Gaya Generasi Z Bunuh Bocah Incar Organ di Makassar

waktu baca 6 menit
ILUSTRASI: Maulana Pamuji Gusti/Harian Disway

Membunuh motif jual jeroan di Makassar, Sulsel, bikin heboh. Korban bocah Fadli Sadewa (11). Pelaku AR (17) dan AF (semula ngaku usia 14, dicek polisi ternyata 18). Kejadian sadis ini mengerikan warga.

***

KEMPALAN: KAPOLRESTABES Makassar, Kombes Budhi Haryanto kepada pers, menjelaskan kronologi:

Senin, 9 Januari 2023 orang tua Fadli lapor polisi, Fadli semalam tidak pulang. Pelapor menduga, Fadli diculik di depan minimarket, berdasarkan keterangan warga yang melihatnya. Polisi langsung bergerak.

Polisi melihat rekaman CCTV di minmarket Alfa di Jalan Batua Raya, Makassar. Ternyata benar seperti dugaan pelapor. Dari rekaman CCTV, tampak, bahwa:

Minggu, 8 Januari 2023 petang, Fadli dibonceng motor seorang pria. Kelihatan, antara Fadli dengan pria pembonceng saling kenal. Fadli keliahatan ceria, tertawa-tawa. Dari situlah penyelidikan polisi dimulai.

Selasa, 10 Januari 2023 pagi mayat Fadli ditemukan di bawah jembatan di Jalan Inspeksi PAM Timur di sekitar Waduk Nipa-Nipa, Makassar. Kondisi kaki dan tangan terikat tali, terbungkus dalam kantong plastik hitam.

Selasa, 10 Januari 2023 AR dan AF ditangkap polisi. Mereka pelajar SMA di Makassar. AF semula mengaku usia 14, sehingga media massa memuatnya begitu. Lalu polisi memeriksa kartu keluarga dan akte kelahiran, ternyata usia 18.

Bagi polisi, faktor usia tersangka penting. Jika usia 14, masuk golongan anak-anak. Tapi kini para terdakwa bisa dikenakan Pasal 340 KUHP pembunuhan berencana, ancaman hukuman mati.

Dalam interogasi polisi, para tersangka mengakui perbuatan mereka. AR kepada polisi mengaku, pada Maret 2022 ia mengetahui dari situs web pencarian Yandex, bahwa ada yang mau membeli organ tubuh manusia. Harga jutaan US Dolar.

Yandex didirikan 1997 oleh tiga orang Rusia: Arkady Volozh, Arkady Borkovsky dan Ilya Segalovich. Nama website dari gabungan kata “Yet Another iNDEXer.”

Berdasar data Statcounter (aplikasi penilai pengunjung web) situs pencarian Yandex unggul di Rusia. Punya pangsa pasar 48,79 persen di sana. Sedangkan Google di sana 47,88 persen. Kemudian namanya diganti dari Yandex.ru (khusus Rusia) menjadi Yandex.com (global).

Tersangka AR tertarik, lantas melakukan komunikasi dengan calon pembeli organ tubuh. Tidak disebutkan, dari negara mana calon pembeli. Komunikasi mereka melalui email. Diterjemah AR menggunakan Google translate.

Kemudian AR mengajak AF mencari calon korban, yang bisa dibunuh untuk dijual organ tubuhnya. “Mereka baru menemukan calon korban pada Minggu (8/1) yakni, bocah Fadli,” kata penyidik.

AR dan AF menemukan Fadli (antara mereka saling kenal) di minimarket Alfa pada Minggu (8/1). AF kemudian menawari Fadli membersihkan rumah, dengan imbalan Rp 50 ribu. Fadli mau. Lalu, Fadli dibonceng motor AR

Fadli diajak ke rumah AF di Jalan Ujung Bori, Makassar. Tapi tidak jadi. Karena di rumah AF ada keluarga.

Beralih ke rumah AR di Jalan Batua Raya XIV, Makassar. Kosong. Ortu AR sedang menjaga toko kelontong mereka, tak jauh dari situ, di Jalan Batua Raya X B.

Setiba di rumah tersebut, Fadli disuruh menunggu, duduk di lantai, sambil menonton video di laptop di situ. Tidak dijelaskan, mengapa Fadli disuruh menunggu. Mungkin, AR dan AF mengumpulkan keberanian membunuh bocah Fadli.

Akhirnya, AR mendatangi Fadli dari belakang, mencekik sekuat tenaga pada leher kecil itu. Fadli berontak. Seketika AR membenturkan kepala Fadli ke tembok. “Lima kali,” ujarnya kepada polisi.

Fadli lemas. Tidak berontak lagi. Ternyata tewas seketika.

AR menghubungi email calon pembeli organ. Mengatakan, ia baru saja membunuh bocah. Organ sudah siap dijual.

AR kepada polisi: “Email saya ndak dibalas. Saya ndak tahu tempatnya ginjal.”

Waktu bergerak. Ditunggu beberapa saat, email AR tetap tak terbalas. AR dan AF panik. Sebelum hari gelap, dan ortu AR pulang, maka mayat harus disembunyikan.

Akhirnya mereka mengikat tangan dan kaki Fadli. Lalu dimasukkan dalam kantong plastik besar. Bungkusan itu dibawa motor. Berkeliling. Akhirnya dari atas jembatan di Jalan Inspeksi PAM Timur, bungkusan dilempar ke bawah. Dua hari kemudian ditemukan warga.

Jadi, jasad Fadli masih utuh. Belum dibedah. Karena AR “ndak tahu tempatnya ginjal”.

Setelah AR dan AF ditangkap polisi, dan beritanya tersebar, warga marah. Rumah AR dirusak warga. Sampai benar-benar rusak. Tiang rumah dibongkar, roboh. Rumah yang dijadikan toko kelontong juga dirusak warga. Tim polisi segera tiba, melerai warga.

Kekejaman AR dan AF membuat warga ngeri, seumpama yang jadi korban anak-anak mereka. Amuk warga kompensasi kengerian mereka, terbayang organ tubuh.

Penyidik menginterogasi para tersangka. Divideokan. Videonya tersebar di berita media massa. Warganet berkomentar: Tersangka tidak kelihatan menyesal.

Penyidik: “Mengapa membunuh?”

“Jual ginjalnya.”

“Tahu dari mana?”

“Internet. Tapi, emailnya ndak dibalas. Terus panik.”

“Kalau jual, uangnya buat apa?”

“Buat orang tua. Karena saya terus disuruh cari uang.”

Dalih tersangka, disuruh cari uang ortu, belum tentu benar. Mungkin cuma untuk memberi semangat. Di masyarakat tradisional, anak laki usia 17 memang bekerja ala kadarnya. Tapi buat mereka yang miskin. Sedangkan, ortu AR punya toko kelontong.

Bahwa Generasi Z cenderung mengincar ‘jutaan US Dolar’ tapi ogah kerja keras, sudah mengemuka. Mereka mengidolakan semacam Indra Kenz dan Donny Salmanan yang beberapa waktu lalu ditangkap polisi, karena tersangka menipu via online. Kerja enteng, duit banyak.

Generasi Z, berdasarkan teori generasi Graeme Codrington & Sue Grant-Marshall, Penguin (2004) adalah mereka yang lahir tahun 1995 – 2010. Mereka tumbuh di zaman internet. Terbukti, tersangka AR dan AF memburu ‘jutaan US Dolar” melalui Yandex.

Prof Sarah Damaske, guru besar sosiologi dan tenaga kerja dan asosiasi. hubungan kerja di Penn State University, Pennsylvania, Amerika Serikat, dalam tulisannya, mengatakan, Generasi Z cenderung ogah kerja, tapi tetap ingin punya banyak duit.

Pernyataan Damaske itu dimuat di Vox edisi 22 April 2022, bertajuk: “Gen Z does not dream of labor”. Bahwa karakter umum Gen Z, ingin serba cepat. Cepat kaya.

Menurut Damaske, itu akibat Gen Z dibesarkan di zaman dua resesi besar dunia. Pertama mega-resesi Amerika Serikat, 2008. Ke dua, resesi Covid-19 pada 2020. Dua resesi itu memukul warga dunia, menimbulkan pengangguran dalam skala besar.

Resesi itu bukannya membuat Gen Z bangkit, malah sebaliknya, ogah kerja. Tapi, keinginan dasar manusia, tetap ingin punya banyak duit. Dan cepat. Secepat chat WhatsApp yang pengirimnya ingin cepat dibalas, setelah tanda centang hijau.

Damaske: “Banyak zoomer (Gen Z) memasuki dunia kerja selama ekonomi dua kali terguncang itu. Maka secara alami, itu mempengaruhi sikap sosial mereka tentang pekerjaan.”

Tapi, mungkin tersangka AR dan AF tidak masuk dalam analisis Damaske. Kejauhan. Ketinggian. Mereka cuma remaja biasa di Kota Makassar. Yang ingin cepat dapat ‘jutaan US Dolar’. Meski, mereka sudah berkelana ke Yandex, yang umumnya masyarakat kita menggunakan Google.

Parahnya, para tersangka tidak mampu mengkonkritisasi antara transaksi online, dengan realitas: Bagaimana cara menyerahkan jeroan itu kepada calon pembeli? Apakah tubuh korban dibedah, diambil jeroan, lalu dimasukkan termos es, lantas dikirim DHL? Atau bagaimana?

Di situ tugas penyidik mengurai, adakah kemungkinan bahwa calon pembeli sebenarnya sudah ada di dekat mereka secara offline? Masak, setelah eksekusi kemudian mereka bingung dan panik? Bukankah itu sudah direncanakan hampir setahun? (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *