Beberapa meme lucu-lucu, kreatif, keren… dan dengan nada “memberontak” kemarin nampil di ponsel. Bisa buat setidaknya tersenyum yang tidak sekadar lucu, tapi juga sepakat dengan isi yang dimunculkan.
Isinya memang “memberontak” dengan kondisi ambigu yang ada. Ambigu pada kebijakan yang diambil, yang tampak bengis dan iba yang bisa ditampilkan secepat membalik telapak tangan.
Seperti peran antagonis, dan lalu secepat kilat berubah menjadi karakter protagonis, dan ini membuat khalayak terkaget dibuatnya. Mayoritas merasa aneh saja melihatnya. Kok bisa demikian ya, bahkan ada lontaran kok gak punya rasa malu sih.
Muncul protes dengan banyak komentar, juga tulisan dari banyak pihak, dengan nada mengolok-olok ambiguitas rezim ini. Mempersekusi dan bahkan menahan ulama panutan umat, tapi lalu meminta bantuan memperbaiki ekonomi dengan wakaf uang umat.
Muncul Ibu Sri Mulyani, Menteri Keuangan (Menkeu), yang dibuatkan meme “mendadak sholeha… mendadak ustazah”, itu karena saat “mengiba” dalam sambutan acara Peluncuran Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) dan Brand Ekonomi Syariah 2021, ia memakai hijab. Tampilan yang disesuaikan dengan kepentingan.
Bagaimana mungkin umat bisa perduli dengan himbauan wakaf uang itu, jika umat Islam merasa selalu dipojokkan, dihina ajarannya oleh para buzzer yang tampak kebal hukum.
Bagaimana mungkin umat sudi membantu jika perlakuan terhadap Habib Rizieq Shihab, yang diseret-seret pada masalah hukum yang tampak diada-adakan.
Kasihan juga Bang Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, yang memposting dalam media sosialnya (Facebook, Twitter) ikut menyuarakan perlunya umat berpartisipasi dalam wakaf uang. Bukannya ajakannya disambut, malah yang muncul komen-komen penolakan.
Himbauan Bang Sandi jadi tidak manjur lagi, khususnya dikalangan emak-emak dan muslim perkotaan, yang sebelumnya menjadi basis pemilihnya, saat Pilpres 2019 lalu.
Tampaknya umat sudah tidak lagi melihat Bang Sandi jadi idolah yang diguguh dan ditiru. Umat melihatnya tidak lain sebagai bagian yang sama dari rezim yang tengah mengibah, tanpa perduli ada hak-hak dan martabat umat yang diinjak.
Mestinya sebelum mengibah tunjukkan keberpihakan pada umat itu. Bukan menggebuk dengan diantaranya 6 nyawa laskar ef pe i terbunuh dan lalu menangkap sang Imam. Setelah itu meminta umat membantu rezim dengan wakaf uang.
Tanah kubur terbunuhnya 6 laskar itu belum juga kering, tangis derita keluarga-umat belum juga hilang, dan ef pe i dibubarkan. Lalu secepat kilat umat “dipaksa” melupakan semuanya, membantu rezim mencari uang yang bersumber pada syariah.
Beraroma Fulus
Mendadak syariah jadi pilihan dan harapan. Tapi pada saat yang sama muncul usulan yang akan diundangkan, yaitu eks anggota HTI dilarang ikut Pilpres/Pilkada. Padahal konsepsi HTI ya syariah Islam. Bagaimana mungkin ajaran syariah yang satu ditolak, sedang lainnya (wakaf uang) akan dipakai.
Maka meme “olok-olok” dan cerdas, terus dihadirkan. Mampu memperlihatkan ambiguitas. Satu diantaranya adalah meme kotak amal, dimana di depannya tertulis: Ajaran Islam yang Tidak Radikal adalah: Haji, Wakaf & Kotak Amal.
Muncul pula ungkapan, yang menggelikan dan mengaduk logika: HTI dilarang ikut Pemilu, kalau anggota HTI dan ef pe i ikut Wakaf Syariah apa diperbolehkan? Ada ungkapan menarik dari Bang Fahri Hamzah, melihat itu semua, yang menyatakan dalam Twitternya (27/1), “Agar negara tidak hanya memanfaatkan agama dalam urusan wakaf dan sejenisnya saja, tapi ambillah keseluruhan.”
Sikap ambigu ditampakkan dengan mengambil yang satu, lalu menampik lainnya. Agama tidak dijadikan instrumen utama dalam arus besar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Logis muncul pertanyaan, wakaf uang ini untuk kemaslahatan umat, atau juga untuk pembangunan infrastruktur? Jika wakaf yang memang dari umat, dan dipakai untuk kepentingan umat, maka gerakan wakaf ini perlu didukung sepenuh hati. Tentu umat juga akan memakai parameter lainnya.
Melihat apakah pelaksananya memang pihak yang selama ini concern pada penerapan syariah di negeri ini, atau cuma pihak yang semata mau dengan syariah yang kental akan aromah fulus?
Tampaknya pelaksananya ya orang itu-itu juga. Pantas jika kepercayaan umat menipis, atau bisa dikatakan hilang. Itu tersebab maraknya korupsi dengan kelaliman luar biasa. Bansos untuk orang miskin pun dirampok.
Pesimis melihat gerakan wakaf ini akan menuai sukses, jika pendekatan ambiguitas dipakai sebagai model menggebuk disatu sisi, dan mengibah pada sisi lainnya. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi