Rabu, 13 Mei 2026, pukul : 11:56 WIB
Surabaya
--°C

Taliban: Al-Qaeda Sudah Tidak Ada di Afghanistan

KEMPALAN-KABUL: Departemen Keuangan Amerika Serikat telah mengeluarkan memo yang menyatakan Al-Qaeda “semakin menguat” di Afghanistan di bawah perlindungan Taliban. Namun pernyataan ini dibantah oleh kelompok pihak Taliban, bahwa Al Qaeda sudah tidak ada lagi di Afghanistan.

Adapun Departemen Keuangan juga menyampaikan bahwa, meskipun kesepakatan AS-Taliban sudah ditandatangani Februari tahun lalu yang mana Taliban diminta untuk memotong hubungannya dengan Taliban, kedua kelompok tersebut masih berhubungan.

Menurut Bakhtar News Agency, pernyataan tersebut merupakan jawaban dari Departemen Keuangan terhadap pertanyaan yang disampakaikan Inspektur Jenderal Departemen Keamanan AS berkaitan dengan pendanaan terorisme.

“Semenjak 2020, Al-Qaeda menguat kembali di Afghanistan sementara terus beroperasi dengan Taliban di bawah perlindungannya … Al-Qaeda secara luas masih bergantung kepada donasi yang diberikan oleh para pendukungnya dan para individu yang percaya bahwa uangnya digunakan untuk masalah kemanusiaan atau tujuan amal,” ujar laporan dari Departemen Keuangan.

Namun, Taliban mengklaim bahwa Al-Qaeda tidak ada lagi di Afghanistan dan semua anggota dan petarung non-Afghan dari Taliban telah kembali ke negaranya masing-masing.

“Kami sangat menolak laporan ini. Laporan ini dikumpulkan oleh lingkaran yang berpihak dan para penghasut perang didasarkan pada informasi palsu,” tutur jubir Taliban, Zahibullah Mujahid seperti yang dikutip dalam The News International.

Sudah semenjak 2001 ketika peperangan skala besar terjadi di Afghanistan dan selanjutnya perlawanan mulai terjadi di dunia Arab, dan para anggota Al-Qaeda dan warga asing lainnya yang berada di Afghanistan mulai kembali ke negaranya masing-masing.

“Saat ini, tidak ada anggota al-Qaeda yang berada di Afghanistan dan juga tidak ada kepentingan warga negara asing untuk tinggal di Afghanistan. Sayangnya, beberapa kalangan mencari perpanjangan dari perang yang dipaksakan ini terhadap bangsa Afghanistan untuk mengejar kepentingan dan tujuan jahat mereka, dengan demikian berusaha untuk merusak pikiran dan menciptakan ketakutan yang tidak beralasan dengan propaganda, dan mencari informasi dari individu dan pihak yang menghasut sebelum meneruskannya. ke departemen lain,” jelas Taliban dalam pernyataan itu.

Taliban menekankan pelaksanaan dari perjanjian damai di Doha yang ditandatanganinya bersama As pada 29 Fabruari 2020. Dalam perjanjian itu, Taliban telah berkomitmen untuk memotong segala hubungannya dengan kelompok militan asing dan tidak akan memperbolehkan mereka untuk menjalankan kelompok militan lainnya atau menggunakan Afghanistan untuk kepentingan mereka melawan nagara lainnya, terutama AS dan para sekutunya.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.