MALANG-KEMPALAN: Di sejumlah lokasi di Kota Malang dan sebagian di Kabupaten Malang, saat ini bertebaran spanduk raksasa. Isinya, seruan ajakan untuk menyatukan kembali tim Arema. Ada pula spanduk untuk mencari keberadaan Yayasan Arema.
Semangat dari spanduk itu, terlintas ada keinginan kuat untuk menjadikan Arema hanya satu di Malang. Nampaknya, mereka tidak mau ada Arema A dan Arema B. Cukup satu Arema saja. Itu memang baik. Karena sejak 1987, yang ada memang hanya satu Arema.
Namun keniscayaan sejarah sulit terbantahkan. Bahwa, pada akhirnya di Malang ada dua Arema hingga saat ini (Arema FC dan Arema Indonesia), itu yang harus diterima secara legawa. Bahkan nyaris ada tiga Arema pula.
Adanya dua Arema ini sebenarnya akibat kecelakaan sejarah. Arema menjadi ”korban” dualisme liga di Indonesia sejak Januari 2011.
Ada Indonesia Super League (ISL), ada pula Indonesia Premier League (IPL). Di sinilah sebenarnya pangkal terjadinya dualisme yang tidak saja melanda Arema, tapi juga tim-tim lain. Dualisme ini merembet sampai ke Yayasan Arema kala itu. Kisruh internal di yayasan itulah yang melahirkan ada dua Arema.
Satu bertahan di ISL, satunya menyeberang ke IPL. Sementara peran yayasan kala itu sudah tidak maksimal. Terlebih setelah Pembina Yayasan Arema Darjoto Setiawan menyatakan mundur. Disusul pemblokiran status yayasan oleh Muhammad Nur, selaku ketua yayasan. Cukup ruwet kala itu.
Singkat cerita, dua Arema itu sama-sama membikin PT (Perseroan Terbatas), sebagai salah satu syarat untuk bisa ikut kompetisi. Dan dua-duanya juga sama-sama sah sebagai peserta kompetisi di Liga Indonesia. Hanya levelnya saja yang berbeda.
Pertanyaan yang mengemuka, kemana sekarang yayasan itu? Inilah yang sedang dikejar oleh sejumlah pihak. Karena mereka berharap, jika pengurus yayasan mau turun tangan, dualisme itu akan bisa diakhiri. Tapi apakah sesederhana itu? Rasanya kok tidak semudah mata berkedip. Arema A maupun Arema B, ibaratnya sudah punya rumah tangga masing-masing.
Seperti Anang Hermansyah dan Krisdayanti (KD) yang ketika pisah, ada banyak fans yang ingin mereka bersatu lagi. Tapi apa mau dikata: keduanya telah punya pasangan sendiri-sendiri. Punya kebahagiaan masing-masing. Sehingga sulit disatukan. Kira-kira, begitulah Arema saat ini. Keduanya punya ”rumah tangga” sendiri-sendiri. Untuk disatukan, untuk sementara, terlalu sulit meski ada kemungkinan bisa saja.
Mengacu pada dualisme yang terjadi pada klub lain, salah satunya sengaja ”dimatikan” dengan cara dijual atau diganti dengan nama lain. Tapi, untuk Arema, keduanya bersinergi akan lebih baik. Toh keduanya berlaga di level kompetisi berbeda. Misalkan Arema A menjadi produsen pemain berkualitas untuk disiapkan menjadi pemain utama di Arema B. Atau sebaliknya, pemain terbaik di Arema B, disumbangkan ke Arema A. Sehingga suporter juga tidak perlu bingung.
Dukung keduanya. Toh sama-sama mengharumkan nama Malang di kancah sepak bola nasional. Tapi apapun, kita perlu memberi apresiasi pada pihak yang terus berjuang menyatukan Arema. Bukankah begitu? (Abdul Muntholib, jurnalis dengan IG: abdulmuntholib1406)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi