Minggu, 21 Juni 2026, pukul : 00:47 WIB
Surabaya
--°C

Saat Kasus Pak Eko Disoal Publik

AKBP (Purn) Eko Setia Budi Wahono disorot publik. Ia bermobil Pajero menabrak motor Muhammad Hasya Attalah Syaputra (18) hingga tewas. Polisi malah menetapkan almarhum Hasya sebagai tersangka. Diprotes banyak pihak.

***

KEMPALAN: KETUA Badan Eksekutif Mahasiswa, Universitas Indonesia (BEM UI) Melki Sadek kepada pers, Sabtu, (28/1), mengatakan:

“Kami jelas mengecam penetapan tersangka untuk almarhum Hasya, teman kami sesama mahasiswa UI (Universitas Indonesia) yang jadi korban. Bagi kami, fenomena ini seperti Sambo jilid dua.”

Dilanjut: “Kepolisian semakin hari semakin beringas dan keji, kita lagi-lagi dipertontonkan dengan aparat kepolisian yang hobi memutarbalikkan fakta dan menggunakan proses hukum untuk jadi tameng kejahatan.”

Lain lagi, Ketua Indonesia Police Watch, Sugeng Teguh Santoso kepada pers, Sabtu (28/1) mengatakan:

“IPW prihatin dengan korban mahasiswa Fisip UI semester pertama Hasya. Ia menjadi double victim. Setelah mati malah dilabel tersangka pula. Hanya sekadar memberi rasa aman mantap pada purnawirawan Polri pangkat AKBP agar tidak dituntut.”

Lain pula, Anggota Komisi III DPR RI (bidang Kamtibmas), Habiburokhman kepada pers, Minggu (29/1) mengatakan:

“Kami juga mempertanyakan hal ini. Apa urgensinya penetapan tersangka terhadap almarhum Hasya?”

Lain instansi, Kompolnas yang diketuai Menko Polhukam, Prof Mahfud MD, akan klarifikasi ke Polda Metro Jaya soal ini. Dikatakan Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti kepada pers, Sabtu (28/1) begini:

“Kasus ini menjadi perhatian publik sejak awal terjadi hingga kemarin diumumkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan). Kompolnas segera melakukan klarifikasi ke Polda Metro Jaya terkait kasus ini. Polisi jangan berpihak.”

Masih ada beberapa individu tokoh menyatakan heran, bahwa orang sudah tewas (Muhammad Hasya) malah jadi tersangka. Antara lain, politikus Partai Gerindra, Fadli Zon.

Perkaranya sederhana. Kecelakaan lalu lintas biasa. Kejadian sudah hampir empat bulan.

6 Oktober 2022 malam, di Jalan Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Berjarak sekitar 500 meter dari Kampus UI. Situasi hujan gerimis. Jalanan becek.

Hasya keluar dari kampus UI naik motor sendirian dari selatan ke utara. Pak Eko dengan mobil Pajero datang dari arah sebaliknya. Mereka bertabrakan. Tubuh Hasyah jatuh ke kanan, dilindas mobil Pajero Eko.

Warga mengangkut tubuh Hasya ke pinggir jalan. Mobil Eko berhenti. Lalu teman-teman Hasya sesama mahasiswa UI naik motor lewat situ juga, berhenti, menjenguk Hasya. Katanya, saat itu masih hidup. Mengerang kesakitan.

Para mahasiswa UI teman Hasya meminta Eko mengangkut Hasya ke rumah sakit. Butuh cepat. Tapi, kata ayah Hasya, Adi Syahputra yang mendapat laporan dari teman-teman Hasya, mengatakan, Eko menolak mengangkut tubuh Hasya. “Tubuh anak saya dibiarkan saja di pinggir jalan. Tapi pelaku tidaklari, tetap di situ, katanya.

Sekitar setengah jam kemudian, atas usaha teman-teman Hasya, dapat kendaraan mengangkut Hasya ke rumah sakit. Setelah tiba di RS, diperiksa dokter, Hasya dinyatakan meninggal. Death on arrival.

Ketika Hasya di rumah sakit. Eko juga ada di sana. Menunggui. Tidak lari. Sampai ia ketemu ayah Hasya, Adi Syahputra di RS.

Perkara ini diusut polisi. Makan waktu lama. Karena tak ada saksi mata. Waktu itu di TKP hujan gerimis terus-menerus. Polisi mendamaikan keluarga korban dengan pelaku. Tapi tidak bisa damai.

Eko sempat dikenakan wajib lapor ke Polda Metro setiap Kamis. Gelar perkara sampai empat kali. Sampai tahun berganti.

Akhirnya, Jumat, 27 Januari 2023 Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Kombes Latif Usman mengatakan, korban lalai, sehingga tewas tertabrak mobil Mitsubishi Pajero milik pensiunan Polri, Eko.

“Menetapkan, Muhammad Hasya Attalah Syaputra sebagai tersangka,” katanya. Saat itu juga diterbitkan SP3. Atau perkara dihentikan.

Kemudian heboh.

Pencarian di Google tentang sosok Eko sangat gencar. Tapi, tidak banyak datanya. Sebab, Eko jarang diliput media massa. Hanya disebutkan, Eko saat berpangkat Kompol, jadi Kapolsek Cilincing pada 2021. Lalu, dimutasi menjadi Wakil Kepala Satuan Binmas, Polres Jakarta Barat dan berpangkat AKBP. Setelah itu pensiun.

Sedangkan Hasya, mahasiswa semester awal FISIP UI. Ia dikenal jago olahraga Taekwondo.

Belum jelas, apakah perkara yang sudah di-SP3 ini bisa dibuka lagi, akibat banyaknya keberatan dari beberapa lembaga? Dari beberapa lembaga itu yang paling ‘berat’ adalah Kompolnas pimpinan Prof Mahfud MD.

Merujuk pernyataan IPW: “Double Victim”, atau orang yang sudah jadi korban, dan tewas, lantas dijadikan tersangka juga, dalam kriminologi ada teorinya. Disebut The Victim Blaming Theory.

Teori tentang korban pelanggaran pidana, tidak banyak. Mayoritas teori kriminologi menyoroti pelaku tindak pidana.

Di antara pencetus The Victim Blaming Theory, adalah Prof Melvin J. Lerner. Ia guru besar psikologi sosial di University of Waterloo, Ontario, Kanada (1970-1994). Kini ia guru besar tamu di Florida Atlantic University di Florida, AS.

Prof Lerner dalam bukunya bertajuk: “The Belief in a Just World: A Fundamental Delusion” (New York, Plenum Press, 1980) menyebutkan, The Victim Blaming Theory menggambarkan praktik meminta korban ikut bertanggung jawab atas ketidakberuntungan mereka.

Ini mewakili kesalahan individu yang telah menanggung penderitaan, kesulitan, atau kemalangan lainnya dengan sebagian atau seluruh tanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Dalam bahasa kita sehari-hari disebut: Sudah jatuh, ketimpa tangga.

Teori ini mengandalkan premis, bahwa individu harus mengenali bahaya yang ada di masyarakat. Maka, setiap individu harus mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk mempertahankan tingkat keamanan dirinya sendiri.

Mereka yang tidak mengambil tindakan pencegahan seperti itu, dianggap tercela atas kematian mereka. Meskipun sudah bertindak hati-hati.

Frasa ‘hati-hati’ di sini terkait, atau punya hubungan kausalitas, dengan frasa ‘harus mengenali bahaya yang ada di masyarakat’. Contoh: Jangan dekat-dekat orang mabuk, karena bahaya. Meskipun dilakukan dengan hati-hati.

Prof Lerner kelihatan seolah membela pelaku tindak pidana, atau menyalahkan korban di bukunya tersebut. Padahal sebenarnya tidak. Karena, kalimat berikutnya dituliskan, begini:

“Persepsi ini pada dasarnya menggeser kesalahan, dari pelaku kejahatan ke korban.”

Mak jleb… di kalimat terakhir Lerner.

Para ilmuwan kriminologi-psikologi di Amerika mengakui, bahwa Lerner pelopor teori “The Belief in a Just World”. Atau “Keyakinan pada Dunia yang Adil”.

Sebab, Lerner menyebut kata tersebut, pada jauh sebelum buku di atas diterbitkan. Teori “Dunia yang Adil” dicetuskan Lerner pada 1965 melalui karya ilmiah psikologi sosial.

Inti “Dunia yang Adil”, ya itu tadi: Semua orang harus mengenali bahaya di masyarakat. Maka, jangan mendekati bahaya tersebut. Jika teori ini dilanggar, maka bisa ketimpa sial. Dalam bahasa Lerner: “…. menggeser kesalahan, dari pelaku kejahatan ke korban.”

Di kasus kecelakaan yang menewaskan Hasya, unsur bahaya itu ada di hujan gerimis dan jalanan becek. Pastinya kondisi jalan licin buat roda motor.

Menyitir teori Lerner, semua pengguna jalan harus paham, bahaya mengintai di jalan licin. Meskipun dilalui dengan hati-hati.

Dalam kasus ini, tinggal dihitung, berapa kecepatan motor Hasya dan mobil Eko? Adakah pengereman dari kedua belah pihak? Yang ternyata juga sangat sulit dikalkulasi. Karena, di jalanan becek tidak dapat diinvestigasi tingkat pengereman secara akurat, dari serpihan karet ban pada aspal.

Akibatnya, menurut teori Lerner, bisa dengan gampang kesalahan bergeser dari pelaku kepada korban.

Di sisi lain, dalam budaya masyarakat kita berlaku anggapan publik, begini: Pejalan kaki ditabrak sepeda, maka sepeda yang salah. Pesepeda ditabrak pemotor, motor yang salah. Pemotor ditabrak pemobil, mobil yang salah.

Akibatnya, keputusan Polda Metro Jaya membikin Hasya tersangka, adalah mengherankan. Kontradiktif budaya. Apalagi, tanpa saksi mata.

Betapa pun, pernyataan Ketua BEM UI: “…. fenomena Sambo jilid dua”, tentu tidak relevan. Tidak terkait langsung. Itu cuma persepsi kritis. Harus diabaikan publik. (*)

Editor: DAD

Mantan Wali Kota Kok Rampok Wali Kota

Tersangka rampok terkeren di Jatim, mungkin Samanhudi Anwar, eks Wali Kota Blitar. Ia ditangkap polisi sebagai otak perampokan rumah dinas Wali Kota Blitar Santoso, yang dulu wakil Samanhudi. Apakah motif dendam?

***

KEMPALAN: DUGAAN bahwa Samanhudi dendam pada Santoso, sebab, Samanhudi eks narapidana korupsi. Pada saat ia bebas hukuman dari LP Sragen, Senin, 10 Oktober 2022, ia kepada wartawan, menyatakan akan membalas dendam.

Waktu itu, pada hari pembebasan hukuman Samanhudi, wartawan menjenguk di rumahnya di Jalan Kelud, Kota Blitar, Senin, 10 Oktober 2022 sore. Ia berkata begini:

“Saya akan terjun ke politik lagi. Karena saya dizalimi oleh politik. Saya akan balas dendam.”

Ditanya, mengapa masih ambisi berkuasa? Dijawab Samanhudi: “Saya sering dapat sambatan (curhat) dari warga. Itu akan saya perjuangkan. Khususnya kaum kawula alit (rakyat kecil).”

Tapi, ia tak mau menyebut, kepada siapa dendam akan dialamatkan. Dan, mengapa dendam? Ia hanya mengatakan, dizalimi seseorang.

Nama lengkapnya Muhammad Samanhudi Anwar. Dulu, ia tergolong tokoh di Blitar. Lahir di Blitar, 8 Oktober 1957. Ketua PDIP Blitar. Lalu jadi Ketua DPRD Kota Blitar.

Di Pilkada, ia terpilih jadi Wali Kota Blitar sejak 3 Agustus 2010, menggantikan Djarot Saiful Hidayat yang diajak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) jadi Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Samanhudi usai masa jabatan, terpilih lagi jadi Wali Kota Blitar. Jika semula wakil Wali Kota, Purnawan Buchori, pada periode ke dua ia pilih wakil Santoso (Wali Kota Blitar sekarang).

Jabatan Samanhudi sebagai Wali Kota Blitar diakhiri mendadak pada 6 Juni 2018. Karena terbukti korupsi. Rinciannya begini:

Rabu, 6 Juni 2018 malam, Tim KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di Blitar. Pihak kontraktor pembangunan Gedung SMP Negeri 3 Blitar menyuap Wali Kota Blitar Samanhudi dan Bupati Tulungagung, Syahrir Mulyono.

Malam itu KPK menangkap tangan lima orang. Dari pihak swasta: Susilo Prabowo beserta istri Andriani, Bambang Purnomo, Agung Prayito dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Tulungagung Sutrisno.

Penyidik KPK mendapatkan informasi penyerahan uang Rp 1 miliar dari dari Susilo Prabowo kepada Agung Prayitno melalui Andriani di kediamannya di Blitar. Informasi tersebut terbukti benar. Lima orang itu langsung ditangkap, jadi tersangka korupsi. Bersama uang Rp 1 miliar cash di dalam kardus.

Dari OTT tersebut, KPK segera menyelidiki. Dan, langsung diumumkan bahwa Wali Kota Blitar, Samanhudi dan Bupati Tulungagung, Syahrir Mulyono, tersangka korupsi. Mereka dinyatakan buron.

Dua hari kemudian Samanhudi menyerahkan diri ke Kantor KPK di Jakarta. Ia langsung ditahan sebagai tersangka korupsi. Hasil penyidikan, ia terima suap Rp 1,5 miliar.

Itu terbukti dalam sidang. Sah. Samanhudi divonis hukuman lima tahun penjara. Ia banding, lalu kasasi ke Mahkamah Agung, tapi hukumannya tetap segitu. Malah ditambah hukuman: Pencabutan hak politik.

Terakhir ia menjalani hukuman di penjara (LP) Sragen. Sampai bebas hukuman pada Senin, 10 Oktober 2022. Dan, ia mengucapkan, akan balas dendam itu.

Perampokan Rumah Dinas Wali Kota Blitar

Senin, 12 Desember 2022 dini hari di rumah dinas Wali Kota Blitar Santoso. Di Jalan Sudanco Supriyadi, Sananwetan, Kota Blitar.

Waktu itu, rumah dihuni lima orang: Santoso dan isteri, Feti Wulandari. Serta tiga pria anggota Satpol PP Kota Blitar selaku penjaga rumah.

Rumah itu dirampok lima pria: 1) Mujiadi (54) kelahiran Pronojiwo, Lumajang, yang tinggal di Bekasi Utara, Jawa Barat. Ia otak sekaligus koordinator perampokan.

2) Asmuri (54) warga Bandar Lampung. Perannya, mengikat tangan dan kaki salah satu petugas Satpol PP yang berjaga di pos. Diikat pakai tali dan borgol serta menutup mata dan mulutnya menggunakan lakban hitam.

3) Ali Jayadi (57) warga Jombang, Jatim. Peran, mengikat tangan dan kaki salah satu petugas Satpol PP di pos, menggunakan tali dan borgol serta menutup mata dan mulutnya menggunakan lakban hitam.

4) Medy Afriyanto, kelahiran Tanjung Raja, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, 27 Mei 1989. Tempat tinggal di Jakarta Selatan.

5) Okky Suryadi, lahir di Batang, Jateng, 29 Oktober 1985. Mukim di Gedangan RT 1 RW 6 Kelurahan Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kota Semarang, Jateng.

Lima orang ini menyatu, karena pernah sama-sama penghuni penjara di Jawa Tengah. Selama di penjara, mereka sepakat berkomplot untuk merampok, setelah bebas kelak. Tapi, belum ada target rampokan.

Penyidik menyatakan, Samanhudi ketemu dengan beberapa dari lima tersangka perampok itu, saat mereka dipindah ke penjara Sragen, tempat Samanhudi menjalani hukuman. Di situ keterkaitan Samanhudi dengan tersangka perampok.

Perampokan itu sukses. Barang yang diambil aneka perhiasan emas. Dan, uang tunai Rp 750 juta. Artinya, Wali Kota Blitar , Santoso menyimpan uang tunai Rp 70 juta dalam kardus di atas lemari.

Uang itu terpaksa diserahkan Santoso, karena perampok mengancam akan memperkosa Feti Wulandari, yang sudah diikat tangan dan kaki di ranjang, di kamar rumah dinas tersebut.

Perampok kabur sekitar pukul 03.00, setelah sekitar setengah jam mengobrak-abrik rumah tersebut.

Polisi ternyata kesulitan mengidentifikasi pelaku. Meskipun sudah ada rekaman CCTV, dan para perampoknya kelihatan jelas saat masuk dan keluar rumah dengan mobil Toyota Innova hitam berpelat merah, yang kemudian plat itu terbukti palsu.

Kapolres Blitar Kota, AKBP Argowiyono kepada pers, Selasa, 13 Desember 2022 mengatakan, pagi itu juga polisi sudah mendapat rekaman CCTV.

Katanya: “Sebenarnya kami sudah mendapat video itu di hari pertama perampokan Rumah Dinas Wali Kota Blitar.” Tapi kualitas rekaman buruk, buram. Sehingga lima orang pelaku itu tak teridentifikasi.

Satu-satunya pengungkap perampokan adalah tali yang digunakan mengikat para korban. Tali tambang itu diuji di laboratorium forensik Polda Jatim. Di situ ditemukan DNA terduga perampok. Dari situlah diketahui identitas perampok.

Direktur Reserse Kriminal Umum, Polda Jatim, Kombes Totok Suharyanto kepada pers mengatakan, polisi menggunakan metode Scientific Crime Investigation.

Dalam teori SCI, semua orang meninggalkan jejak, setelah ia berada di suatu tempat. Bisa jejak rambut, serpihan sangat kecil kulit tubuh, air liur, atau apa pun bagian tubuh, yang semua itu disebut DNA (Deoxyribo Nucleic Acid).

Juga meninggalkan jejak tanah pada alas sepatu, bahkan serat kain pada pakaian pelaku. Semua ini dianalisis di laboratorium forensik.

Intinya, komplotan perampok itu ditangkap Kamis, 12 Januari 2023.Atau persis sebulan sejak perampokan. Pelaku yang ditangkap tiga: Mujiadi, Asmuri dan Ali Jayadi. Dua lainnya masih buron.

Para pelaku diperiksa intensif. Akhirnya mereka ‘menggigit’ eks Wali Kota Blitar, Samanhudi. Ternyata, berdasar keterangan tersangka kepada polisi, Samanhudi berperan besar. Ia yang mengarahkan perampokan agar ke rumah dinas Wali Kota Blitar.

Pastinya, Samanhudi sudah hafal luar kepala situasi dan kondisi di dalam rumah dinas itu. Sebab, dulu ia menghuni rumah dinas tersebut, ketika ia masih menjabat Wali Kota Blitar.

Penyidik menjelaskan, Samanhudi kepada para pelaku perampok memberikan rincian bagian dalam rumah, sekaligus waktu yang cocok untuk merampok. Sebab, tidak setiap hari wali kota tidur di rumah itu.

Samanhudi ditangkap polisi pada Jumat, 28 Januari 2023 dini hari, di rumahnya. Tanpa perlawanan. Langsung ditetapkan sebagai tersangka. Dibawa polisi dari Blitar menuju Polda Jatim di Surabaya, lalu ditahan.

Polisi masih mendalami peran serta motif Samanhudi yang diduga jadi otak perampokan. Apakah benar, karena dendam?

Dari kronologi di atas, kelihatan karakter Samanhudi, sebagai bekas pemimpin daerah. Semangatnya menggebu. Membela ‘kawula alit’. Sampai ia mendapat sambatan atau curhatan warga. Ia ingin membela rakyat kecil, dalam kata-katanya.

Bahkan, ia sudah bekas narapidana korupsi pun, ia masih bakal berjuang jadi kepala daerah lagi. Semangat luar biasa. Sebagaimana semangat para calon pemimpin di Pemilu 2024 nanti: Demi rakyat… (*)

Editor: DAD

Proses Hana Lolos dari Pembunuhan Serial Killer

Lolos dari pembunuhan serial killer Bekasi, Hana bersaksi di Polda Metro Jaya, Kamis, 26 Januari 2023. Dia ditipu Rp 75 juta oleh Wowon Cs. Ketika protes, dia akan dibunuh, tapi batal gegara hujan deras.

***

HANA salah satu saksi penting di perkara serial killer Wowon Cs. Para terdakwa, Wowon, Solihin, Dede, sudah menyiapkan pembunuhan Hana. Tapi gagal.

Seperti diberitakan peran tiga tersangka: Wowon marketing dukun pengganda uang. Solihin eksekutor pembunuh pasien yang protes. Dede penerima pembayaran.

Ada yang transfer bank ke rekening Dede, ada yang melalui Western Union, karena klien TKW di luar negeri. Pencairan oleh tersangka di Kantor Pos.

Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Indrawienny Panjiyoga kepada wartawan, Kamis (26/1) menjelaskan isi kesaksian Hana. Identitas Hana tidak diungkap detil, demi keamanan

Dipaparkan, Hana warga Cianjur, mantan TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Arab Saudi. Dia salah satu pasien trio dukun Wowon, Solihin, Dede. Polisi menyebutnya sebagai korban ke-10 pembunuhan, tapi gagal dibunuh.

Selama bekerja di Saudi, Hana dua tahun rutin mentransfer gajinya ke rekening Dede. Total Rp 75 juta. Untuk digandakan. Karena Hana mendapat info dari teman-temannya, bahwa Wowon Cs bisa menggandakan uang sepuluh kali lipat.

Ternyata itu penipuan. Wowon CS cuma janji-janji kosong. Pertengahan Desember 2022 Hana pulang ke Indonesia. Ke kampungnya di Cianjur. Lalu mendatangi rumah Dede di Cianjur. Hana protes.

Panjiyoga: “Saksi Hana menuntut mengenai hasil penggandaan uang ke rumah Dede di Cianjur. Namun pada saat itu tidak ada kepastian. Sehingga kemudian Hana kembali pulang.”

Dua hari kemudian Hana terima SMS dari Dede. Isinya, penggandaan uang Hana sudah sukses. Uang Hana dismpan Solihin. Hana diminta datang lagi ke rumah Dede, untuk kemudian diantar Dede ke rumah Solihin. Mengambil duit.

Ditentukan Dede, Hana diminta datang pada 28 atau 29 Desember 2022. Jangan sampai telat. Duitnya sudah siap.

Sebernarnya, seperti dituturkan penyidik hasil interogasi para tersangka, undangan kepada Hana itu undangan kematian. Solihin berperan sebagai eksekutor. Dan, para tersangka sudah menyiapkan skema pembunuhan.

