SURABAYA-KEMPALAN: Apresiasi yang tinggi perlu diberikan kepada Dinas Kesehatan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Dalam penanganan Covid-19 di Kota Surabaya pada praktiknya berlangsung dengan sigap, terstruktur, cepat dan rapi di lapangan.
Dinas yang dikomandani oleh drg. Febria Rachmanita, M.A. ini bahkan dengan detail memantau pergerakan anak buahnya di lapangan untuk penanganan pandemi Covid-19 di Kota Pahlawan. Pada hari Minggu alias hari libur sekalipun. Sejumlah staff Dinkes Puskesmas Surabaya di hari Minggu (14/2) juga masuk kerja untuk menyelesaikan vaksin dosis ke-2.
Penanganan Covid-19 berlangsung secara terstruktur mulai dari tingkat nasional, provinsi, kota hingga ke puskesmas-puskesmas yang ada di seantero Kota Pahlawan terus hingga ke level RW/RT secara lokal. Pasien Covid-19 yang positif bisa langsung dijemput oleh ambulans puskesmas atau ambulans 112 Pemerintah Kota Surabaya secara tentatif.
Jika pasien dalam keadaan sehat akan dijemput dan diuruskan staff puskesmas menuju tempat isolasi mandiri di Asrama Haji. Tetapi jika pasien perlu penanganan lanjutan dapat dirawat di RSUD Soewandhi milik Pemkot Surabaya dengan mempertimbangkan ketersediaan kamar yang ada.
“Ini ambulansnya sudah meluncur ke lokasi di Rungkut. Harusnya dari ambulans 112, tetapi karena ambulans 112 hari Minggu ini (14/2) tiba-tiba harus menangani kejadian kecelakaan, kita alihkan tugasnya kepada ambulans dari Puskesmas Bulak Banteng, Kenjeran, yang tadi juga stand by di hari Minggu. Kebetulan hari Minggu ini Dinkes Puskesmas hari ini masuk kerja juga untuk menyelesaikan vaksin dosis ke-2,” terang Fenny, panggilan akrab drg Febria, kepada portal berita digital kempalan.com saat memantau penjemputan pasien Covid-19 tanpa gejala menuju ke isolasi mandiri Asrama Haji Surabaya.
Konfirmasi kedatangan ambulans puskesmas Pemkot Surabaya juga disampaikan oleh Sabda, staff puskesmas Medokan Ayu Surabaya melalui percakapan dan telepon di Whatsapp. Tak sampai satu jam ambulans puskesmas Bulak Banteng pun tiba di lokasi dengan dipimpin langsung oleh dokter piket saat itu. Dengan kegesitannya, informasi juga tersampaikan dengan cepat hari itu juga kepada satgas Covid-19 di tingkatan RW dari Puskesmas Medokan Ayu.

Malam minggu kemarin, yang seharusnya hari libur pun, dihabiskan Sabda untuk mendata, menelepon, dan menjelaskan dengan sabar dan detail tentang isolasi mandiri kepada orang dalam pemantauan (ODP) Covid-19. “Nanti saya ajukan juga untuk permakanan dari Pemkot dan surat isolasi mandiri untuk keterangan kantor. Nggih Pak…,” ujar Sabda ramah.
Kesigapan juga ditunjukkan oleh Rizki, staff Puskesmas Rungkut. Walaupun sudah berada di sepeda motornya dengan helm lengkap hendak pulang sehabis jam dinas di halaman Puskesmas Rungkut, Sabtu sore (13/2). Dia kemudian dengan sigap mengantarkan kepada staff lain yang berada di lantai 2 Puskesmas Rungkut.
“Petugas puskesmas di seantero Kota Surabaya setiap hari juga melakukan penjemputan swab ke kawasan permukiman warga. Kami ada swab mobile atau bisa juga datang ke puskesmas yang menjadi wilayah warga bersangkutan. Sementara Laboratorium Kesehatan Daerah, Lakesda di Gayungan memberikan swab gratis kepada mereka yang melakukan perjalanan masuk dan keluar Kota Surabaya bagi yang ber-KTP Surabaya. Bagi yang KTP-nya dari luar Surabaya hanya membayar Rp125 ribu,” papar Febria yang mantan Direktur RSUD dr Mohamad Soewandhie, salah satu di antara dua rumah sakit di bawah Pemkot Surabaya.
Layanan kesehatan pun terus dikembangkan Pemkot Surabaya. Tak hanya terkait penanganan pandemi, tetapi juga dengan rencana membuka dua rumah sakit di kawasan Timur dan Utara Surabaya. Termasuk peningkatan status Puskesmas Kalikedinding, Surabaya, menjadi rumah sakit tipe D. “Namun, ini bertahap karena anggaran dari APBD Pemkot Surabaya juga masih mengalami refocusing untuk penanganan pandemi,” pungkas Febria. (freddy mutiara)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi