Dan, di balik langit yang dipenuhi jejak rudal itu, satu misteri besar masih menggantung: Berapa banyak senjata yang sebenarnya masih tersembunyi di bawah gunung-gunung Iran?
Oleh: Agus M Maksum
KEMPALAN: Langit Timur Tengah malam itu kembali menyala. Sirene meraung di berbagai kota Israel. Garis-garis cahaya memotong langit seperti meteor yang berkejaran – sebagian adalah rudal yang datang dari kejauhan, sebagian lagi adalah pencegat yang diluncurkan dari darat.
Gelombang serangan Iran kembali datang. Ini bukan gelombang pertama. Bukan pula yang kesepuluh. Ini adalah gelombang ke-47.
Dan justru di angka itulah para analis militer dunia mulai bertanya dengan nada yang lebih serius: Apakah yang kita saksikan di langit Israel selama ini hanyalah pembukaan kecil dari strategi yang jauh lebih besar?
Langit yang Terus Diguncang
Selama beberapa hari terakhir, Iran tidak melancarkan satu serangan besar yang menentukan. Sebaliknya, yang terjadi adalah sesuatu yang jauh lebih aneh.
Rudal datang sedikit demi sedikit. Serangan muncul bergelombang. Kadang puluhan, kadang hanya beberapa. Namun mereka tidak pernah benar-benar berhenti.
Di dunia militer, pola seperti ini memiliki nama yang sangat tua – tetapi tetap mematikan: war of attrition. Perang pengurasan. Strateginya sederhana, bahkan hampir terlihat sepele.
Bukan menghancurkan musuh dalam satu malam, tetapi membuat musuh menghabiskan amunisinya sedikit demi sedikit.
Iron Dome yang Dipaksa Bekerja Tanpa Henti
Setiap kali radar Israel mendeteksi rudal masuk, sistem pertahanan udara mereka langsung aktif. Iron Dome menghitung trajektori.
Jika rudal diperkirakan jatuh di wilayah penting, sistem meluncurkan interceptor Tamir untuk menghancurkannya di udara.
Selama bertahun-tahun sistem ini dipuji sebagai salah satu pertahanan udara paling efektif di dunia. Tingkat keberhasilannya diklaim mencapai 85 hingga 90 persen.
Namun semua sistem pertahanan memiliki satu kelemahan yang tidak pernah bisa dihindari: amunisi terbatas. Setiap rudal yang dicegat memerlukan satu – kadang dua – interceptor.
Dan setiap interceptor memiliki harga yang tidak murah. Ketika serangan datang terus-menerus, satu demi satu interceptor diluncurkan. Pelan-pelan, stok itu bisa berkurang.
Dan itulah yang tampaknya sedang dicoba oleh Iran.
Perang Biaya yang Sunyi
Ada ironi yang pahit dalam konflik ini. Banyak rudal yang digunakan Iran relatif sederhana dan murah dibandingkan teknologi Barat. Sementara Israel harus menembakkan interceptor yang jauh lebih mahal untuk menghentikannya.
Dalam doktrin militer modern, kondisi ini disebut: asymmetric cost warfare – perang biaya yang tidak seimbang. Satu pihak dapat menembakkan senjata murah dalam jumlah besar.
Pihak lain dipaksa menggunakan pertahanan mahal untuk menahannya. Jika saja perang berlangsung cukup lama, pertanyaan yang muncul bukan lagi siapa yang lebih kuat, tetapi: siapa yang lebih dulu kehabisan stok.
Misteri Gudang Rudal Iran
Namun yang membuat para analis semakin gelisah bukanlah jumlah rudal yang sudah ditembakkan. Melainkan jumlah rudal yang belum ditembakkan.
Selama dua dekade terakhir, Iran membangun salah satu program rudal terbesar di dunia.
Karena keterbatasan angkatan udara akibat embargo internasional, Iran memilih fokus pada sesuatu yang berbeda: arsenal rudal balistik dan drone.
Menurut berbagai estimasi intelijen, Iran memiliki: ribuan rudal jarak pendek, ratusan rudal jarak menengah, stok besar drone kamikaze, dan berbagai rudal jelajah.
Sebagian besar disimpan di fasilitas yang tersembunyi jauh di dalam tanah.
Media Iran sendiri pernah memperlihatkan jaringan bunker raksasa yang mereka sebut: “kota-kota rudal”. Terowongan panjang di dalam pegunungan, dipenuhi peluncur dan amunisi.
Gudang senjata yang dibangun bukan untuk satu pertempuran tetapi untuk perang panjang.
Strategi Waktu
Jika Iran benar-benar memiliki stok sebesar itu, maka serangan bertahap hingga gelombang ke-47 mulai terlihat dalam cahaya yang berbeda. Ini mungkin bukan tanda bahwa mereka kehabisan kekuatan. Justru sebaliknya.
Ini mungkin tanda bahwa mereka sedang menahan sebagian besar kekuatan mereka.
Dalam doktrin militer, konsep ini dikenal sebagai: strategic reserve. Cadangan strategis tidak digunakan pada awal perang. Ia disimpan untuk saat ketika konflik mencapai titik yang paling menentukan.
Dengan kata lain, gelombang demi gelombang yang terlihat sekarang mungkin hanyalah tetesan awal dari badai yang lebih besar.
Perang yang Belum Mencapai Puncaknya
Hari ini dunia melihat rudal melintas di langit Timur Tengah. Tetapi yang tidak terlihat adalah permainan waktu yang sedang berlangsung di balik layar.
Israel berusaha menghancurkan fasilitas militer Iran sebelum konflik meluas. Iran mencoba menguras pertahanan musuh tanpa memicu perang total terlalu cepat.
Dua strategi yang saling berhadapan. Dua jam pasir yang sama-sama menunggu butir terakhir jatuh.
Karena dalam peperangan seperti ini, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi paling canggih.
Seringkali ditentukan oleh satu hal yang jauh lebih sederhana siapa yang mampu bertahan lebih lama.
Dan, di balik langit yang dipenuhi jejak rudal itu, satu misteri besar masih menggantung: Berapa banyak senjata yang sebenarnya masih tersembunyi di bawah gunung-gunung Iran?
Karena dalam perang modern, bahaya terbesar bukanlah rudal yang sudah ditembakkan… melainkan rudal yang masih menunggu di gudang.
*) Agus M Maksum, Pengamat Teknologi dan Politik Digital

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi