Sampai Tidur di Lorong
BANJARMASIN – Dari sekian banyak lokasi yang menjadi tempat pengungsian korban banjir di Kota Banjarmasin, Gedung Terminal Tipe B kilometer enam adalah salah satu tempat yang kini berubah wujud menjadi tempat pengungsian.
Sejak Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina mengumumkan bahwa Kota Banjarmasin berstatus tanggap darurat bencana banjir pada 14 Januari lalu, gedung yang menjadi aset Pemerintah Provinsi Kalsel itu pun banyak didatangi warga.
Utamanya, warga yang berada di wilayah Kecamatan Banjarmasin Timur. Salah satunya, Syahril. Kakek 65 tahun itu mengaku sudah lebih dari sepekan ia mengungsi. Memboyong keluarga besarnya. Termasuk empat orang cucu.
Disambangi kemarin (20/1) siang, kakek asal Gang TVRI itu tampak hilir mudik menggendong cucunya. Ia mengaku bersyukur bisa mengungsi.
“Air di jalan gang sudah sampai lebih tinggi daripada pinggang. Kalau di rumah, lebih dari selutut,” ucapnya.
“Alhamdulillah, kalau untuk konsumsi kami di sini tidak pernah kekurangan. Kami ucapkan terima kasih kepada penyalur bantuan. Kalau pun ada keluhan, hanya terkait pelayanan kesehatan saja,” timpalnya, seraya tersenyum.
Dari hasil pantauan Radar Banjarmasin, Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin, kiranya perlu memeriksa secara rutin kesehatan para pengungsi. Bukan tanpa alasan, mengingat tidak sedikit pengungsi yang berada di gedung tersebut.
Saking banyaknya, bahkan ada yang rela tidur di lorong-lorong gedung.
Kepala UPTD Terminal Tipe B Provinsi Kalsel, Rusma Khazairin, mengungkapkan bahwa dari data terakhir yang ia miliki, jumlah pengungsi di situ mencapai sebanyak 105 kepala keluarga. Dengan rincian, ada berjumlah 504 jiwa.
“Wah ini sebenarnya sudah melebihi kapasitas. Makanya ada sebagian yang tidur di lorong. Di gedung cuma ada 107 kios. Besaran kios pun berbeda-beda. Kios yang besar, bahkan diisi oleh dua Kepala Keluarga (KK),” jelasnya.
Rusma mengakui, karena kondisi pengungsian yang sudah berdesakan, protokol kesehatan (Prokes) pencegahan COVID-19 tidak bisa diterapkan dengan baik. Ia pun berharap, Dinas Kesehatan (Dinkes) kota Banjarmasin bisa lebih maksimal memperhatikan kondisi kesehatan warga di pengungsian.
Baik itu mengenai penularan virus maupun penyakit lainnya yang biasa diderita ketika pasca terjadinya banjir.









