Senin, 9 Februari 2026, pukul : 09:47 WIB
Surabaya
--°C

Nyonya Pulung, Mbak Tutut, dan Bu Risma: Kisah Nasi Bungkus

Bu Risma (Tri Rismaharini), Menteri Sosial RI. Menjabat baru sekitar sebulanan. Menggantikan Juliari Batubara, yang kesandung dana Bansos.

Risma tampak suka “disorot” kamera, setidaknya itu kesan yang ada. Maka berita yang muncul adalah berita “tidak biasa”. Misal “pertemuannya” dengan gelandangan di Jalan MH Thamrin, Jakarta.

Menjadi berita, karena baru Bu Risma yang bisa temukan gelandangan di sana. Konon sejak tahun 50-an, sudah tidak lagi bisa ditemukan ada gelandangan di sana.

Maka spekulasi mengatakan, bahwa itu cuma aksi settingan untuk misi lain yang ingin disasarnya. Lalu orang mencoba mengaitkan dengan 2022, Pilgub DKI Jakarta. Atau bahkan “menyasar” Pilpres di 2024.

Meski lalu Bu Risma membantahnya, bahkan di hadapan anggota DPR RI, bahwa itu bukan settingan. Gelandangan yang ditemuainya memang ada di situ. Bahkan ia berani disumpah dengan al-Qur’an, jika itu aksi settingan.

Tapi siapa yang percaya dengan sumpah-sumpah(an) pejabat dengan Kitab Suci itu. Pak Juliari yang digantikannya, saat itu juga disumpah dengan kitab sucinya, Bible.

Kitab Suci bagi pejabat saat ini, kok kurang ngaruh ya. Semacam tradisi saja saat mengawali jabatan, sekadar lip service.

Sumpah itu tidak membekas dalam tugasnya. Ada juga sih, yang pegang komitmen dengan sumpahnya itu, tapi tidak banyak

Ada lagi aksi Bu Risma terbaru yang dipertontonkan, yang lalu jadi “berita”, tepatnya Senin (18/01/2021). Itu saat kunjungan ke Jember. Lagi-lagi aksinya, seolah ingin “disorot” kamera. Dan itu benar.

Bu Risma ikut membantu ibu-ibu yang sedang membungkus nasi, untuk korban terdampak banjir Jember. Bermacam komentar miring muncul melihat aksi “ada-ada” saja itu.

Aksi yang terkesan berlebihan, dan itu tadi, menganggap apa yang dilakukannya akan menuai simpati: Mensos merakyat.

Apa ada yang salah dari aksi yang dilakukan Bu Risma itu? Tentu, tidak. Hanya saja aksi itu terkesan pansos atau pencitraan. Rakyat sudah bosan bahkan “mual” dengan aksi-aksi demikian.

Sudah banyak yang mencontohkan sebelumnya, dan benak rakyat merekamnya dengan baik. Maka, aksi-aksi demikian, kalau boleh menyarankan, sebaiknya tidak dipakai lagi, sudah usang.

Kisah Nasi Bungkus

Pasti tidak banyak yang kenal dengan Nyonya Pulung. Bahkan mungkin baru mendengar namanya, itu wajar. Aksinya yang luar biasa, itu kurang “dilirik” sejarah dengan selayaknya.

Nyonya Pulung dan kisahnya, hadir di zaman kolonialisme, zaman penjajahan Belanda. Dan kisah ini bermula dari desa Jamblang, Cirebon.

Saat melihat para pekerja pabrik gula dan spiritus di daerah Gempol dan Palimanan, kesulitan mencari makanan. Maka Nyonya Pulung hadir membantu.

Ia membuat nasi bungkus dengan lauk sederhana. Dibungkus menggunakan daun jati, yang banyak ditemukan di sana. Lalu nasi itu setiap hari, saat waktu makan siang, diberikan cuma-cuma pada para pekerja itu.

Entah berapa lama Nyonya Pulung melakukan aksinya itu, tidak ada yang tahu. Juga tidak ada yang tahu dari mana uang itu ia peroleh, setiap hari mampu menghidangkan makanan pada para pekerja, setidaknya di dua pabrik itu.

Sejarah tidak menutup mata, bahwa ada perempuan luar biasa di zaman sulit itu, mau berbagi dengan sesama. Maka, tidak perlu mencari tahu, mengapa dan dari mana Nyonya Pulung bisa melakukan itu. Ikhlas, kata kunci untuk bisa melakukannya.

Pada perjalanan waktu, nasi asal desa Jamblang buatan Nyonya Pulung menjadi kesohor. Bukan Nyonya Pulung yang dikenal, tapi asal daerahnya yang dikenal, Jamblang.

Maka Nasi Jamblang ini menjadi kuliner andalan kota Cirebon. Saat ini Nasi Jamblang dihidangkan dengan lauk yang beraneka, mampu mengundang selera. Tersohor hingga nusantara.

Sejarah negeri ini juga mencatat akan satu lagi kisah nasi bungkus yang kesohor, Nasi Bungkus Mbak Tutut (Siti Hardijanti Rukmana), putri sulung daripada Presiden Soeharto. Masih ingat?

Saat itu Mbak Tutut menjadi Menteri Sosial RI, pada Kabinet Pembangunan VII, 1997. Memasuki masa resesi, yang dikenal dengan krisis moneter (krismon).

Saat memasuki krismon 1997, sekitar sebulan Mbak Tutut menjabat selaku Mensos, ia membuat kebijakan membagikan nasi bungkus.

Program yang dicobakan itu, pada awalnya di DKI Jakarta dan sekitarnya. Ia menyebut sebagai jaring pengaman sosial. Itu guna membantu karyawan yang di-PHK, akibat krismon.

Rencananya akan terus digulirkan ke daerah-daerah lain. Di DKI Jakarta, proyek “Nasi Bungkus” itu bekerja sama dengan banyak warung Tegal (warteg). Belum tuntas proyek itu digulirkan lebih luas, keburu Soeharto lengser.Kisah Mbak Tutut, selaku Mensos, juga “tamat”. Menjabat Mensos hanya sekitar 2 bulan 5 hari. Dan warteg-warteg pemasok nasi bungkus itu pun ikut gulung tikar, karena belum sempat dibayar. Tidak ada yang mau tanggung jawab.

Nasi bungkus Mbak Tutut, yang seumur jagung dan yang merugikan para pengusaha warteg itu, dikenang buruk sepanjang masa.Meski demikian, nama Mbak Tutut mengilhami munculnya warung-warung di daerah memakai namanya. Di Malang setidaknya ada dua. Warung “Mbak Tutut”, dan yang lain Warung Kremes “Mbak Tutut”.

Selanjutnya ya aksi Bu Risma di Jember itu, baru sebatas membungkus nasi bungkus. Tapi tidak mustahil akan muncul juga di daerah lain warung memakai namanya. Misal, Warung Nasi Bungkus “Bu Risma”, atau Warung Pecel Asli “Bu Risma”, dan seterusnya.

Nasi Bungkus yang semula dihadirkan Nyonya Pulung dengan ikhlas, itu kemudian dalam perjalanan sejarahnya dipolitisasi, dan mampu berubah wujud menjadi apa saja, sekehendak yang menginginkan.Sejarah Nasi Bungkus negeri ini telah mencatat Aksi Nyonya Pulung, Aksi Mbak Tutut, dan Aksi Bu Risma… dan entah siapa lagi berikutnya… ditulis dengan sebenarnya. Tidak ada yang bisa disembunyikan.*

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.