Selasa, 26 Mei 2026, pukul : 06:56 WIB
Surabaya
--°C

Diplomasi Memanas: Pesan Keras Pentagon ke Duta Besar Vatikan

Di tengah dinamika ini, publik bisa saja melihatnya seperti drama keluarga besar: ada yang ingin mengatur, ada yang menolak diatur, dan semuanya berlangsung di ruang tamu yang sama – dengan dunia sebagai penonton.

Oleh: Massayik IR

KEMPALAN: Pesan itu tidak berlapis diplomasi seperti biasanya. Amerika Serikat, kata Wakil Menteri Pertahanan Elbridge Colby, memiliki kekuatan militer untuk bertindak tanpa batas, dan Gereja Katolik “sebaiknya berada di pihak yang sama”.

Pernyataan ini terasa seperti tamu yang datang ke rumah orang lain, lalu memberi tahu aturan mainnya sendiri – situasi yang sulit diabaikan, apalagi bagi institusi sekelas Vatikan.

Ketegangan semakin terasa ketika seorang pejabat AS mengungkit peristiwa Avignon Papacy. Dalam sejarah itu, Paus pernah dipindahkan secara paksa dari Roma ke Avignon di bawah bayang-bayang kekuasaan monarki Prancis.

BACA JUGA  Prabowo Bikin Bursa Gemetar, Cukong Menyeringai

Referensi tersebut bukan hanya sekadar catatan sejarah, melainkan isyarat simbolik: tekanan politik bisa datang dalam bentuk apa pun, bahkan pada otoritas spiritual.

Respons Vatikan terbilang cepat dan terukur. Rencana kunjungan Paus Fransiskus ke Amerika Serikat dalam rangka peringatan 250 tahun negara itu dibatalkan.

Keputusan ini memunculkan pertanyaan: apakah ini langkah defensif, atau sinyal bahwa hubungan kedua pihak sedang berada di titik rawan?

Namun alih-alih meredam sikap, Paus justru mengambil posisi yang lebih tegas. Ia menyebut konflik yang sedang berlangsung sebagai tidak adil dan mengritik ancaman dari Presiden Donald Trump.

Bahkan, ia mendorong warga Amerika untuk menekan Kongres – sebuah langkah yang jarang terdengar dari seorang pemimpin Gereja.

BACA JUGA  Prabowo dan Ilusi Koperasi Palsu

Situasi ini membuka sejumlah tanda tanya. Apakah ini bentuk baru tarik-menarik antara kekuatan politik dan moral di panggung global? Atau sekadar episode lain dalam hubungan panjang yang kerap naik-turun antara Washington dan Vatikan?

Di tengah dinamika ini, publik bisa saja melihatnya seperti drama keluarga besar: ada yang ingin mengatur, ada yang menolak diatur, dan semuanya berlangsung di ruang tamu yang sama – dengan dunia sebagai penonton.

Yang jelas, peristiwa ini menunjukkan bahwa bahkan institusi sebesar negara adidaya dan otoritas keagamaan global pun tidak kebal dari gesekan.

Dan ketika sejarah lama ikut diseret ke meja perundingan, mungkin yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar kebijakan, melainkan juga pengaruh dan legitimasi.

*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.