Tak disangka, di dua hari itu Cianjur diguyur hujan lebat. Pastinya, Hana sudah siap berangkat ke rumah Dede. Dia membayangkan, duitnya digandakan jadi Rp 750 juta. Tapi hujan menggagalkan niatnya.

Esoknya, dan esoknya lagi, Hana ada urusan. Tidak sempat ke rumah Dede.

Hana mendatangi rumah Dede pada Minggu, 8 Januari 2023.

Ternyata Dede tidak di rumah. Kata orang di rumah itu, Dede sudah sepekan tidak pulang. Katanya, berada di Bantargebang, Bekasi. Maka, Hana pulang tangan hampa.

Belakangan diketahui, pada 8 Januari 2023 Dede berada di Ciketing Udik, Bantargebang, Bekasi. Dia di sana bersama Wowon dan Solihin, menyiapkan pembunuhan dengan cara diracun terhadap Ai Maemunah, istri ke-6 Wowon.

Maemunah, waktu itu, akan dibunuh bersama tiga anaknyi: Ridwan Abdul Muiz (18) dan Muhamad Ruswandi (15) anak Maemunah dari suami terdahulu bernama Didin. Dan, Neng Ayu (5) anak Maemunah dengan Wowon.

Neng Ayu selamat, karena hanya minum sececap kopi pestisida. Tiga lainnya tewas.

Panjiyoga: “Diketahui dari keterangan Dede, bahwa terkait kedatangan Hana pada 28-29 Desember 2022 itu adalah rencananya akan dieksekusi oleh Solihin alias Duloh.”

Lantas, bagaimana Hana bisa percaya mentransfer uang Rp 75 juta selama dua tahun?

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko kepada wartawan, Rabu (25/1) menjelaskan, Wowon jago tipu. Ia melakukan semacam sulapan di depan calon klien, agar percaya.

Caranya, disiapkan tim dukun itu menyiapkan amplop. Lalu, calon klien disuruh memasukkan uang, Rp 10.000 ke amplop. Kemudian, setelah bergaya dukun melakukan ini-itu, amplop dibuka: Isinya Rp 100.000.

Trunoyudo: “Jadi, tersangka memang meyakinkan korban sehingga mau menyerahkan barang atau uang. Serangkaian penipuan dan kebohongannya direkeyasa sedemikian rupa. Tersangka mencontohkan menggandakan uang dari jumlah sepuluh ribu menjadi seratus ribu dalam amplop.”

Setelah satu-dua orang percaya, cerita itu lantas menyebar. Sehingga trio dukun ini terkenal sebagai pengganda uang. Sasaran mereka adalah para TKW.

Hana mengetahui trio dukun Wowon Cs dari temannya sesama TKW bernama Siti (sudah dibunuh Wowon Cs dengan cara diceburkan ke laut).

Kalau pasien protes karena pasti penggandaan uang gagal, maka dibunuh.

Korban TKW yang sudah protes dan dibunuh ada dua: Siti dan Parida. Siti diceburkan ke laut di Bali (bukan di Surabaya seperti ditulis sebelumnya). Parida dibunuh di Cianjur.

Tapi, korban penipuan para tersangka, ada belasan TKW. Polisi masih menyidik lebih dalam.

Trunoyudo: “Empat orang korban, semuanya TKW bisa kita hubungi di luar negeri. Kemudian beberapa orang sudah kembali ke Indonesia dan akan segera ke Polda Metro Jaya tiga orang. Sisanya kami cari, kami hubungi keluarganya untuk mencari keberadaan korban penipuan ini.”

Hana ketika berada di Polda Metro Jaya, tidak sempat diwawancarai wartawan. Mungkin dia trauma, karena nyaris dibunuh. Pastinya dia bersyukur.

Korban selamat dari serial killer, suatu keajaiban. Tentu, dia belum saatnya mati.

Howard G. Chua-Eoan dalam tulisannya bertajuk: “Top 25 Crimes of the Century: Richard Speck, 1966”. Dimuat Time, 15 Januari 2010, mengisahkan, perawat asal Filipina di Chicago, Amerika Serikat (AS), bernama Corazon Amurao (waktu itu usia 24) selamat dari serial killer, Richard Benjamin Speck.

14 Juli 1966 malam, di asrama perawat yang bekerja di South Chicago Community Hospital, AS, Speck masuk sendirian. Ia membawa pistol dan pisau daging yang diselipkan di balik jaket. Niatnya sudah jahat.

Asrama itu dihuni delapan perawat wanita. Tapi, malam itu ada seorang tamu perawat wanita juga, yang main ke asrama tersebut.

Begitu Speck masuk, langsung menyergap, menembak, membacok para perawat di sana. Salah satunya diperkosa dulu, sebelum dibantai, mati.

Para korban tidak bisa lolos, karena gerbang asrama sudah ditutup Speck. Semua korban terjebak.

Asrama itu banjir darah. Semua penghuninya tewas. Kecuali Corazon Amurao, yang sembunyi di bawah ranjang. Digambarkan, Amurao sekuat tenaga menahan tidak menjerit, saat Speck membantai delapan teman Amurao di sekitar ranjang.

Akhirnya kondisi sepi, semua korban mati, Speck menghitung para korban. Benar, ada delapan. Ia sudah tahu, asrama tersebut dihuni delapan perawat. Setelah puas mengamati korban tewas, ia keluar meninggalkan asrama.

Corazon Amurao, bagai dapat nyawa cadangan, keluar dari asrama esoknya 15 Juli 1966 pukul 06.00. Dia langsung lapor polisi. Segera polisi datangi TKP. Wartawan bergerombol.

Peristiwa itu menghebohkan Amerika. Bahkan, sampai puluhan tahun kemudian masih digunjing orang Amerika. Masih diberitakan Times, Kamis, 1 Maret 2007 (49 tahun kemudian) dengan tajuk: “Crimes of the Century”

Pelaku adalah Richard Speck, saat itu usia 24 tahun. Gelandangan yang lahir di Illinois, dibesarkan di Texas, mengembara dari kejahatan kecil ke kejahatan kecil dan dari bar ke bar.

Di usia 19, ia bertato bertuliskan “Born to Raise Hell” di lengan. Semua korbannya dipuji sebagai orang suci, orang yang telah mengabdikan hidup mereka untuk membantu orang lain.

Speck ditangkap polisi berkat laporan Corazon Amurao. Di persidangan, Juri memutuskan Speck bersalah. Hakim menjatuhkan vonis hukuman mati di kursi listrik.

Ketika Speck masih dipenjara, menunggu eksekusi mati, pada 1972 Mahkamah Agung AS menyatakan, hukuman mati tidak konstitusional. Lalu hukuman mati dihapus.

Bagaimana dengan Speck? Hakim mengubah hukuman mati jadi hukuman penjara 400 tahun, tanpa pembebasan bersyarat. Artinya, ia akan dipenjara sampai mati.

Speck meninggal di penjara pada 1991.

Tidak ada keluarga yang mengklaim jasad Speck. Akhirnya oleh negara jasadnya dibakar. Abunya ditebarkan begitu saja di dekat penjara.

Tentu, Hana beda dengan Amurao. Tapi mereka sama-sama nyaris mati dibunuh serial killer.

Polda Metro Jaya kini masih terus berusaha mengungkap serial killer Bekasi, dengan menghubungi para korban penipuan. Bisa jadi, masih ada calon korban mati seperti Hana. (*)

Editor: DAD

Mandi Lumpur Rp 2 Juta per 30 Menit

Nenek Sari (55) mandi lumpur di TikTok. Heboh. Mensos Tri Rismaharini menerbitkan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2023 melarang itu. Kabareskrim Polri, Komjen Agus Andrianto perintahkan, itu segera ditindak.

***

KEMPALAN: DITINDAK saja, jangan ragu-ragu,” kata Komjen Agus Andrianto kepada pers Rabu, 25 Januari 2023, menirukan instruksinya kepada anak buah.

Instruksi kepada Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen Adi Vivid Agustiari Bachtiar.

Komjen Agus: “Saya sudah minta Pak Dirsiber untuk terus memonitor mana yang kira-kira meresahkan masyarakat, mencederai rasa keadilan masyarakat, ditindak saja, jangan ragu.”

Mengapa ditindak? “Karena berpotensi meresahkan masyarakat,” kata Agus.

Ia tak menyebut mandi lumpur sebagai tindakan pengemis. Melanggar hukum. Diatur di Pasal 504 KUHP, Ayat 1, berbunyi:

“Barang siapa mengemis di muka umum, diancam karena melakukan pengemisan dengan pidana kurungan paling lama enam minggu.”

Meskipun, nenek mandi lumpur bisa digolongkan mengemis. Karena ada tendensi, berharap dapat pemberian atau sumbangan masyarakat.

Terbukti, Nenek Sari mengakui dapat sumbangan masyarakat. Sekali tayang live TikTok mandi lumpur setengah jam, dia dapat sekitar Rp 1 juta. Sudah dilakukan sembilan kali.

Nenek Sari kepada wartawan: “Kami cepat dapat uang. Daripada nyangkul di sawah, nyabit di sawah. Kami di sini cuma mandi-mandi dapat uang. Saya sudah dapat Rp 9 juta lebih, sembilan hari.”

Sedangkan, Mensos Tri Risma menerbitkan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2023 tentang penertiban kegiatan eksploitasi dan/atau kegiatan mengemis yang memanfaatkan lanjut usia, anak, penyandang disabilitas, dan/atau kelompok rentan lainnya. SE ditandatangani Risma, Senin 16 Januari 2023.

Bunyinya: “Para gubernur dan bupati/wali kota di seluruh Indonesia, diimbau untuk mencegah adanya kegiatan mengemis, baik yang dilakukan secara offline maupun online di media sosial yang mengeksploitasi para lanjut usia, anak, penyandang disabilitas, dan/atau kelompok rentan lainnya.”

Fenomena apa pula ini? Sembilan hari mandi lumpur dapat Rp 9 juta. Bukankah, kuli bangunan, tukang batu, tukang ojek, tukang buah, buruh pabrik, bisa alih kerja, ganti mandi comberan?

Sari, warga Desa Setanggor, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, sudah diperiksa polisi. Hasilnya, dinilai tidak ada pelanggaran pidana. Sari dilepaskan. Tapi dilarang mengulangi lagi.

Semula polisi mengira, Sari dieksploitasi. Ternyata jawab Sari ke polisi, enteng saja: “Tidak pak polisi. Saya tidak dipaksa. Saya malah senang, sehari dapat sejuta.”

Ceritanya begini. Pemilik akun TikTok @Sultan, mengunggah siaran live streaming, mandi lumpur. Isinya, Sari kelojotan di genangan lumpur. Sekalian, lumpur disiramkan ke badan gaya mandi pakai gayung.

Siaran itu viral. Penonton yang tersentuh memberikan saweran, cuma menekan tombol “gift”. Pemilik akun @Sultan menghimpun gift. Setelah banyak, ditukar duit ke TikTok. Hasilnya dikumpulkan, lalu dibagi dua sama rata dengan Nenek Sari.

Kalau Sari mengaku sekali live dapat sekitar Rp 1 juta, maka hasilnya sekitar Rp 2 juta. Mandi uang itu.

