Rabu, 29 April 2026, pukul : 20:30 WIB
Surabaya
--°C

Karpet Merah untuk Sang Raksasa Berhati Emas : Elpanta Tarigan, Atlet Nasional Tunanetra yang Diangkat Jadi Keluarga Abadi Unesa

SURABAYA-KEPALAN : Di tengah keriuhan 1.437 wisudawan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) edisi ke-119, Rabu (29/4/2026), sepasang langkah tegap menarik perhatian seluruh pasang mata di Graha Unesa. Ia adalah Elpanta Tarigan. Dengan postur menjulang setinggi 215 sentimeter—salah satu yang tertinggi di Indonesia—sosoknya tampak seperti raksasa. Namun, bukan tinggi badannya yang membuat Rektor Unesa, Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes (Cak Hasan), memberikan penghormatan “Karpet Merah”, melainkan kegigihan mentalnya yang tak tertembus kegelapan.
Elpanta, pemuda asal Deli Serdang, Sumatera Utara, resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Dunia El berubah gelap sejak usia 12 tahun akibat vonis tumor otak. Namun, kehilangan penglihatan justru mempertajam visinya tentang masa depan. Di balik keterbatasan fisiknya, El ternyata juga seorang atlet Tunanetra peraih medali emas nomor tolak peluru di ajang Pekan Paralimpik Pelajar Nasional (Peparpenas )2017 dan pecatur tangguh yang pantang menyerah.

Keajaiban di Balik Kesunyian

Perjalanan El menaklukkan Surabaya bukan tanpa luka. “Awalnya berat. Saya sempat terpuruk, bahkan menerima ejekan yang menyakitkan. Tapi saya percaya, Tuhan tidak pernah mengambil sesuatu tanpa menggantinya dengan yang lebih baik,” kenang El dengan nada bergetar.
Beradaptasi di tanah perantauan dengan budaya yang berbeda seratus derajat dari Sumatera Utara adalah tantangan tersendiri. Namun, Unesa bagi El adalah rumah kedua yang hangat. Dengan fasilitas inklusif seperti guiding block dan lingkungan Program Studi Pendidikan Luar Biasa (PLB) yang ramah, El mampu menyelesaikan skripsinya tentang peran Pertuni di Lamongan hanya dalam waktu empat bulan menggunakan teknologi pembaca layar.

Hadiah Tak Terduga: Beasiswa S2 dan Kursi Karyawan Tetap

Kekaguman jajaran pimpinan Universitas memuncak saat Cak Hasan naik ke podium. Secara eksklusif, Rektor yang dikenal energik ini mengumumkan keputusan yang membuat satu gedung terdiam haru: Elpanta tidak hanya diberi beasiswa S2, tetapi langsung diangkat menjadi karyawan tetap di Unesa.

Komentar Rektor Cak Hasan:

“Unesa adalah rumah bagi para juara, dan Elpanta adalah definisi nyata dari seorang pemenang. Kami tidak melihat keterbatasannya, kami melihat api di jiwanya. El adalah aset bangsa. Postur 215 centinya adalah simbol kekuatan, dan hatinya adalah emas bagi institusi ini. Hari ini, saya katakan pada dunia: Unesa tidak akan melepas El. Dia resmi menjadi bagian dari keluarga besar kami, staf tetap dengan posisi khusus untuk menginspirasi mahasiswa lain. Karpet merah ini adalah bentuk sujud syukur kami atas kehadirannya di sini,” tegas Cak Hasan.

Hati yang Terenyuh oleh Adat Jawa


Mendengar pengumuman itu, Elpanta tampak menyeka air mata. Ia mengaku terenyuh dengan cara Unesa dan masyarakat Surabaya memperlakukannya.
“Saya datang dari jauh dengan budaya yang keras dan berbeda. Saya pikir saya akan asing di sini. Tapi ternyata, Unesa memanusiakan saya dengan cara yang luar biasa. Saya terenyuh, meski saya tunanetra, saya merasa ‘dilihat’ lebih dari orang normal lainnya. Kebijakan Cak Hasan hari ini adalah kado yang tak pernah saya bayangkan dalam mimpi paling liar sekalipun,” ungkap El dengan suara parau penuh haru.

Kini, raksasa dari Deli Serdang itu tidak perlu lagi merasa cemas akan masa depannya. Dengan medali emas tolak peluru di tangan dan kontrak kerja di depan mata, Elpanta Tarigan telah membuktikan bahwa satu-satunya kegelapan yang nyata adalah ketika seseorang berhenti bermimpi.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.