Seorang atasan yang hebat akan menjawab kritik dengan data dan bukti, bukan kata-kata yang menusuk hati. Ia meyakinkan, bukan memaksa atau mengusir. Karena tanah air ini milik semua, baik yang memuji maupun yang mengkritik.
Oleh: Hamid Nabhan
KEMPALAN: Perbedaan pandangan, kritik, dan penilaian yang beragam adalah napas demokrasi. Ada yang melihat kemajuan, ada pula yang melihat kekurangan, dan hal ini justru menjadi bahan masukan bersama untuk membangun bangsa menjadi lebih baik, karena kritik merupakan bunga-bunga demokrasi.
Namun belakangan, publik dikejutkan dengan pernyataan seorang atasan yang menyindir pihak yang berbeda pandangan dengan kalimat ”kabur saja”, bahkan menyebutkan tempat tertentu sebagai pilihan tujuan.
Ucapan ini melampaui batas etika, tidak hanya merendahkan pihak yang dikritik, tapi juga berisiko memicu brain drain (kasus keluarnya talenta, tenaga ahli dan cendekiawan ke luar negeri atau lingkungan yang lebih menghargai mereka).
Ketika ruang berpendapat ditutup dengan ancaman atau semacam pengusiran, maka orang-orang yang memiliki keahlian dan kepedulian akan merasa tidak memiliki tempat, padahal merekalah aset pembangunan.
Seorang atasan yang bijak tidak akan mengambil jalan pintas demikian. Sebelum memutuskan apapun, ia wajib membuka dialog, memberi ruang, dan melakukan evaluasi mendalam.
Seringkali apa yang dianggap salah dari individu, justru merupakan cerminan masalah dalam sistem atau gaya kepemimpinan itu sendiri. Mengusir bukan solusi, melainkan pengingkaran tanggung jawab.
Fenomena ini juga menunjukkan pola psikologis: ketika pemimpin merasa gagasannya tidak diterima atau dikritik, ada kecenderungan menarik diri dan bersikap eksklusif.
Padahal justru di situasi inilah kematangan diuji. Jika hanya ingin didengar tapi tidak mau mendengar, lambat laun dukungan dan kepercayaan publik akan hilang.
Pada era media sosial, satu kalimat bisa menjadi simbol dan menyebar ke seluruh dunia dalam sekejap. Apa yang dianggap candaan atau sindiran, bisa berbalik merusak citra diri maupun bangsa.
Komunikasi atasan haruslah hati-hati, empatik, dan terukur.
Sejarah juga mencatat banyak pemimpin dunia yang mengalami kesalahan ucap, dari Joe Biden, Merz, hingga Donald Trump.
Dampaknya selalu sama, yaitu menurunnya kepercayaan, ketegangan hubungan, kegaduhan, hingga kerugian politik. Pelajarannya jelas: setiap kata adalah aset sekaligus tanggung jawab.
Seorang atasan yang hebat akan menjawab kritik dengan data dan bukti, bukan kata-kata yang menusuk hati. Ia meyakinkan, bukan memaksa atau mengusir. Karena tanah air ini milik semua, baik yang memuji maupun yang mengkritik.
Tugas atasan adalah merangkul semuanya, bukan memisahkan atau mengusir yang mengkritiknya. Sebab mengkritik adalah bentuk kepedulian, dan kritik sama sekali bukanlah hate speech atau ujaran kebencian.
*) Hamid Nabhan, Seniman dan Budayawan

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi