjadi di setiap perhelatan politik. Begitu simpulan Aspinall dan Berenschot.
Raffi Ahmad dan kawan-kawan selebritasnya akan menghadapi hal yang sama karena strategi itu sudah menjadi permainan yang baku di lingkungan parpol. Cari figur yang punya nama dan sekaligus punya duit untuk biaya kampanye, dan tiket pun dilepas. Raffi harus sungguh-sungguh berhitung supaya tidak masuk jebakan batman dan bernasib merana seperti Bang Haji. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi