Dhimam Abror Djuraid
Indonesia tidak pernah bisa lepas dari dunia mistis dan klenik. Hampir tidak ada kegiatan keseharian yang tidak dikaitkan dengan klenik dan mistisisme. Mulai dari aktivitas rutin seperti memulai pekerjaan, sampai urusan politik tingkat tinggi, selalu ada unsur-unsur mistik yang terlibat.
Presiden Jokowi dikenal sebagai pengamal mistisisme yang setia. Demikian pula dengan presiden-presiden sebelumnya seperti SBY, Megawati, Gus Dur, sampai ke Pak Harto dan Bung Karno, semua dikait-kaitkan dengan kekuatan mistis sebagai pemberi legitimasi.
Kepemimpinan modern mendapatkan legitimasi dari rakyat melalui mekanisme demokrasi seperti pemilihan umum dan sejenisnya. Pemimpin tradisional mendaptkan legitimasi dari wangsit atau pun pulung. Untuk menjadi pemimpin seseorang harus punya pulung wahyu kedaton.
Dalam legenda Panembahan Senopati tersebutlah kisah Ki Pemanahan yang secara tidak sengaja meminum pulung dalam buah air kelapa milik sahabatnya, Ki Ageng Giring.
Pulung ada di air buah kelapa yang harus diminum habis sekali teguk. Pemanahan yang sedang mampir ke rumah Ki Ageng Giring tidak sengaja meneguk habis air kelapa yang sengaja disimpan oleh Ki Ageng Giring untuk diminum kalau dia haus supaya bisa menghabiskannya sekali teguk.
Ki Pemanahan yang kebetulan mampir ke rumah Ki Ageng Giring melihat kelapa tergeletak dan langsung menenggak airnya sampai tandas. Akhirnya Ki Pemanahan ketiban rezeki nompok karena mendapatkan pulung gratis yang membuat anak turunnya menjadi penguasa Jawa seperti Panembahan Senopati, Sultan Agung, dan seterusnya.
Dalam tradisi Yunani raja-raja selalu mencari legitimasi dengan menyebut dirinya sebagai anak atau keturunan Dewa Zeus atau dewa-dewa lainnya. Dalam tradisi Mesir kuno juga demikian, malaj Firaun mengaku sebagai tuhan itu sendiri.
Dalam tradisi pewayangan para ksatria dan raja adalah keturunan para dewa, mulai dari dewa angin, dewa laut, dewa matahari, dan dewa-dewa lain.
Tradisi kepemimpinan tradisional Jawa itu sampai sekarang masih tetap dipercaya dalam politik modern Indonesia.
Pemimpin modern Indonesia merasa bahwa selain mendapatkan mandat dari rakyat mereka juga mendapatkan wangsit dan ketiban wahyu kedaton. Karena itu keputusan-keputusan politik yang diambil tidak semuanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional. Ada unsur-unsur irrasional yang justru sering menjadi pertimbangan penting dalam pengambilan keputusan.
Bung Karno dikaitkan dengan Nyi Roro Kidul, penguasa pantai selatan. Di Hotel Indonesia Sukabumi ada satu kamar khusus yang disediakan bagi Bung Karno untuk berkomunikasi dengan Sang Nyai. Ada lukisan besar Nyi Roro Kidul di dinding kamar itu. Suasananya singup dan magis.
Pak Harto punya kekuatan back up spritual dari Bu Tien yang punya trah biru keraton Solo. Konon Bu Tien-lah yang memegang wahyu kedaton.
Habibie tidak bisa lama menjadi presiden karena tidak punya jalur wahyu kedaton. Begitu kata para pemercaya klenik. Apalagi Habibie “gak jowo” bukan orang Jawa, sehingga sulit mendapatkan wangsit wahyu kedaton.
Menurut jangka Jayabaya, penguasa Indonesia dikiaskan dalam sebutan “Notonagoro”. Secara harfiah berarti menata negara. Tapi oleh para pemercaya klenik ditafsirkan sebagai akronim dari nama-nama presiden Indonesia. “No” untuk Sukarno, “To” untuk Suharto, dan seterusnya.
Makanya ketika Gus Dur, Abdurrahman Wahid, jadi presiden para pemercaya klenik jadi bingung karena nama Abdurrahman tidak masuk dalam skema Notonagoro.
