Jumat, 12 Juni 2026, pukul : 15:01 WIB
Surabaya
--°C

Abbas Araghchi dan Strategi “Karpet Merah” untuk Prancis: Iran Mulai Memecah Blok Barat?

Namun satu hal yang tak bisa dibantah bahwa: Iran berhasil menciptakan celah di antara negara-negara yang biasanya kompak di bawah komando Washington.

Oleh: Massayik IR

KEMPALAN: Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, kembali membuat dan mencatatkan manuver diplomatik yang mengundang atensi.

Setelah Spanyol, kini Prancis mendapat izin lintas gratis bagi kapal-kapalnya di Selat Hormuz, selat strategis yang selama ini menjadi arena tarik-menarik kepentingan global.

Dua negara Eropa ini seolah mendapat “karpet merah” dari Iran. Sementara itu, sekutu Washington lainnya masih harus bernegosiasi alot dengan Korps Garda Revolusi Islam.

Langkah Teheran ini bukan sekadar soal kemudahan navigasi. Pengamat menilai ada pola sistematis di balik pemberian akses eksklusif: Iran sedang bermain catur geopolitik dengan memecah solidaritas negara-negara Barat.

BACA JUGA  Semangat Pantang Menyerah: Langkah Kecil Yang Konsisten Hantarkan Partai Gerakan Rakyat Menjadi Besar, Insyaallah

Ketika Presiden Donald Trump masih getol menerapkan kebijakan “tekanan maksimal”, Araghchi justru membuka pintu bagi mitra-mitra Eropa yang mulai lelah dengan ultimatum Washington.

Pertanyaannya, seberapa efektif strategi “bagi-bagi kue” ini untuk mengikis pengaruh AS di kawasan?

Bisa dibilang, Araghchi seperti tetangga yang baik hati memberi bantuan, tapi diam-diam tahu bahwa penerima bantuan tersebut sedang berselisih dengan orang yang tidak disukainya.

Dengan memberi keistimewaan pada Spanyol dan Prancis, Iran mengirim sinyal halus: “Kami bisa kooperatif, asal kalian tak ikut-ikutan menggertak.”

Skenario ini tentu membuat Washington canggung, karena dua (2) sekutu lamanya justru mendapat fasilitas yang tidak bisa dinikmati kapal-kapal perang AS sendiri.

Di tengah hiruk-pikuk sanksi dan ancaman militer, langkah Araghchi seperti menuangkan air dingin di atas panggung yang panas.

BACA JUGA  Genosida: Dunia Mengutuk, Dunia Memasok

Bukankah lucu juga bahwa negara yang sering disebut “poros kejahatan” oleh mantan presiden AS itu justru bisa memberi lalu-lintas tenang bagi kapal-kapal Eropa?

Ironi ini menjadi bumbu segar bagi siapa pun yang gemar mengamati absurditas politik global.

Tentu, klaim bahwa Trump akan “tamat” atau Amerika “merenung penuh penyesalan” mungkin terdengar seperti harapan berlebihan.

Namun satu hal yang tak bisa dibantah bahwa: Iran berhasil menciptakan celah di antara negara-negara yang biasanya kompak di bawah komando Washington.

Dan ketika sekutu Eropa mulai menikmati “hak istimewa” dari Teheran, pertanyaannya bukan lagi apakah AS terisolasi, melainkan seberapa jauh Eropa berani menjauh.

*) Massayik IR, Pemerhati Politik Internasional

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.