Maka, warga desa tetangga Sari, ramai pada siaran TikTok mandi lumpur semua. Ada yang dapat lebih banyak daripada Sari, ada yang lebih rendah. Ada juga yang zonk.

Tapi, warga yang sehari-hari bertani jadi ogah bertani. Pada mandi lumpur semua. Mengemis semua.

Bagaimana bisa dapat duit? Syaratnya cuma tiga:

1) Harus punya akun TikTok versi terbaru. Yang ada fitur live.

2) Pemilik akun minimal usia 16 tahun.

3) Jumlah pengguna minimal 1.000 followers.

Jika syarat itu terpenuhi, langsung mainkan. Bisa mandi lumpur, comberan, atau apa pun. Lalu, syarat tambahan ini yang berat: Harus viral. Karena, dengan viral, berpotensi ada follower yang memberi gift, atau menekan tombol gift.

Ketika sedang siaran, pemilik akun bisa melihat jumlah penonton. Juga melihat masuknya gift dari penonton.

Gift yang bernilai uang, cuma yang jenis diamond (berlian). Setiap 200 gift diamond, bisa ditukarkan ke TikTok dengan USD 1 (Rp 14.875).

Jadi, fenomena mandi lumpur, adalah perkawinan antara permainan medsos dengan pengemis. Tapi, kedua pihak sama-sama pengemis.

Definisi pengemis: Orang yang melakukan sesuatu, dengan harapan agar orang lain merasa iba, lalu memberi hadiah. Baik berupa uang, makanan, atau gift. Kuncinya: Pelaku sudah berharap diberi hadiah.

Terbukti, para petani itu langsung meninggalkan pekerjaan mereka bertani, beralih ke mandi lumpur. Pekerjaan petani, mulia, karena membuat masyarakat bisa makan. Sebaliknya, mandi lumpur membuat masyarakat iba, lantas memberi gift.

Apakah pengemis melanggar hukum? Jawabnya, sangat banyak aturan hukum yang menyebutkan, bahwa pengemis melanggar hukum. Selain Pasal yang sudah disebut di atas, masih ada beberapa aturan hukum lagi.

Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 1980 tentang Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis. Di situ dipaparkan definisi gelandangan dan pengemis.

Pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain.

Tapi (ini uniknya) PP 31/1980 tidak memuat sanksi terhadap gelandangan dan pengemis.

Ada lagi. Peraturan Kapolri No. 14 Tahun 2007 tentang Penanganan Gelandangan dan Pengemis. Antara lain, mengatur tentang cara preventif dan penegakan hukum dalam menangani gelandangan dan pengemis.

Khusus untuk DKI Jakarta, ada Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Pada Pasal 40 Perda tersebut, diatur larangan mengemis. Juga melarang orang memberi hadiah apa pun kepada pengemis.

Pelanggar Pasal 40 huruf a Perda DKI Jakarta 8/2007 diancam dengan pidana kurungan paling singkat 20 hari, dan paling lama 90 hari atau denda paling sedikit Rp500 ribu dan paling banyak Rp30 juta (Pasal 61 ayat (2) Perda DKI 8/2007).

Aturan hukum sampai bertumpuk-tumpuk. Tapi, pengemis tetap sangat banyak.

Aturan hukum memang penting. Tapi lebih penting lagi adalah pelaksanaan aturan tersebut.

Sesungguh, semua aturan itu bertabrakan langsung dengan induk dari segala aturan hukum Indonesia, yakni UUD 1945.

Pasal 34 UUD 1945, Ayat 1, berbunyi: “Fakir miskin dan anak-anak terlantar ditanggung oleh negara.”

Tapi, karena begitu banyak jumlah orang miskin di Indonesia, sehingga keuangan negara tidak mampu menanggung. Atau kewalahan menanggung. Maka, dikeluarkanlah aturan-aturan hukum tentang pengemis itu. Walaupun, ternyata tidak jalan juga.

Maka, seperti kata Nenek Sari kepada wartawan, dia protes: “Ibu Mensos (Tri Rismaharini) jangan larang kami mandi lumpur. Kalo Ibu larang kami, carikan kami kerjaan, karena kami butuh makan, butuh bayar utang, dan lain-lain.”

Padahal, Nenek Sari sudah bekerja, sebagai buruh tani. Bukan penganggur.

Mungkin, maksud Sari adalah: Carikan kerjaan yang sehari bisa dapat Rp 1 juta, seperti mandi lumpur. Terbukti, dia juga menyebut kata punya ‘utang’. (*)

Editor: DAD

Kisah Sedih Neng Ayu, Anak Serial Killer

Korban serial killer Bekasi, Neng Ayu Susilawati (5) selamat dari racun. Sang ayah, Wowon (60), dipenjara. Ibunda Maemunah (40) tewas diracun Wowon Cs. Adik Neng Ayu, Bayu (2) tewas dibunuh Wowon juga. Ayu kini sendirian.

***

NASIB Ayu kini jadi perhatian polisi. Dia masih dirawat di RSUD Bantar Gebang, Bekasi. Tapi, sudah didamping tim dari KPAD (Komisi Perlindungan Anak Daerah) Bekasi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko kepada wartawan, Selasa, 24 Januari 2023 mengatakan: “Kasihan anak itu. Sekarang diawasi KPAD Bekasi.”

Tapi, polisi ikut mengawasi Ayu. Dikhawatirkan, masih ada komplotan Wowon Cs yang belum terungkap. Ayu dicoba dibunuh dengan racun oleh Dede Solehudin (paman Ayu sendiri). Karena, berdasar pengakuan tersangka ke polisi, jadi saksi kejahatan serial killer.

Alasan tersangka ini mengherankan polisi. Ayu masih balita. Bahkan, adik Ayu, bernama Bayu malah bayi dua tahun, juga dibunuh tersangka Solihin pada Oktober tahun lalu.

Alasan tersangka membunuh balita, dinilai polisi kurang logis. Anak kecil tidak mungkin mampu bersaksi penipuan trio dukun Wowon-Solihin-Dede. Apalagi jadi saksi pembunuhan para korban (total sembilan korban tewas). Mungkin, trio tersangka bersikap ekstra hati-hati agar sama sekali tak ada saksi.

Ayu bisa dipastikan terguncang. Cuma, dia belum bisa mengungkapkan perasaan

Spencer Eth dan Robert L. Pynoos dalam buku mereka bertajuk: “Post-traumatic stress disorder in children (1985) menyebutkan, anak yang tahu pembunuhan antar orang tua, baik saat kejadian pembunuhan maupun beberapa tahun sesudahnya, dipastikan mengalami PTSD (Post-traumatic Stress Disorder).

Itu gangguan jiwa tergolong berat. Berdampak merusak buat hidup anak di kemudian hari. Dan, anak di usia sepuluh tahun ke bawah, belum bisa mengungkapkan keguncangan jiwa yang dialami.

Dampak bisa direduksi jika anak diterapi psikiater dengan benar, dan dalam tempo lama. Psikiaternya harus berpengalaman menangani pasien PTSD bidang pembunuhan dalam keluarga.

Ada banyak penyebab PTSD pada anak. Bisa akibat pengabaian ortu, atau korban kekerasan baik oleh ortu maupun orang lain, atau korban pelecehan oleh ortu atau orang lain, atau ditinggal mati ortu. Dan, akibat pembunuhan ortu oleh orang lain. Paling sulit ditangani, akibat pembunuhan dalam keluarga, seperti dialami Neng Ayu.

Buku karya Eth dan Pynoos itu terkenal di Amerika Serikat (AS). Best seller. Dimuat di berbagai media massa di sana, pada zamannya.

Los Angeles Times, 5 Oktober 1985, memuat dengan judul “Shock Haunts Children Who See Parent’s Slaying”. Ditulis Reporter Ann W. O’Neill.

Di situ diulas, betapa sulit menangani PTSD anak akibat pembunuhan dalam keluarga. Bahkan, oleh tim psikiater sekali pun. Di AS, yang gudangnya ilmuwan.

Para psikiater sering gagal menangani pasien jenis ini, sebab pasien memendam rasa. Menutup luka hati. Bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Atau, seolah-olah pasien sudah sembuh dari luka dalam jiwa, PTSD. Namun ternyata beberapa tahun kemudian dampak PTSD pasien meledak dalam emosi berlebihan.

Los Angeles Times memuat riset, di Los Angeles saja, ada 200 anak per tahun menyaksikan pembunuhan orang tua pada 1994. Itu gabungan pembunuhan ortu oleh orang lain dan pembunuhan dalam keluarga.

Eth dan Pynoos dalam buku mereka itu, juga hasil riset. Terhadap 55 anak dan remaja usia mulai 3 sampai 17 tahun. Mereka pengidap PTSD akibat pembunuhan ortu. Meeka juga diterapi tim psikiater dalam tempo lama.

Hasil riset, Eth dan Pynoos kaget, bahwa luka jiwa PTSD mereka belum sembuh, meski sudah diterapi intensif dalam tempo dua-tiga tahun. Penyebabnya: “Bidang eksplorasi psikiatri yang relatif kurang dilaporkan.”

Disebutkan, anak trauma menyaksikan orang tua meninggal dengan kekerasan, memicu ketidakberdayaan yang luar biasa. Juga ingatan berkepanjangan tentang saat-saat paling kejam yang mereka lihat atau dengar di kemudian hari.

Setelah diteliti mendalam, di otak anak-anak itu masih menyimpan potongan-potongan memori tentang kejadian yang mereka lihat atau dengar, terkait pembunhan ortu mereka. Potongan memori itu hidup bagai film di otak mereka.

Digambarkan: “Misalnya, ingatan tentang bunyi jatuhnya pisau pembunuh ortu mereka. Atau suara tembakan yang mematikan ortu mereka. Atau percikan darah. Kenangan ini sulit hilang di memori otak mereka.”

Mereka menyimpan detil potongan kejadian yang membuat mereka menderita PTSD. Mungkin, itu akan tersimpan di otak, seumur hidup mereka.

Tapi, perilaku mereka tampak normal. Seperti tidak ada bekas luka pada jiwa. Mereka tidak pernah mengeluh, atau mengungkapkan trauma itu.

Tampilan korban itu memperumit masalah buat psikiater. Kenyataan, bahwa anak-anak jarang berbicara tentang kengerian yang mereka saksikan, justru membikin psikiater salah prediksi. Dikira pasien sudah sembuh, ternyata masih parah.

Untuk memperkuat teori Eth dan Pynoos, dikutip dari The Washington Post, 17 Agustus 2016, bertajuk: “This is what it does to them?”, diungkap suatu kejadinya nyata.Terjadi pada 27 Februari 2016 di Chicago, AS.

Sebuah mobil sedan Chevy berisi sekeluarga. Erick Henry (ayah), Kashe Jaranilla (ibu). Serta dua anak mereka, Kaniya (7) dan adik laki laki usia delapan bulan, bernama Eman.

Mobil sedang parkir di tepi jalan, di dekat apartemen mereka di Chicago. Poisi duduk: Ayah menyetir, ibu di sebelahnya. Anak-anak di jok belakang.

Mendadak, terdengar rentetan tembakan. Kaniya menggambarkan, bunyi letusan sangat keras beberapa kali. Kaniya mendengar kaca mobil hancur berhamburan dalam kabin mobil. Kaniya seketika menundukkan kepala.

Setelah rentetan tembakan berhenti, Kaniya melihat ayah ibu berdarah-darah. Muncrat di seantero kabin. Ayah sudah tak bergerak. Ibu masih bisa merintih.

Kaniya melihat wajah ibu sangat beda dari biasanya. Karena, rahang Kashe Jaranilla kena tembakan. Jadi peyang tak simetris. Hampirdia tidak mengenali wajah ibu yang penuh darah.

Kaniya mengguncang-guncang tubuh Erick. Tapi tubuh Erick lunglai tertahan sabuk pengaman. Tak bergerak lagi. “Mom… Dad…,” teriak Kaniya sekencangnya.

Tak lama, orang berkerumun menolong keluarga itu. Dilarikan ke RS. Erick tewas seketika, Kashe Jaranilla bisa diselamatkan. Tetap hidup tapi cacat di bagian rahang.

Maka, Kaniya dan Eman dirawat psikiater. Dinyatakan menderita PTSD.

Dalam perawatan beberapa bulan, Kaniya dinyatakan sembuh dari trauma. Karena, Kaniya tidak menunjukkan tanda-tanda murung, atau sedih berlebihan, atau emosi yang menggebu. Sama sekali tidak. Kaniya malah jadi pemain basket dan jago main biola.

Karena itu adalah liputan media massa, bukan suatu riset, tidak tergambarkan, apakah Kaniya benar-benar sembuh dari PTSD, ataukah bagaimana?

Penulis Eth menyebut anak pengidap PTSD sebagai: “Konspirasi diam, untuk tidak membicarakan peristiwa buruk.”

Sehingga, orang dewasa menafsirkan kebisuan anak dalam menghadapi trauma, sebagai tanda bahwa semuanya baik-baik saja. Dinilai sebagai cerminan dari ketahanan anak-anak yang sangat dibanggakan. Padahal, kebanyakan itu berarti sebaliknya.

Lantas, apa dampak jika anak-anak PTSD itu masih trauma?

Belum ada riset jangka panjang yang meneliti korban PTSD dari anak sampai dewasa. Belum ada.

Tapi, dalam perspektif sebaliknya, ilmuwan psikologi meneliti latar belakang para penjahat, terutama penjahat psikopat yang tanpa empati sosial, pembunuh berdarah dingin, pembunuh berantai, dan kejahatan berat lainnya. Mayoritas penjahat itu adalah pengidap PTSD di masa kecil.

Dalam kasus serial killer Bekasi, meujuk teori Eth dan Pynoos, korban Neng Ayu bakal mengingat kejadian keracunan itu seumur hidup. Terngiang di memori otak.

Dampaknya, kelak setelah dia dewasa, bisa negatif. Bahkan bisa jadi pelaku serial killer pula. Ini ‘kan jadi ruwet. Ayah tersangka serial killer, anaknya menderita PTSD dengan risiko seperti itu. (*)

Gigitan Tersangka Serial Killer

Dari tiga tersangka serial killer, Dede Solehudin paling unik. Perannya: Terima duit dan menyiapkan kuburan korban. Ia main drama, meneguk kopi beracun sebagai alibi. Tapi dramanya sia-sia gegara ia ‘digigit’ tersangka lain.

***

KABID Humas Polda Metro Jaya, Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko kepada pers, Senin, 23 Januari 2023 mengatakan: “Kini tersangka DS sudah ditahan bersama dua tersangka lain di Polda Metro Jaya.”

Kasus ini menghebohkan Indonesia. Baru kali ini ada komplotan serial killer. Biasanya, serial killer cuma pelaku tunggal. Ini tim. Dengan permainan drama yang sepele, tapi unik.

Dimulai, Kamis, 12 Januari 2023 sekitar pukul 09.00 tim polisi mendatangi rumah Wowon di Bantar Gebang, Bekasi. Di sana ada lima orang keracunan pestisida. Maemunah, Ridwan Abdul Muiz, Muhamad Ruswandi, Dede Solehudin dan balita perempuan, NA (5).

Maemunah isteri Wowon. Ridwan dan Ruswandi anak Maemunah dari suami terdahulu bernama Didin. Sedangkan, Dede adik Wowon. Si balita cewek NR, anak Wowon dengan Maemunah.

Korban dikirim ke RSUD Bantar Gebang Bekas. Tiga orang, Maemunah, Ridwan dan Riswandi, tewas. Dede dan NR selamat. Lalu dirawat.

Ketika korban dikirim ke RSUD, tim polisi olah TKP. Muntahan para korban di lantai, diambil sebagai sampel barang bukti.

Polisi menemukan di halaman belakang ada bakaran sampah plastik. Sampah diteliti, tampak masih baru dibakar. Setidaknya, dibakar semalam.

Di situ polisi menemukan plastik bungkus pestisida. Terbakar sebagian. Tapi masih terbaca tulisan pestisida. Segera, dilakukan uji laboratorium forensik. Meneliti sampel muntahan.

Ternyata sampel mengandung pestisida. Cocok, dengan bungkus pestisida di sampah itu.

Ditambah fakta, Wowon menghilang. Bahkan, tidak hadir di pemakaman isteri dan anak-anak tirinya. Maka, Wowon dikejar. Ditangkap di rumah desa di Cianjur.

Dalam pemeriksaan awal, Wowon mengakui, membunuh meracuni lima orang itu. Eksekutor peracun adalah Solihin, tetangga Wowon di Cianjur. Solihin pun ditangkap.

Solihin diinterogasi. Langsung, mengakui ia meracuni mereka, kecuali Dede. Polisi jadi heran. Diinterogasi mendalam, Solihin ‘menggigit’ Dede, yang bagian dari pelaku pembunuhan. Akhirnya, terungkap bahwa mereka bertiga komplotan dukun.

Seketika itu posisi Dede dipindah dari RSUD ke RS Polri Sukanto, Kramatjati, Jakarta Timur. Langsung ditetapkan sebagai tersangka. Ternyata, Dede cuma sakit perut sehari, lalu sembuh

“Tersangka DS meminum kopi pestisida sedikit, kira-kira sececap. Sebagai alibi, mengelabui polisi,” kata penyidik.

Sampai di sini, sandiwara Dede ikut minum racun, aneh. Padahal, ia bisa saja tidak ikut minum, dan tidak ikut berada di rumah Bantar Gebang itu. Ternyata, terbukti kemudian, Dede ingin memastikan para korban minum racun dan tewas.

Korban lain yang tidak tewas, balita NA. Karena bocah ini memang tidak suka kopi. Dipaksa minum, cuman seteguk. Dia selamat, dan masih dirawat di RSUD Bantar Gebang.

Dari pendalaman polisi diketahui sembilan korban dibunuh komplotan ini. Daftar korban tewas, sebagai berikut:

Di Bekasi tiga:1) Ai Maemunah (40), istri siri Wowon. 2) Ridwan, anak Maemunah dan mantan suaminya, Didin. 3) Riswandi, anak Maemunah dan mantan suaminya, Didin.

Di Cianjur ada lima: 1) Noneng, mertua Wowon. 2) Wiwin, istri pertama Wowon yang anak Noneng. 3) Bayu, (2 tahun), anak Maemunah dan Wowon.
4) Farida, TKW, pasien dukun Wowon Cs. 5) Halimah, istri siri Wowon yang juga ibunda Maemunah.

Di Surabaya ada satu: Siti, TKW, pasien dukun Wowon Cs, dibuang ke laut, sudah dikubur di Garut.

Komplotan ini cari nafkah dengan cara nekat dan sadis. Mereka semua mengaku dukun, spesialis menggandakan harta. Sasarannya TKW, karena mereka punya banyak kenalan TKW. Padahal, itu cuma tipuan. Mereka tidak bisa menggandakan harta.

Pasien pasti komplain. Saat komplain, pasien digiring untuk dibunuh. Semua itu disaksikan keluarga Wowon. Maka, saksi mata harus dibunuh juga.

Pembagian peran begini: Wowon mencari pasien, atau semacam marketing. Ketika pasien komplain, Wowon mengantarkan ke Solihin, untuk dibunuh.

Peran Solihin membunuh. Dari sembilan korban, delapan dibunuh Solihin. Satu korban bernama Siti dibunuh Noneng. Lalu, Noneng dibunuh Solihin.

Peran Dede paling empuk: Terima pembayaran dari pasien. Tugas lain, menggali lubang calon kuburan pasien. Selama ini, kuburan pasien ada di pekarangan rumah Wowon dan Solihin.

Begitulah sederhananya kasus ini. Sederhana-sadis. Semakin banyak pasien, semakin banyak yang dibunuh. Polisi masih berusaha mengungkap korban lain.

Meski kejahatan mereka sederhana, tapi hasilnya lebih dari Rp 1 miliar. Setidaknya, rekening Dede sudah diblokir polisi. Sedang diperiksa intensif.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Mohammad Fadil Imran kepada pers, mengatakan aliran uang masuk ke rekening tersangka, dari para korban, nominalnya ratusan juta rupiah.

Irjen Fadil: “Rekening tersangka kami periksa. Aliran uang masuk ada yang sampai Rp 250 juta, ada yang Rp180 juta.”

Jumlah uang yang diblokir lebih dari Rp 1 miliar. Tapi, itu hasil sementara. Masih terus ditelusuri polisi. Juga belum diperiksa, uang pasien yang diterima pelaku selain Dede.

Dari sembilan korban tewas, cuma dua yang pasien komplotan dukun ini. Selebihnya, para saksi mata, yang keluarga dan kerabat Wowon.

Jika dihitung dari nilai uang yang diblokir polisi, kecil kemungkinan bahwa Rp 1 miliar itu cuma berasal dari dua orang pasien yang dibunuh. Sangat mungkin masih ada korban lain. Apalagi, penyidikan aliran uang masuk ke tersangka, belum selesai.

Polisi kini mengurai berbagai hal tentang serial killer ini. Ada banyak pertanyaan belum diungkap polisi. Misalmya, jika para tersangka membunuh semua saksi mata, mengapa sampai bayi 2 tahun (Bayu) yang anak tersangka Wowon juga dibunuh? Bukankah bayi belum mengerti perbuatan mereka?

Juga, siapa inisiator tiga serangkai serial killer itu? Apakah Wowon atau Solihin? Lantas, bagaimana yang bukan inisiator bisa ikut bergabung, padahal skenario kejahatan mereka jelas dan sadis.

Katherine Ramsland dalam bukunyi bertajuk: “Inside the Minds of Serial Killers” (Praeger Publishers,2006) menyebutkan, serial killer yang dilakukan lebih dari satu pembunuh (sebagai tim) pasti ada yang dominan, dan ada pengikut.

Ramsland mengutip film Amerika Serikat (AS) bertajuk “Natural Born Killers” produksi 1994, disutradarai Oliver Stone. Itu film fiktif yang menampilkan tim pembunuh berantai dilakukan pasangan suami-isteri. Inisiatornya adalah suami, sedangkan sang isteri pengikut.

Di situ serial killer team itu menikmati kekerasan acak untuk melampiaskan kemarahan dan melatih kekuatan, dengan cara membunuh banyak orang.

Film menunjukkan bagaimana pasangan mengembangkan dorongan membunuh bersama, memadukan impuls mereka dalam serentetan kekerasan.

Begitu juga tim pembunuh berantai lainnya, pasti ada inisiator dan ada pengikut.

Pertanyaannya, apakah pengikut berani membunuh jika ia tidak bersama tokoh inisiator? Atau, mengapa pengikut tidak takut, padahal ia cuma ikut-ikutan dan kejahatan mereka membunuh banyak orang adalah kejahatan sangat serius?

Jawaban di buku itu, pengikut di tim pembunuh berantai larut terbawa oleh semangat inisiator. Dan, para pengikut merasa bahwa jika suatu saat mereka ditangkap polisi, mereka tidak merasa sendirian. Para pengikut berpikir, bahwa kalau suatu saat mereka ditangkap polisi, maka tanggung jawab terberat ada di inisiator.

Kenyataannya, para pengikut tetap dituntut sebagai pembunuh berantai. Meskipun, kebencian masyarakat tertuju pada inisiator.

Di serial killer Bekasi, pembagian peran tiga orang itu sudah diungkap polisi, seperti diurai di atas. Tapi, mereka bertiga sama, dikenakan Pasal 340 KUHP, Pembunuhan Berencana, dengan ancaman hukuman mati. Juncto Pasal 338 KUHP, Pembunuhan Biasa.

Dede yang berperan menggali kubur para korban, dikenakan sama dengan eksekutor Solihin. Polisi masih mencari tahu, siapa inisiator tim ini. (*)

Editor: DAD

Barongsai Riwayatmu Kini

Barongsai di Pondok Indah Mal (PIM) Jakarta, jatuh dari tonggak setinggi tiga meter. Ratusan penonton menjerit. Tapi, pemainnya bangkit. Lalu melanjutkan atraksi. Kian lincah. Sampai pertunjukan 17 menit 34 detik itu usai.

***

ITU terjadi Selasa (17/1) sore. Menyambut Imlek, yang menurut Kantor Berita Xinhua, rangkaian Imlek 40 hari sejak 7 Januari 2023 sampai 15 Februari 2023.

Barongsai itu warna kuning. Main di dalam PIM 3, lantai dasar. Jumlah penonton sekitar 300 orang, mengelilingi area atraksi dibatasi pagar. Ratusan penonton lain menonton dari lantai dua dan tiga, karena bentuk mal terbuka di bagian tengah (open centre).

Di area atraksi ada tonggak-tonggak berjumlah 18. Ketinggian bervariasi, antara dua sampai empat meter. Tonggak berdiri di atas karpet merah.

Pemain instruman lima pria dua wanita. Ada gendang, tambur, gong kecil, dan paling dominan simbal, dua lempeng kuningan bundar yang dibentur-benturkan. Ini paling bikin ramai.

Gendang ditabuh, ritme lambat. Simbal merancak berdentang-dentang. Selalu ambyar, di tiap akhir ketukan tempo.

Barongsai kuning muncul, masuk ke arena. Berlenggak-lenggok. Kiri-kanan. Mata berkedip-kedip. Menggaruk kepala. Mendadak gong berbunyi, seketika Barongsai jatuh, koprol guling-guling tiga putaran. Akhirnya dengan sigap berdiri lagi. Sikap waspada.

Ratusan penonton bersorak. Bersuit-suit.

Gerak koprol itu ternyata atraksi pembuka. Berikutnya, Barongsai menunjukkan kegenitan. Menoleh kiri-kanan, mata berkedip-kedip, kuping mencuat-cuat. Bergerak miring ke kiri, ternyata belok menukik tajam ke kanan.

Jika dihitung, ada lima bagian tubuh Barongsai yang aktif. Kelopak mata plus kuping. Rahang bawah buka-tutup, otomatis menggerakkan rumbai-rumbai jenggot. Bahu depan kiri-kanan sebagai manuver belok. Pinggul kiri-kanan mengimbangi manuver gerakan bahu. Dan, paling lucu ekornya bisa kopat-kapit.

Kini, Barongsai mengamati deretan tonggak-tonggak. Dimulai dari ujung deretan tonggak paling rendah, setinggi 1,5 meter, sampai yang empat meter.

Sepertinya Barongsai hendak meloncat naik. Ia konsentrasi ke tonggak paling pendek. Dia amati bagian kiri dan kanan tonggak. Seolah mengukur ketinggian, atau mengkalkulasi risiko jatuh. Gaya ini sungguh humanis. Seperti manusia siap melakukan atraksi bahaya.

Itu membuat penonton diam, hening. Apalagi insrumen mengalun lembut. Mendukung suasana magis.

Lalu Barongsai meloncat. Dua kaki depan meloncat dua kali. Pertama naik ke dua tonggak setinggi 1,5 meter itu. Begitu nangkring, dalam sedetik langsung meloncat lagi ke dua tonggak di depannya.

Ketika sepasang kaki depan hinggap di tonggak ke dua, bersamaan sepasang kaki belakang meloncat dan nangkring di dua tonggak pertama. Tonggak-tonggak itu permukaannya kecil. Satu tonggak bergaris tengah sekitar 20 sentimeter. Sehingga cuma cukup untuk satu kaki.

Atraksi naik itu mengundang decak kagum. Terdengar suara penonton bergumam bersamaan. Mendengung. Lalu mereka tepuk tangan.

Barulah, Barongsai bergaya. Loncat sana-sini di antara tonggak-tonggak. Bahkan, meloncat mundur. Suatu gerakan nyaris mustahil. Mungkin, dua pria yang ada di balik topeng dan badan Barongsai itu, badan mereka berputar dulu, tapi tidak kelihatan penonton karena tertutup baju Barongsai.

Setelah mereka berputar, barulah mereka meloncat ke depan. Dari arah penonton, Barongsai kelihatan meloncat mundur. Suatu trik atraksi yang sulit.

Penonton benar-benar dibuat terpaku. Tidak ada yang main WhatsApp di HP mereka. HP mereka gunakan untuk foto-foto dan selfi.

Tapi, setelah meloncat mundur, Barongsai langsung bikin manuver memutar. Maksudnya berputar balik kanan. Saat itulah Barongsai jatuh. Berguling-guling di karpet. Penonton wanita menjerit, kaget.

Jelas, itu bukan bagian dari atraksi. Sebab, pemain belakang langsung keluar dari baju Barongsai. Lalu berdiri, mengulurkan tangan agar pemain bagian depan juga bangkit. Akhirnya mereka berdua bangkit. Mereka melambai-lambai ke penonton. Tanda, tak ada masalah.

Instrumen berhenti. Para pemain instrumen mengamati pemain Barongsai. Penonton ikut tertegun. Mungkin merasa kasihan.

Ternyata, atraksi bukannya berhenti, melainkan lanjut. Dua pemain kembali pakai baju Barongsai. Dalam dua-tiga detik, Barongsai sudah bergaya lagi. Meloncat naik tonggak-tonggak itu lagi. Bermanuver dengan sangat berani. Sampai atraksi usai.

Dua pemain Barongsai membuka pakaian. Lantas mereka membungkuk, memberi hormat ke penonton. Tepuk tangan bertalu-talu.

Dikutip dari China Highlights, Minggu (18/02/2018) bertajuk “China Dragon Dance”, ditulis pengamat Barongsai, Yiing Zhi, disebutkan, pemain instrumen memainkan tetabuhan berdasarkan gerak Barongsai. Bukan sebaliknya. Pemain Barongsai jadi perhatian utama, bukan saja dari penonton, melainkan juga dari pemain instrumen.

Pantesan, penabuh gendang, gong dan simbal, mengawasi teliti gerak Barongsai. Mata mereka tak berkedip.

Uniknya, Barongsai dan musik selalu harmonis. Tak pernah kejar-kejaran. Atau dis-harmoni.

“Karena para pemusik sudah hafal pada sinyal-sinyal gerak Barongsai. Sebelum bermanuver, Barongsai melakukan gerak tertentu, sebagai sinyal kepada pemain musik,” tulis Yiing Zhi.

Satu Barongsai dimainkan dua orang. Satu sebagai kepala, satunya ekor. Pemain kepala biasanya pemain yang kurus lincah. Pemain ekor harus kuat, badan gempal.

Sekali-sekali, Barongsai bakal berdiri. Maka, posisi pemain depan naik, dipanggul pemain belakang. Itu sebab, pemain depan harus kurus. Biar enteng.

Pemain depan harus inovatif. Bagian kepala ini yang jadi perhatian penonton. Gerakan menggaruk kepala, menjilat-jilat, dan mengerdipkan mata, disesuaikan dengan reaksi penonton. Komunikatif dengan penonton.

Ketika berguling, dua pemain harus kompak. Apakah mereka akan berhenti di posisi tidur. Lalu garuk-garuk perut. Atau koprol, langsung bangkit lagi.

Pemain belakang menyesuaikan semua manuver pemain depan. Terutama, penyesuaian antara ekspresi kepala dengan ekor. Kalau mata berkedip-kedip, ekor kopat-kapit. Sehingga kesatuan yang kompak.

Barongsai Duel

Dikutip dari The Star, Minggu (18/02/2018), dipaparkan, dulu, tahun 1950 sampai 1960, di China, Hong Kong, Taiwan, Singapura, Barongsai biasa duel.

Barongsai yang duel, berasal dari dua organisasi Barongsai berbeda. Mereka duel berebut angpao, yang disediakan pihak yang mengontrak mereka. Kontrak mereka sudah dibayar, tapi ada bonus angpao.

Cara duelnya, dua Barongsai berloncatan di tiang-tiang. Dari paling rendah, sampai paling tinggi. Dan, di atas tiang paling tinggi (sekitar lima meter) digantungkan banyak angpao. Itulah yang direbut dua Barongsai yang bersaing.

Barongsai yang duel, benar-benar bertarung. Sungguh-sungguh saling menyerang. Bukan sandiwara.

Akibatnya, kelompok Barongsai dianggap “gangster”. Efeknya sering berantem antara kelompok barongsai dan sekolah kung fu di sana. Di panggung atraksi, mereka bisa saling melukai. Dengan curang.

Gerak duel tetap indah. Karena ditonton ratusan orang. Tapi, di balik topeng Barongsai mereka membawa pisau. Digunakan melukai kaki lawan.

Penonton tidak pernah tahu itu. Sebab, jika ada kaki pemain berdarah, atau langkahnya pincang, dikira terluka akibat gesekan lantai. Atau terkilir.

Ada juga yang memasang tanduk logam, di dahi singa mereka. Jika tanduk mengenai lawan, tentu terluka. Agar menang. Meraih angpo.

Setelah 1960 di sana, para orang tua melarang anak-anak mereka bergabung kelompok Barongsai. Jadinya, kekurangan pemain. Jarang ada pertunjukan Barongsai. Bahkan nyaris punah.

Kemudian, organisasi Barongsai membuat solusi: Boleh duel, tapi mereka yang duel harus dari satu organisasi Barongsai. Dilarang beda organisasi. Sehingga, tidak ada saling menyakiti. Mereka berduel sebagai suatu sandiwara.

Sejak 1960 di sana, setiap tim Barongsai bertemu tim lain, mereka akan berjabat tangan. Mereka sepakat tidak duel berebut angpo.

Dalam pertunjukan di China, saat Barongsai memasuki desa, diharuskan memberi penghormatan di kelenteng setempat. Menemui kepala desa, memberi hormat. Jika bertemu kelompok Barongsai lain, mereka berbagi wilayah, untuk main atraksi.

Di Indonesia, jarang ada atraksi Barongsai tarung. Umumnya atraksi tunggal. Dari satu organisasi Barongsai.