Tapi, kata Gus Dur nama Abdurrahman tetap masuk dalam skema Jayabaya, bukan dalam skema Notonagoro tapi “Noto Manconagoro”. Karena itu, setelah Noto (Sukarno dan Suharto) urutan selanjutnya adalah “Man” dan “Co”. Man, tidak ada lain kecuali Abdurrahman alias Gus Dur.
Ini tentu guyonan khas Gus Dur. Mana ada jangka Jayabaya menyebutkan Noto Manconagoro kalau bukan karangan Gus Dur. Ketika ditanya apakah Gus Dur juga dapat wangsit wahyu kedaton, Gus Dur menjawab dia dapat wangsit mi ayam. Gitu saja kok repot.
Bagi Gus Dur yang piawai dan menguasai filosofi kekuasaan Jawa, masalah-masalah mistis dan klenik dihadapi dengan guyonan saja, tidak perlu diseriusi atau dibikin repot.
Tapi bagi sebagian orang lain soal klenik dan mistis ini masalah serius dan tidak boleh dibuat main-main. Jokowi punya hari keramat Rabu yang bertepatan dengan weton, hari kelahirannya. Keputusan-keputusan strategis dilakukan pada hari Rabu dengan mempertimbangkan pertimbangan primbon yang rumit.
Ada ritual seperti memelihara jenis hewan tertentu seperti kodok dan sejenisnya. Ada pantangan-pantangan tertentu seperti tidak boleh berkunjung ke Kediri, atau juga isyarat-isyarat alam tertentu seperti gunung meletus atau sejenisnya.
Para presiden Indonesia semua dikaitkan dengan Gunung Lawu yang membawai wilayah Mataraman. Para presiden disebut sebagai Putra Gunung Lawu. Secara kebetulan semua presiden Indonesia sekarang ini adalah Putra Gunung Lawu. Itulah ilmu gutak-gatuk matuk. Diutak-atik sehingga jadi cocok.
Budayawan dan wartawan senior Mochtar Lubis sebal dengan fenomena klenik ini. Ia menyebut percaya kepada klenik ini sebagai ciri khas bangsa Indonesia yang negatif dan memalukan.
Klenik tetap menjadi bagian dari budaya politik Indonesia. Setiap kali ada perhelatan politik peran penasihat spritual selalu penting, entah dia dukun, kiai, ustad, atau lainnya.
Dukun politik pun laris manis. Mereka dibayar mahal dan nasihatnya dituruti. Mereka juga dibayar mahal dan kadang semahal konsultan politik profesional.
Tak ayal dukun politik menjadi profesi yang menjanjikan, dan dukun-dukun politik bermunculan dari generasi ke generasi. Ada Ki Gendeng Pamungkas yang dikenal sebagai raja santet, ada Joko Bodo, ada Mami Lauren, dan banyak lagi.
Yang mutakhir muncul Mbak You yang sekarang lagi viral. Ia meramal bahwa awal 2021 banyak bencana, banjir, gempa, dan gunung meletus. Akan banyak kasus-kasus besar yang menimpa pejabat tinggi, dan ada pemimpin tertinggi yang bakal lengser.
Ramalan Mbak You soal banyaknya banjir dan bencana memang terbukti karena sekarang kebetulan sedang musimnya. Tanpa jadi dukun pun orang tahu bahwa Desember sampai Januari banyak banjir dan gempa.
Yang jadi persoalan adalah si Mbak You meramal bahwa ada pemimpin yang tahun ini bakal lengser, dan dia adalah Jokowi.
Kontan Mbak You dibully habis oleh para pendukung Jokowi. Bukan sekadar dibully, Si Mbak You juga dilaporkan ke polisi. Akhirnya Mbak You pun harus merevisi ramalannya.
Namanya juga ramalan dukun, harusnya tidak perlu ditanggapi serius. Tapi itulah yang terjadi sekarang ini. Orang mimpi bertemu Nabi Muhammad pun dilaporkan polisi. Orang guyon soal polisi tidur diperiksa polisi. Sekarang dukun pun dilaporkan ke polisi.
Namanya juga ramalan. Sama saja dengan predikisi. Pilahannya hanya dua, salah atau benar. Seperti kata pepatah Inggris “Prediction is always almost right or almost wrong”, kalau tidak “hampir salah” pasti “hampir benar”. Gitu saja kok repot (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi