Bank Digital Menanti Regulasi, Bidik Pasar Non-Bankable
JAKARTA-KEMPALAN: First-mover advantage atau keunggulan bersaing karena menjadi yang pertama masuk di pasar besar kemungkinan terjadi di industri bank digital. Sea Ltd. dan Gojek membidik pasar kredit di Indonesia. Pertaruhan yang disasar adalah pasar yang selama ini tidak terlayani oleh perbankan. Konsumsi konsumen diprediksi terus berlanjut seiring perusahaan-perusahaan tekfin membidik lebih dari 175 juta pengguna internet di Indonesia.
Banyak di antara mereka juga menjadi pengguna jasa perbankan secara daring. Sea telah mengakuisisi PT Bank Kesejahteraan Ekonomi tahun ini. Sementara Gojek mengakuisisi investasi tekfin mereka dengan membelanjakan sekitar 160 juta dollar AS untuk meningkatkan saham mereka di PT Bank Jago pada Desember tahun lalu.
Walaupun Indonesia sejauh ini merupakan pasar tekfin terbesar di Asia Tenggara, Indonesia adalah sedikit negara yang belum mengizinkan bank digital murni. Inggris, Hong Kong dan Singapura telah mengizinkan aktivitas peminjaman dana digital melalui bank digital (virtual lenders). Sementara Negara tetangga seperti Thailand dan Filipina secara aktif mempelajari soal tersebut. Itu berarti akuisisi adalah satu-satunya cara bagi Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan mendorong kondolidasi lebih dari 1.600 bank komersial dan bank rakyat daripada mengeluarkan izin bank digital baru.
“Perusahaan tekfin harus bekerjasama dengan bank-bank yang ada, seperti yang terjadi sejauh ini,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso kepada Bloomberg. “Bank tidak dilarang bekerjasama dengan perusahaan lain dalam bentuk kepemilikan, operasional dan sinergi pengembangan produk,” ujar dia.
Bagi Indonesia, masuknya raksasa-raksasa teknologi memunculkan peluang untuk menjangkau lebih dari 83 orang—hampir sepertiga populasi—yang masih tidak memiliki akses terhadap layanan keuangan formal. Seiring sektor perbankan di Tanah Air berusaha menjangkau populasi ini di seluruh Indonesia, layanan perbankan melalui mobile phone menjadi solusi.
Bain & Company menyebut, pendapatan pasar keuangan digital Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 11 miliar dollar AS, atau 5% dari kue pasar regional. Angka ini tentu akan terus tumbuh seiring masyarakat bergeser menuju transaksi virtual.
Perusahaan teknologi seperti Gojek dan Grab telah memperluas bisnisnya melampaui layanan transportasi menjadi one-stop shops di sektor jasa: mulai dari layanan potong rambut hingga jasa keuangan.
“Neo bank ini berada di posisi bagus untuk membidik pasar yang kurang terlayani, tetapi memiliki margin tinggi, seperti populasi muda berpendapatan rendah,” ujar Tamma Febrian, associate director Fitch Ratings di Singapura. Mereka bisa menggunakan data dari e-dagang untuk menilai calon peminjam yang biasanya ditolak bank karena tidak memiliki jaminan atau masuk daftar hitam Bank Indonesia,” kata dia.
“Fintech memiliki data dan teknologi yang cukup untuk mengambil konsumen potensial. Namun, bank memiliki kapasitas funding lebih besar untuk menyalurkan kredit,” ujar Aviliani, ekonomi di Institute for Development of Economics and Finance. “Mereka akan melengkapi satu sama lain.”
Pemberi pinjaman juga menyadari bahwa fee-based income adalah kunci utama pendapatan dalam era suku bunga rendah. (*)