Tujuan Barongsai memang menghibur warga. Dengan kopat-kapit ekornya. Bukan untuk duel. (*)

Editor: DAD

Jadi Dukun Dulu, Baru Serial Killer

Jumlah korban serial killer tersangka Wowon, Solihin dan Dede, jadi sembilan tewas. Salah satunya diceburkan ke laut di Surabaya. Para korban dibunuh karena protes ke tersangka yang gagal menggandakan uang.

***

TIGA serangkai Wowon, Solihin dan Dede, adalah dukun pengganda uang. Mereka mengaku bisa menggandakan harta klien sampai sepuluh kali lipat. Dalam waktu cepat (tidak disebut durasinya).

Mereka buka praktik dukun di rumah Wowon di Kampung Babakan Mande, Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, Cianjur, Jabar. Banyak warga datang ke sana. Semua pengguna jasa harus bayar. Untuk dapat uang harus bayar uang. Kemudian mereka buka praktik juga di Bantar Gebang, Bekasi.

Ternyata mereka, diduga bohong, menipu. Klien yang protes, dibunuh. Keluarga Wowon yang mengetahui itu, juga dibunuh. Saksi mata harus mati. Demi menutupi kejahatan sebelumnya.

Hasil penyidikan polisi, sembilan korban tewas itu diduga dibunuh di tiga kota. Sebagai berikut:

Di Bekasi ada tiga: Ai Maemunah (40), istri siri Wowon. Juga, kakak-beradik Ridwan Abdul Muiz (18) dan Muhamad Ruswandi (15) anak Maemunah dari suami terdahulu bernama Didin.

Di Cianjur ada lima: Noneng, (60) mertua Wowon. Wiwin (42), istri pertama Wowon yang juga anak Noneng. Bayu (2 tahun) anak Maemunah dan Wowon.
Farida, pasien yang mantan TKW (Tenaga Kerja Wanita) di luar negeri. Halimah, istri siri Wowon yang juga ibunda Maemunah.

Di Surabaya ada satu: Siti, pasien Wowon, mantan TKW yang dibuang ke laut.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko kepada pers, Jumat, 20 Januari 2023 menjelaskan pembunuhan Siti, berdasar pengakuan para tersangka. Begini:

Siti warga Garut, Jabar, mantan TKW. Sudah jadi TKW bertahun-tahun yang gajinya lebih besar dibanding di Indonesia, dia tidak juga kaya. Maka, dia datang ke Wowon CS. Minta menggandakan uang. Sebelum dilayani, Siti harus bayar dulu jasa dukun.

BACA JUGA: Serial Killer Itu Dilakukan Dukun

Siti pun diterapi Wowon. Dengan ‘jopa-japu’ agar hartanya melonjak sepuluh kali lipat. Lalu Siti pulang.

Sepekan belum terbukti. Dua pekan juga belum. Akhirnya Siti menanyakan ke Wowon, mengapa hartanya tidak bertambah? Malah berkurang buat kebutuhan sehari-hari.

Wowon menjawab enteng, seperti ditirukan Kombes Trunoyudo, begini: “Wowon bilang, harta Siti sudah bertambah. Tapi ambilnya di Mataram, NTB.”

Dijawab begitu, Siti percaya saja. Dia antusias menyatakan, ingin segera mengambil harta itu. Siti minta Wowon mengantarkan untuk mengambil harta di Mataram.

Wowon menyanggupi permintaan Siti. Wowon menugaskan Noneng, mertua Wowon, agar mengantarkan Siti ke Mataram. Mengambil uang.

Noneng bengong: “Mataram gang berapa? Gimana caranya?”

Wowon mengajari Noneng begini: Pokoknya ajak Siti ke sana, ini ongkos jalan. Nanti di tengah jalan, bunuh saja Siti. Entah gimana caranya, atur saja.

Maka, berangkat-lah Noneng dan Siti dari Cianjur. Menuju arah timur. Sampai mereka tiba di Surabaya.

Trunoyudo: “Noneng, karena diperintah oleh Wowon, menurut saja. Tiba di Surabaya, Noneng mendorong Siti nyebur ke laut.”

Noneng ternyata tidak bisa berenang. Kecebur, kelabakan. Tewas tenggelam. Jasadnya ditemukan warga, diusut polisi, diketahui identitasnya. Lalu jenazah dikirim ke Garut untuk dimakamkan. Problem Wowon, beres.

Noneng tidak bisa disidik polisi, karena setelah dia pulang ke Cianjur, ketemu Wowon, lantas dibunuh Wowon. Jenazah Noneng dikubur di gang rumah Wowon. Permukaan tanah diplester, dikeramik. Selesai.

Pasien Wowon lainnya yang juga protes, Farida. Mantan TKW juga. Dibunuh juga. Mayatnya dikubur di sekitar rumah Wowon juga.

Kronologi pembunuhan Farida, masih disidik polisi. Juga korban-korban lainnya. Masih diusut. Terbuka kemungkinan ada korban lain.

Perkara heboh ini sejatinya nyaris tak terungkap. Hampir lolos dari penyidikan polisi. Seandainya, tim polisi dari Polres Bekasi tidak teliti. Begini:

Kamis, 12 Januari 2023 sekitar pukul 09.00 tim polisi mendatangi rumah Wowon di Bantar Gebang, Bekasi. Di sana ada lima orang keracunan pestisida. Maemunah, Ridwan Abdul Muiz, Muhamad Ruswandi, Dede Solehudin dan balita perempuan, NR (5).

Setelah mereka dikirim ke RSUD Kota Bekas, tiga nama yang disebut awal, tewas. Dede (tersangka, terbukti minum dosis kecil pestisida, untuk mengelabui polisi) dan NR selamat.

Ketika korban dikirim ke RSUD, tim polisi menggeledah rumah tersebut. Dilakukan olah TKP. Muntahan para korban di lantai, diambil sebagai sampel barang bukti.

Di antara polisi, ada yang memeriksa bagian luar rumah. Di halaman belakang ada bakaran sampah plastik. Diteliti, tampak masih baru dibakar. Setidaknya, baru dibakar semalam.

Di situlah polisi menemukan plastik bungkus pestisida. Sudah terbakar sebagian. Tapi masih terbaca bahwa itu bungkus pestisida.

Lantas, polisi melakukan uji laboratorium forensik. Meneliti sampel muntahan korban. Ternyata mengandung pestisida. Klop, dengan bungkus pestisida itu.

Ditambah fakta, Wowon menghilang. Bahkan, tidak hadir di pemakaman isteri dan anak-anak tirinya. Maka, Wawan dikejar. Ditangkap di rumah desa di Cianjur. Sejak itu kasus ini menggelinding. Polisi mengungkap serial killer oleh komplotan dukun itu.

Di kondisi ekonomi masyarakat yang sulit sekarang, dukun pengganda uang jadi idola warga desa. Itu sebab, muncul, diduga, penipu Wowon CS. Walaupun pada dasarnya mayoritas masyarakat kita masih mengidolakan dukun.

Dikutip dari laman Kemenag.go.id, Senin,15 April 2013, Wakil Menteri Agama (saat itu) Prof Dr Nasaruddin Umar, menyatakan, minta tolong dukun adalah perbuatan mubazir. Bahkan mengarah pada menyekutukan Tuhan Yang Maha Esa.

Prof Nasaruddin, saat memberi pengajian di Masjid Sunda Kelapa Jakarta, 8 April 2013, mengatakan: “Kenapa gak datang ke Tuhan? Paranormal kan makhluk Allah.”

Kendati, tetap saja. Warga sulit diajari soal ini. Dukun tetap laris.

Jangankan Indonesia, di Amerika Serikat (AS) pun warganya juga percaya dukun. Cuma, beda permintaan antara warga Indonesia dengan warga AS terhadap dukun.

Kalau warga kita minta cepat kaya tanpa kerja, di sana umumnya dukun ‘penerawang’ atau sesuatu yang tak dilihat manusia. Meski, dukunnya bohong juga.

Kasus dukun yang menghebohkan, terjadi di Ohio, AS, pada 2013. Seorang gadis remaja ‘hilang’, lalu sang ibunda bertanya ke dukun. Menghebohkan Amerika.

Dikutip dari Daily Mail, Rabu, 8 Mei 2013 bertajuk: “Sylvia Browne: fans lash out at ‘psychic’ over false Ohio abduction prediction”, diuraikan, begini:

Gadis 17 tahun, Amanda Berry mendadak hilang 21 April 2003. Ibunda Berry, Louwanna Miller, sudah lapor polisi, mencari ke mana-mana, tidak ketemu. Akhirnya, dia datang ke dukun bernama Sylvia Browne.

Sylvia Browne bukan dukun biasa. Dia selebritis. Terkenal di AS. Pengisi tetap acara televisi di program The Montel Williams Show dan Larry King Live. Juga rutin setiap hari mengisi acara radio online selama satu jam di Hay House Radio.

Ny Miller datang ke Browne, menanyakan posisi Amanda Berry yang sudah sebulan hilang.

Browne menerawang. Entah apa yang dia lakukan. Sejenak kemudian dia berkata begini: “Amanda Berry bukan tipe remaja yang tidak memberi kabar, jika dia pergi ke suatu tempat.”

Ny Miller mengangguk-angguk. Tanda membenarkan itu. Lantas Browne mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan:

“Ikhlaskan Amanda Berry… Dia sudah tenang di surga. Dia ucapkan, bahwa dia mencintaimu dan seluruh keluarga.”

Ny Miller sangat terkejut. Syok. Sedih. Lalu semaput.

Hari-hari Ny Miller merana, ditinggalkan Amanda Berry. Dia sulit move-on. Beberapa bulan kemudian dia meninggal akibat serangan jantung.

Satu dekade kemudian, diketahui Amanda Berry masih hidup. Dia malah beranak satu, wanita, diberi nama Jocelyn, yang lahir 2 Desember 2006.

Ternyata, Berry diculik Ariel Castro. Disekap di rumah Castro di Cleveland. Dia diculik bersama dua gadis lain, Gina DeJesus (29) dan Michelle Knight (38). Tiga wanita itu disekap selama satu dekade di basement rumah Castro. Mereka diperkosa rutin. Sehingga Amanda Berry melahirkan Jocelyn.

Berry ditemukan, karena bisa lolos dari basement. Akhirnya, Ariel Castro ditangkap polisi. Diadili. Divonis hukuman penjara 1.000 tahun, sampai sekarang, sampai ia mati.

Dukun Sylvia Browne yang semula tenar, ditinggalkan ratusan ribu fans. Dihujat warganet di medsos. Tapi, Browne tidak dihukum, karena jasa ke-dukun-annya gratis. Dia sekadar bicara, memprediksi, sebab dimintai tolong Ny Miller.

Sedangkan, trio dukun Wowon, Solihin, Dede, dikenakan Pasal 340 KUHP, Pembunuhan Berencana. Ancaman hukuman mati. (*)

Editor: DAD

Serial Killer Itu Dilakukan Dukun

Kasus sepele, tiga tewas keracunan di Bekasi, terungkap sebagai pembunuhan berantai. “Ini serial killer,” ujar Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran kepada pers, Kamis, 19 Januari 2023. Diungkap, delapan korban tewas.

***

DIUNGKAP polisi, tiga tersangka pelaku pembunuhan sudah ditangkap. Mereka Wowon Erawan (60), Solihin (60) dan Dede Solehudin (57) yang adik Wowon. Kronologi kasus, begini:

Kamis, 12 Januari 2023 lina orang sekeluarga keracunan di rumah mereka di Bantar Gebang, Bekasi. Mereka adalah: Dede Solehudin (57), Ai Maemunah (40), Ridwan Abdul Muiz (18), Muhamad Ruswandi (15) dan anak perempuan NR (5).

Hubungan mereka, begini: Dede adalah adik suami Maemunah bernama Wowon. Sedangkan, Ridwan dan Ruswandi, anak Maemunah dari suami pertama bernama Didin, atau anak tiri Wowon yang merupakan suami ke dua Maemunah. NR adalah anak Maemunah dengan Wowon.

Orang pertama yang mengetahui itu, tetangga mereka bernama Ami (60). Mendengar rintihan dari dalam rumah yang tertutup pada pukul 08.00. Ami mengetuk rumah dan memanggil beberapa kali, tapi tidak dibuka.

Ami bersama tetangga mendobrak pintu. Mereka masuk rumah. Tampak seorang lelaki tergeletak di ruang tengah, mulutnya berbusa. Dua lelaki ditemukan di kamar depan. Satu perempuan di kamar belakang. Dan satu bocah perempuan di kamar lainnya.

BACA JUGA: Wanita Emas Laporkan Ketua KPU Lagi

Ami bertanya ke orang yang masih sadar. Dijawab, mereka sudah lemas sejak makan tadi malam. Tanpa banyak tanya lagi, mereka diangkat para tetangga ke RSUD Kota Bekasi.

Di sanalah tiga tewas, Maemunah, Ridwan dan Riswandi. Dua hidup, Dede dan NR. Mereka yang meninggal dibawa mantan suami Maumunah bernama Didin, ke Cianjur, Jawa Barat, untuk dimakamkan.

Didin mengatakan kepada polisi bahwa ia curiga atas kematian mantan isteri serta dua anaknya, Ridwan dan Riswandi. Sebab, dua motor milik Ridwan dan Riswandi yang dibelikan Didin, hilang dari rumah di Bekasi.

Polisi fokus mencari Wowon. Seolah menghilang. Tidak ada di rumah, juga tidak menghadiri pemakaman isteri serta dua anak tirinya. Setidaknya, Wowon dimintai keterangan. Juga terkait dugaan dua motor yang hilang.

Akhirnya Wowon ditangkap polisi di rumah desanya, di Kampung Babakan Mande, Desa Gunungsari, Kecamatan Ciranjang, Cianjur, Jabar. Ia dan keluarganya di Bekasi cuma ngontrak.

Wowon di rumah desa Cianjur, punya isteri juga bernama Iis (42). Iis juga tahu bahwa Wowon punya isteri Maemunah (alm), perempuan Cianjur yang diboyong ke Bekasi.

BACA JUGA: Taksir Harga Damai di Restorative Justice

Dulu, Maemunah adalah anak tiri Wowon, atau anak isteri Wowon hasil prnikahan dengan suami sebelum Wowon. Total, Wowon menikahi empat perempuan.

Dalam interogasi awal, Wowon sudah down menghadapi polisi. Tak terlalu lama, Wowon mengakui, meracuni keluarganya. Diinterogasi lebih dalam, ia menyebutkan bahwa pembunuhan itu ia lakukan bersama Solihin, yang tinggal bertetangga di desa Cianjur itu.

Rumah Solihin cuma selemparan batu dengan rumah Wowon. Solihin ditangkap polisi, diinterogasi cross-check, mengakui, sama persis dengan keterangan Wowon.

Polisi melakukan penyelidikan lebih mendalam, juga mengkonfrontir pengakuan para tersangka. Baik Wowon dan Solihin mengaku, pekerjaan mereka sama: Paranormal.

Mereka didesak polisi tentang motif. Dalam interogasi terpisah, akhirnya terungkap, bahwa pekerjaan mereka adalah paranormal spesialis membuat orang jadi kaya. Padahal, mereka sendiri tidak kaya.

Dalam pekerjaan mereka, ternyata banyak pengguna, atau klien, atau pasien, komplain. Karena, pengguna tetap miskin meskipun sudah diterapi dan sudah membayar tarif paranormal kepada mereka.

Ketika interogasi lebih dalam lagi, tersangka Solihin ‘menggigit’ Dede Solehudin yang adiknya Wowon. Bahwa mereka bertiga berpraktik sebagai paranormal. Dan, selalu dikomplain pengguna yang gagal kaya. Padahal, Dede termasuk korban selamat keracunan.

BACA JUGA: Cinta Berondong Motif Mutilasi Bekasi

Akhirnya, motif pembunuhan terhadap tiga orang, ibu-anak-anak, diungkap polisi. Karena keluarga mengetahui lika-liku penipuan para tersangka terhadap pengguna yang gagal kaya, termasuk cara para tersangka mengelabui korban penipuan.

Penyidik melakukan investigasi lebih dalam lagi. Lebih serius lagi. Ternyata, di antara para pengguna, ada yang dibunuh. Satu demi satu korban pembunuhan diungkap polisi.

Alhasil, ada lima orang lain (selain Maemunah, Ridwan dan Riswandi) yang mereka bunuh. Polisi terus melakukan penyelidikan mendalam. Dengan cara menggeledah seisi rumah Wowon dan Solihin di Cianjur. Seluruh areal rumah diselidiki.

Kapolres Cianjur, AKBP Doni Hermawan kepada pers, Kamis, 19 Januari 2023 menyatakan, akhirnya polisi menemukan kuburan empat orang klien Wowon Cs.

Dua orang dikubur di gang sebelah rumah Wowon. Sudah dibongkar polisi. Jenazah sudah diangkat.

Iis (isteri Wowon) dalam interogasi polisi mengatakan, ia tidak tahu bahwa di gang rumah itu ada kuburan. Iis kepada polisi mengaku, pada November 2022 ia tahu Wowon menggali lubang cukup dalam di situ. “Kata suami saya, itu buat lubang septiktank,” akunya pada polisi.

Walaupun, posisi lubang kuburan itu agak jauh dengan posisi kamar mandi rumah tersebut. Penyidik masih terus menyelidiki berbagai titik di rumah tersebut.

Kemudian, polisi juga menemukan kuburan dua orang di rumah Solihin. Dibongkar juga. Masih dilakukan penyelidikan lebih teliti di seputar rumah Solihin.

BACA JUGA: Gaya Generasi Z Bunuh Bocah Incar Organ di Makassar

Dalam interogasi silang yang terpisah, antara Wowon dan Solihin, mereka mengakui ada satu mayat lagi yang mereka buang ke laut. Tanggal persisnya pembuangan mayat, mereka sudah lupa.

Total ada lima mayat klien paranormal Wowon-Solihin. Plus tiga mayat keluarga Wowon.

Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil kepada pers mengatakan: “Ini hasil investigation crime yang sangat teliti. Tapi, merupakan hasil sementara. Tidak tertutup kemungkinan ada korban lain, karena penyidikan masih berlangsung.”

Fadil: “Para tersangka melakukan serangkaian pembunuhan, atau yang biasa disebut serial killer dengan motif, maaf, janji-janji yang dikemas dengan kemampuan supranatural, untuk membuat orang menjadi sukses atau kaya.”

Lantas, para tersangka menganggap keluarga sendiri sebagai ‘penyakit’, sebab mengetahui perbuatan penipuan para pelaku, termasuk rangkaian pembunuhan terhadap klien.

Dilanjut: “Jadi, keluarga dekatnya dianggap berbahaya. Karena mengetahui bahwa tersangka melakukan tindak pidana lain dalam bentuk penipuan dan pembunuhan terhadap korban-korban lainnya.”

Lantas, mengapa Dede Solehudin ikut diracun, atau percobaan pembunuhan, padahal Dede adalah anggota dari komplotan tiga serangkai paranormal itu?

Jawabnya, polisi menyimpulkan bahwa itulah taktik komplotan ini. Strategi para tersangka penjahat itu mengelabui polisi, dengan cara Dede jadi korban.

BACA JUGA: Venna Melinda Ngegas, Minta Suami Ditahan

Diketahui kemudian, Dede memang keracunan, menelan racun pestisida yang sama dengan para korban lainnya. Tapi, dosis racun yang ditelan Dede tidak signifikan untuk membuatnya mati.

Tak dinyana, warga Kampung Babakan Mande, yang terselip di Desa Gunungsari, Cianjur, itu punya trik kejahatan berliku. Mereka, disebut Irjen Fadil sebagai pelaku serial killer. Yang selama ini hanya ada di film-film Barat.

Istilah ‘serial killer’, dicetuskan pertama kali oleh Agen Khusus (Special Agent) Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat, Robert K. Ressler pada 1974 di sana.

Robert K. Ressler dan Thomas Schachtman dalam buku mereka, bertajuk: “Whoever Fights Monsters: My Twenty Years Tracking Serial Killers for the FBI” (New York, 1993) menyatakan:

Istilah ‘serial killer’ pertama kali diajarkan dalam kuliah di Akademi Kepolisian di Bramshill, Hampshire, Inggris, Januari 1974.

Di situlah dipelajari berbagai teori dan penelitian tentang aneka pembunuhan berantai di Inggris, bahkan negara-negara Eropa. Walaupun, pembunuhan berantai sejatinya sudah ada sejak ratusan tahun sebelumnya.

Beda antara pembunuhan berantai zaman sebelum Perang Dunia ke-2 dengan di era sesudahnya, adalah teori yang digunakan penyidik kriminal. Jika sebelum PD II, pembunuh berantai dianggap orang gila.

Orang gila, tepatnya pengidap psikopat. Sehingga, sebagian besar pembunuh berantai di masa itu dirawat di RS jiwa, bukan penjara.

Ciri utama seorang psikopat adalah kurang empati. Ciri lainnya, adalah kecenderungan untuk berbohong, dan berbohong jadi kebiasaan, kebutuhan akan sensasi. Seorang psikopat cepat bosan, juga cenderung narsisme. Tetapi kurangnya empati adalah hal utama.

BACA JUGA: Venna Melinda-Ferry dari Bucin Jadi KDRT

Satu penjelasan umum adalah bahwa psikopat mengalami semacam trauma pada masa kanak-kanak. Antara lain, sejak masa bayi mereka. Akibatnya menekan respons emosional mereka.

Mereka tidak pernah mempelajari respons yang tepat terhadap trauma, dan tidak pernah mengembangkan emosi lain. Itulah penyebab mereka sulit berempati terhadap orang lain.

Mereka tumbuh tanpa mengetahui bagaimana “merasa”, dan sebaliknya belajar bagaimana mewujudkan apa yang mereka anggap sebagai emosi atau penampilan emosi yang benar.

Di era sesudah PD II, dianalisis, bahwa pembunuh berantai bukan orang gila. Melainkan orang waras. Bahkan, para pelaku punya strategi pembunuhan yang rumit. Disebut serial killer.

Setelah dipelajari di Inggris, pada awal 1980-an pelajaran itu diadopsi Los Angeles Police Department (LAPD) di AS. Mereka menciptakan sistem Violent Criminal Apprehension Program (ViCAP) pada 1985.

Tak perlu jauh-jauh ke Amerika, dari para dukun desa di Cianjur itu sudah lahir tiga serangkai tersangka serial killer. Yang, mereka masih berstatus tersangka.

Rangkaian kejahatan mereka akan diuji di persidangan, kelak. Pastinya hasil sidang mereka menarik perhatian masyarakat. Juga menambah ilmu buat Polri. (*)

Editor: DAD

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.