JAKARTA-KEMPALAN: Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan bahwa BI masih akan melanjutkan kebijakan suku bunga rendah dengan kebijakan likuiditas longgar. Kebijakan suku bunga rendah diterapkan, hingga muncul tanda-tanda peningkatan inflasi. Tetapi BI juga akan tetap mengakselerasi bauran kebijakan.
“Kita masih jauh sekali tanda-tanda adanya peningkatan inflasi,”ujar Destry dalam diskusi Iluni UI, Sabtu (30/1). Untuk sepanjang tahun 2020 tingkat inflasi tercatat rendah hanya 1,68%. Meski begitu, BI akan menjaga inflasi di kisaran 3 plus minus 1% tahun dengan kecenderungan mengarah ke bawah.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa suku bunga acuan sudah berada di level terendah yakni 3,75% disertai kebijakan likuiditas longgar. Perry Warjiyo, menyatakan rendahnya suku bunga dengan likuiditas yang longgar diharapkan mendorong penyaluran kredit perbankan ke dunia usaha. Tapi dia mengakui, meski dari sisi supply sudah sangat longgar, namun masih ada kendala dari sisi demand terkait upaya meningkatkan pertumbuhan kredit tersebut.
“Memang belum semua dunia usaha (bisa menyerap kredit). Sektor-sektornya kita dorong sekaligus. Karena ada sektor-sektor yang bisa siap yang tadi yang saya sebutkan kuadran hijau. Ada juga sektor yang perlu dukungan dan ada juga yang nanti biasanya mengikuti,” kata Perry Warjiyo dalam acara Focus Group Discussion bersama pimpinan media yang berlangsung secara online.
Tetap Menarik Investor
Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kemenkeu, Febrio Kacaribu menilai langkah BI untuk mempertahankan suku bunga BI-7DRR ini telah mempertimbangkan perkiraan tingkat inflasi yang rendah dan terkendali, serta stabilitas eksternal yang terjaga. Sebagaimana diinformasikan oleh Badan Pusat Statistik, inflasi tahun 2020 tercatat cukup rendah di level 1,68% year on year (yoy). Di tahun 2021 ini, asumsi inflasi pada APBN adalah sebesar 3 % ± 1%.
“Dari perspektif pasar keuangan, keputusan BI menahan suku bunga acuan berarti juga mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik mengingat yield spread yang tetap terjaga,” jelasnya dalam paparan secara virtual, Selasa (26/1/2021).
Di tengah era suku bunga rendah dan likuiditas berlimpah di negara maju, lanjutnya, pasar keuangan Indonesia, khususnya fixed income market, akan menjadi semakin menarik bagi investor yang memburu return yang lebih tinggi.
Bank Sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (the Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga mereka di level mendekati 0 persen, menandai pemulihan ekonomi yang moderat. Kebijakan tersebut menegaskan kembali janji the Fed untuk menggunakan semua cara yang ada untuk mendukung ekonomi AS selama masa pandemi virus corona.
Bank Sentral AS juga mempertahankan kebijakan pembelian surat berharga senilai US$120 miliar per bulan sampai adanya progres signifikan pada target serapan ketenagakerjaan dan inflasi. The Fed juga tidak membuat perubahan terkait dengan komposisi pembelian surat berharga. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi