Meski berasal dari abad ke-13, pesan Rumi tetap relevan pada era modern karena menyentuh aspek universal dari kehidupan manusia, seperti: cinta, kebahagiaan, pencarian makna, dan kebijaksanaan.
Oleh: Prof. Yudi Latif
KEMPALAN: Saudaraku, kemarin (10/03/26), Dompet Dhuafa menggelar acara Puisi dan Religi. Acara syahdu yang mengingatkan saya pada sosok Jalaluddin Rumi, guru spiritual yang lahir di wilayah Persia (Iran) dan meninggal di daerah Turkiye.
Karyanya diapresiasi lintas agama dan budaya, yang memberi bukti bahwa suatu ajaran spiritual yang bersifat universal itu mungkin.
Karya Rumi memiliki keistimewaan dan kedalaman spiritual; menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan, cinta ilahi, dan perjalanan menuju pencerahan.
Ia menggunakan simbolisme sufistik untuk menjelaskan konsep metafisika yang kompleks, seperti persatuan dengan Sang Ilahi.
Tema utama dalam karyanya adalah cinta universal – baik cinta kepada Tuhan, sesama manusia, maupun alam semesta.
Baginya, cinta adalah jalan untuk mencapai penyatuan dengan Tuhan. Hal ini tercermin dalam syair-syairnya yang penuh keindahan dan menyentuh hati.
Rumi sangat mahir menggunakan metafora yang kaya dan mendalam, seperti anggur, tarian, api, dan musik, untuk menyampaikan pesan spiritual.
Gaya bahasanya bersifat universal dan inklusif; tidak membedakan agama, budaya, atau ras. Pesannya menekankan persatuan dan kemanusiaan. Sebagai seorang sufi, ia menolak eksklusivitas dogma dan lebih mengutamakan pada pengalaman batin.
Puisi-puisinya memiliki irama dan estetika yang memukau, sehingga tetap relevan hingga kini.
Ia menulis dalam bahasa Persia, tetapi karyanya telah diterjemahkan ke banyak bahasa, tanpa kehilangan esensi.
Karya-karyanya Abadi. Masnavi-i Ma’navi (Masnavi), sering disebut “Al-Qur’an dalam bahasa Persia”, merupakan kumpulan cerita, perumpamaan, dan refleksi spiritual yang mendalam.
Rumi juga dikenal sebagai inspirasi bagi tarian sufi (Whirling Dervishes), berupa gerak melingkar yang melambangkan perjalanan menuju Tuhan. Musik sering menjadi elemen penting dalam ritual sufistik yang diilhami oleh ajarannya.
Meski berasal dari abad ke-13, pesan Rumi tetap relevan pada era modern karena menyentuh aspek universal dari kehidupan manusia, seperti: cinta, kebahagiaan, pencarian makna, dan kebijaksanaan.
Karyanya menjadi warisan sastra dan sumber inspirasi spiritual lestari yang telah menobatkannya sebagai salah seorang penyair spiritualis terbesar dalam sejarah.
Kuburan Budaya
Saudaraku, sudah lama tak bisa kutulis puisi. Jantung hati tak lagi berdenyut. Darah kata tak lagi mengalir. Tatkala kata-kata indah terasa hampa di tengah keriuhan viralitas dan gurita kesewenangan, daya kata kehilangan tuahnya.
Gerak hidup dijalani dengan mati rasa. Hilang percaya bisa membuat lenyap asa. Hilang arah membuat limbung langkah. Hilang cinta membuat lemah karsa. Hilang karsa membuat beku cipta.
Mencoba bangkit dari kematian. Tapi, belum tuntas kutuliskan satu bait, matahari sudah di titik zenit.
Kata-kata tak mudah lagi mengalir dari hulu sungai syarafku. Pembuluh darah kata tersumbat di sekujur tubuh.
Banyak yang tak sanggup lagi kupirkan, karena kian banyak hal berjalan di luar nalar. Pikiran yang menggenang lama-lama membeku, sulit mencair jadi tetesan kata.
Jadilah aku terus berjalan dalam kematian. Karena menulis aku ada, kehilangan kemampuan menulis adalah kematian sebelum mati. Sungguh miris.
Dalam demokrasi yang mestinya dirayakan dengan kebebasan berpikir dan juga kemampuan artikulasi, yang kutemukan justru kuburan massal daya cipta, rasa dan karsa.
*) Prof. Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi