Senin, 27 April 2026, pukul : 11:59 WIB
Surabaya
--°C

Buku Baru Widodo Basuki : “Kutut Golek Kurungan”

KEMPALAN : Istilah crita seprapat kaca cukup dikenal di kalangan penulis sastra Jawa. Kurang lebih artinya : cerita seperempat halaman.

Jika di format majalah mengisi seperempat halaman, di format buku : satu halaman.

Ini semacam cerita fiksi mini yang mulai dikenal oleh penulis sastra Jawa pada sekitar tahun 1970-an.
Sastra Jawa jenis ini sering terpasang di majalah berbahasa Jawa Jayabaya dan Panjebar Semangat.

Seperti dijelaskan Prof. Ganjar Kurnia, soal sastra jenis ini adalah : fiksi mini — menyuling kata menghadirkan imajinasi tak terbatas.

Disebut fiksi mini karena berasal dari lingkup bahasa Inggris yang berpusar pada minifiction, nanofiction, microfiction, dan flashfiction.

Cerita genre ini fragmentalis. Proyeksinya diwujudkan pada gagasan dan imajinasi dalam wacana singkat, di mana pembaca digiring supaya tidak kehilangan alur cerita. Tahu-tahu pada akhir cerita dibikin surprised.

Sebetulnya Ernest Hemingway telah memulai pada tahun 1920. Hanya saja saat itu belum dikenal istilah fiksi mini.

Dalam konteks yang bersinggungan dengan fiksi mini, kisah-kisah jenaka namun sarat pitutur dibawakan sosok sufi yang dikenal sebagai Abunawas.

*

Apa yang saya paparkan di atas, saya sadur dari catatan buku kumpulan 33 crita seprapat kaca “Kutut Golek Kurungan” karya penulis sastra Jawa Widodo Basuki yang termuat pada kover belakang buku tersebut.

Kutut golek kurungan jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia : burung perkutut mencari sangkar.

Widodo Basuki (lahir 18 Juli 1967) adalah sastrawan dan pemimpin redaksi majalah berbahasa Jawa Jayabaya yang sangat produktif dalam menulis geguritan (puisi Jawa) dan prosa Jawa modern.

Dikenal sebagai “Raja Gurit”, karyanya sering mengangkat tema sosial, budaya, dan surealisme Jawa. Ia aktif berkarya melalui berbagai kumpulan geguritan.

Widodo Basuki lahir di Trenggalek dan merupakan alumni Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya.

Beberapa buku kumpulan geguritannya meliputi “Layang Saka Paran”, “Ajisaka Angejawa”, dan “Jaran Tunggangan”.

Ia juga menulis ratusan cerkak (cerita cekak/cerita pendek) dan beberapa novelet berbahasa Jawa.

Karakteristik karyanya, seperti “Tandur”, sering dianalisis menggunakan pendekatan semiotika dan kaya akan nilai moral serta budaya Jawa.

Widodo Basuki konsisten menjaga eksistensi sastra Jawa modern di tengah gempuran sastra Indonesia.

Ia adalah salah satu penulis sastra Jawa peraih Anugerah Rancage (hadiah sastra daerah) yang digagas dan dipelopori oleh sastrawan Ajip Rosidi.

Tentang “Kutut Golek Kurungan”, Widodo Basuki yang juga dikenal sebagai pelukis dan pematung, menambahkan, “Ini hanya kumpulan kisah-kisah orang kecil menertawai nasibnya yang selalu kalah,” disertai gesture dan tutur kata yang senantiasa merendah. (AM).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.