Rabu, 10 Juni 2026, pukul : 09:58 WIB
Surabaya
--°C

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Padahal, dalam rekaman video yang beredar di medsos, SBY tampak menerima Anies dengan tangan terbuka dan penuh persahabatan. Ironi sekali dengan yang disampaikan panitia open house.

Oleh: Tony Rosyid

KEMPALAN: Idul Fitri populer di Indonesia dengan istilah lebaran. Istilah ini muncul untuk menandai selesainya puasa. Selesai itu dalam bahasa lain adalah lebaran.

Tradisi lebaran di Indonesia diisi dengan silaturahmi. Silaturahmi antar saudara, teman dan handaitolan. Setiap lebaran, jalanan di mana-mana macet karena berjubel orang secara serentak bersilaturahmi. Dari satu rumah ke rumah yang lain. Dari satu keluarga ke keluarga yang lain. Dari satu teman ke teman yang lain.

Para perantau mudik supaya bisa bersilaturahmi dengan saudara-saudaranya di kampung, juga teman-teman lamanya. Berapapun harga dan ongkosnya, mereka tetap balik kampung. Semua demi bertemu dengan keluarga, saudara dan teman-teman lamanya.

Bahkan tak sedikit yang harus mancari pinjaman uang hanya untuk ongkos pulang kampung. Sebuah momentum mengharukan yang tak ingin mereka lewatkan.

Para pejabat dan orang-orang populer punya tradisi open house. Membuka pintu rumahnya untuk siapapun yang ingin silaturahmi. Tanpa undangan, karena ini momentum lebaran. Dibuka untuk semua orang tanpa mengenal status dan kelas. Semua boleh datang dan silaturahmi. Bermaaf-maafan antar sesama.

BACA JUGA  Pemimpin Berwatak Maling (Bag-1)

Presiden, menteri, gubernur, walikota, bupati, ketum partai, artis, biasanya open house saat lebaran. Bahkan seringkali mereka juga menyiapkan ampao untuk  masyarakat kelas bawah yang datang.

SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), presiden ke-6 juga biasa open house. Kali ini, agak heboh. Sebenarnya tidak perlu heboh. Entah mengapa jadi heboh. Sumber heboh berasal dari Partai Demokrat sendiri.

Mengapa heboh? SBY kedatangan Anies Baswedan. Silaturahmi ketika lebaran. Sesuatu yang lumrah, wajar dan ini menjadi bagian dari suatu tradisi masyarakat Indonesia. Tapi mengapa jadi heboh?

Setelah Anies pulang dari rumah SBY, panitia open house membuat pernyataan bahwa “panitia tidak mengundang Anies”. Pertanyaannya: apakah open house SBY khusus buat yang diundang? Macam resepsi pernikahan saja.

Pernyataan panitia ini seolah menegaskan bahwa SBY tak berkenan Anies datang. Meski di momentum lebaran. Mengingat lebaran adalah momentum silaturahmi dan ruang untuk saling memaafkan, apakah penolakan ini pertanda bahwa SBY masih marah sama Anies dan enggan membukakan pintu maaf buat Anies?

Emang apa dosa Anies terhadap SBY?

Istilah dosa di sini tidak berkaitan dengan moral dan agama, tapi lebih pada aspek politik.

Pemilu 2024, Anies Baswedan – AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) disiapkan untuk maju bersama sebagai calon presiden dan wakil presiden. Persiapannya setengah matang, rencana ini bubar.

BACA JUGA  Ketika “The President’s Men” Mengalahkan Peraih Adhi Makayasa

Partai-partai pengusung Anies lebih menginginkan jika Anies berpasangan dengan Muhaimin Iskandar. Meski pada alkhirnya pasangan ini kalah. Apakah peristiwa ini yang dianggap dosa besar oleh SBY sehingga pada momen lebaran sekalipun SBY tidak membukakan pintu silatirahmi untuk Anies?

Atau mungkin ada faktor lain dimana Demokrat menjadi bagian dari koalisi Prabowo. SBY takut jika kedatangan Anies dianggap sebagai persiapan koalisi 2029 yang menciptakan asumsi rivalilitas terhadap Prabowo?

Spekulasi publik semakin liar ketika panitia open house membuat pernyataan yang seperti memberi ketegasan bahwa Anies tidak diundang, yang artinya Anies tidak dikehendaki oleh SBY untuk datang.

Kesan yang ditangkap publik bahwa pernyataan ini bisa menjadi semacam upaya untuk “mempermalukan Anies” di depan publik. Tidak diundang kok datang? Begitulah kira-kira pesannya.

Padahal, dalam rekaman video yang beredar di medsos, SBY tampak menerima Anies dengan tangan terbuka dan penuh persahabatan. Ironi sekali dengan yang disampaikan panitia open house.

Ini bagian dari risiko kekalahan politik yang Anies Baswedan harus legowo untuk bisa menerimanya. Pihak yang kalah selalu salah, karena narasi kebenaran itu lazim didominasi oleh para pemenang.

*) Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.