Varian Covid-19 Afrika Muncul di AS, Mutasi Virus Pangkas Keandalan Vaksin
WASHINGTON-KEMPALAN: Dunia boleh saja bergembira mendapatkan dua vaksin lagi untuk memerangi pandemi Covid-19. Namun, varian virus yang muncul di mana-mana di seluruh dunia membuat perusahaan vaksin berkejaran dengan waktu. Covid-19 pun diprediksi akan aktif hingga bertahun-tahun kemudian secara global.
Vaksin yang dibuat Moderna Inc. dan kerjasama Pfizer Inc. dengan BioNTech SE sudah dipakai. Sementara dua vaksin lagi: Johnson & Johnson dan Novavax Inc berpotensi meluncur ke pasar dengan memeroleh otorisasi cepat di Amerika Serikat untuk vaksin Johnson & Johnson dan di Inggris untuk Novavax. Itu berita baiknya. Memberi harapan mengakhiri pandemi yang sudah menewaskan lebih dari 2 juta orang di seluruh dunia.
Kini berita buruknya: Mutasi virus akan melawan vaksin dan perawatan antibodi yang kini berlangsung di Afrika Selatan dan Brasil. Kejadian itu diprediksi menyebar ke seluruh dunia. Uji coba Johnson & Johnson pada tahap akhir 72% efektif di Amerika. Namun, angka itu turun menjadi 57% di Afrika Selatan. Vaksin Novavax 89% efektif di Inggris, tetapi hanya 49% efektif di Afrika.
Bahkan sebelum hasil itu, uji laboratorium pada vaksin lain bahwa vaksin menjadi kurang efektif menghadapi varian Afrika Selatan. Namun, Bloomberg mengungkapkan, apa dampaknya terhadap Covid-19 dalam kondisi riil belum jelas. Yang jelas, hasil baru itu merupakan indikasi jelas bahwa vaksin tidak berfungsi prima minimal melawan salah satu mutasi virus Covid yang muncul belakangan.
“Kini kita menghadapi konsekuensi nyata yang menantang,” ujar Anthony Fauci, ahli penyakit infeksi ternama di Negeri Paman Sam. Langkah pertama adalah mengetahui kapan mutasi terjadi. Direktur Pencegahan dan Kendali Penyakit Rochelle Walensky mengatakan AS kini meminta tiap negara bagian mengirimkan sedikitnya 750 sampel seminggu berturutan untuk menentukan mutasi apa yang tengah terjadi.
Dia memeringatkan bahwa sistem yang ada di AS saat ini untuk mendeteksi mutasi virus berbeda sangat lambat dalam tindakan antisipasinya. Jika kondisi di Amerika yang negara maju saja sedemikian, kita bisa bayangkan untuk negara-negara berkembang. Tentunya, termasuk Indonesia.
Varian Afrika Selatan atau B.1.351, telah menyebar dengan cepat di seluruh Benua Hitam itu. Serta muncul dan terdeteksi di sedikitnya 24 negara di luar Afrika. Ia ditemukan di AS pekan ini dengan dua kasus di South Carolina. Sementara itu, varian yang mudah menular dari Inggris—ditemukan pertama kali 29 Desember lalu di AS—telah menyebar ke 29 negara bagian dalam kurang dari sebulan. Pejabat kesehatan AS pun menyeru bahwa varian ini bisa segera menjadi versi Covid dominan di AS.
Sementara banyak negara di seluruh dunia berusaha menekan penyebaran varian Covid-19 dengan pembatasan perjalanan, sejarah mencatat bahwa itu hampir mustahil dilakukan. “Hasil uji vaksi di Afrika Selatan sangat mengkhawatirkan. Keandalannya (vaksin) turun,” ujar Eric Topol, direktur Scripps Research Translational Institute di San Diego.
Artinya, dunia kini harus mempersiapkan vaksin baru yang diadaptasi untuk mengatasi strain baru virus Afrika Selatan. Titik tekan dari para ahli kedokteran: perang melawan Covid akan berlangsung lama. Vaksin yang ampuh di masa kini, akan turun khasiatnya di masa depan akibat mutasi virus. Perlu vaksin yang diperbarui secara periodik untuk melawan Covid.
“Implikasinya sangat mengkhawatirkan,” ujar Peter Hotez, dekan di National School of Tropical Medicine, Baylor College of Medicine. Perusahaan farmasi dapat memulainya dengan mengkreasi vaksin bivalent: kombinasi suntikan vaksin yang berisi dua komponen untuk menstimulasi kekebalan tubuh terhadap virus versi orisinal dan varian Afrika Selatan. “Atau menggunakan vaksin yang ada, lalu meng- custom dosis selanjutnya untuk menghasilkan antibodi melawan varian baru ini.
Seiring balapan vaksin untuk mengatasi varian baru itu, varian baru akan menjadi kasus umum, atau skenario lebih buruk mutasi baru berkembang: virus baru menjadi lebih kuat. Ahli virus David Ho pun berujar skeptis: ”Kita membiarkan virus menginfeksi lebih dari 100 juta orang (di seluruh dunia). Jadi ada 100 juta peluang terjadi mutasi virus.” (*)









