Kamis, 7 Mei 2026, pukul : 20:05 WIB
Surabaya
--°C

Puasa, Pertahanan dan Energi

Ketiga tahap itu adalah proses menyiapkan puasawan untuk berzakat, untuk hidup bersih dari riba dan fithry. Bersih dari tumpukan lemak, kolesterol, dan gula yang melumpuhkan.

Oleh: Daniel Mohammad Rosyid

KEMPALAN: Pertahanan atau defense, adalah satu atribut negara atau bangsa yang penting, yaitu kemampuannya untuk mempertahankan integritasnya dalam dinamika global.

Kekaisaran Romawi yang sangat luas, akhirnya runtuh di pertengahan milenium pertama karena pertahanannya hancur.

Ada serangan eksternal dari bangsa-bangsa Jermanik dari utara, dan (juga) krisis internal: krisis ekonomi dan inflasi, ketidakstabilan politik dan korupsi, lingkungan dan penyakit serta perpecahan.

Selanjutnya pusat kekuatan berpindah dari Roma ke Konstantinopel (sekarang Istanbul) yang masih eksis hingga penaklukannya oleh Muhammad Al Fatih pada akhir abad 15.

Pada Abad 21 ini kita menyaksikan degradasi Pax Americana yang dipimpin AS di bawah Donald Trump, serta kebangkitan China. Dunia tidak lagi unipolar selama 20 tahun lebih sejak keruntuhan Uni Sovyet 1990-an, namun makin multi-polar dengan kemunculan Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan (BRICS).

Beberapa pengamat seperti Fareed Zakarya sudah menarasikan A Post-American World. Bahkan Emmanuel Todd menyebutnya The Defeat of the West (2024). Todd menyebut 3 sebab: nilai-nilai agama ditinggalkan, deindustrialisasi, dan disintegrasi sosial akibat penurunan kesehatan, dan peningkatan kekerasan di masyarakat.

Ciri masyarakat “dunia maju” yang kini mundur itu adalah obesitas, termasuk energy-obese dengan tingkat konsumsi energi perkapita yang berlebihan (sekitar 7-10 kL setara minyak pertahun), sementara kita hanya 10%-nya saja.

Karena persoalan yang sama, sekarang kita sedang menyaksikan keruntuhan Pax Americana. Kegendutan energi telah menyebabkan AS makin rapuh dari dalam. Masyarakat AS digerogoti oleh Penyakit Tidak Menular (jantung, diabetes, stroke, kanker) yang serius.

Seperti Romawi, makin tampak AS mengalami overstretched. Bahkan kini banyak pangkalan militer AS di Timur Tengah menjadi bebek lumpuh menghadapi rudal dan drone Iran.

Kelumpuhan ini, ironically, justru karena mereka mudah sekali kelaparan energi apalagi menghadapi serangan asimetris Iran yang lebih murah dan rendah-energi.

Muhammad Rasulullah Saw bersabda bahwa puasa adalah perisai. Jika teknologi adalah sistem kemampuan proses nilai tambah, maka puasa itu adalah sistem kemampuan proses nilai-tambah pertahanan.

Al Qur’an dan hadits sering menyebut pertahanan sebagai shabr, yaitu kapasitas menahan dan pengendalian diri secara internal dalam menghadapi berbagai godaan nafsu syahwat perut dan kelamin.

Rasulullah Saw suatu ketika mengatakan bahwa manusia yang terkuat bukan yang paling berotot, tapi yang paling kuat menahan amarah. Bahwa, syahwat perut dan kelamin yang tidak dikendalikan akan membuat manusia kesulitan bersabar untuk menahan amarahnya.

Pengendalian konsumsi makan adalah salah satu kunci dalam membangun suatu pertahanan.

Menahan lapar terbukti tidak saja bisa menyehatkan, tapi juga meningkatkan kecerdasan. Manusia menjadi mampu membedakan antara kebutuhannya (needs) yang terbatas dengan keinginannya (wants) yang tak terbatas.

Kehilangan kemampuan ini adalah sumber keserakahan ribawy. Ini terbukti bisa merusak diri sendiri, alam semesta, memperbudak manusia dan menyebabkan konflik antar manusia, dan bangsa.

PTM marak seiring dengan hedonisnme dan korupsi yang juga begitu meningkat. Kesenjangan sosial meluas sehingga membahayakan basis pertahanan nasional kita.

Pola kehidupan yang membahayakan pertahanan bangsa tersebut perlu dikoreksi dengan puasa, yaitu proses pembentukan shabr secara berjenjang. Shabr diproses melalui 3 tahap selama Ramadhan.

Pada tahap rahmat bagi puasawan adalah tahap menyadari Allah Swt yang telah mengajarkan Al Qur’an adalah rahmat. Ramadhan adalah bulan syahru al Qur’an di mana al Qur’an dibaca, ditadddzaburi dan dipahami pada malam hari.

Tahap kedua adalah maghfirah, perubahan kesadaran dari kesadaran dzulumat pada kesadaran nur sebagai ampunan dari Allah Swt melalui sholat. Sholat menurunkan ilmu dari kepala ke dalam qalbu.

Tahap ketiga itqun min an naar adalah tahap pembebasan kehidupan dari pola lama bak api yang merusak kehidupan, dan memperbudak pada kehidupan yang damai, adil dan terjaga.

Ketiga tahap itu adalah proses menyiapkan puasawan untuk berzakat, untuk hidup bersih dari riba dan fithry. Bersih dari tumpukan lemak, kolesterol, dan gula yang melumpuhkan.

Iman dibina dengan shalat, yaitu suatu teknologi transformasi ilmu (Al Qur’an) sebagai bahan baku menjadi kesadaran atau penghayatan hidup.

Dikombinasikan dengan pengendalian konsumsi dan emosi melalui puasa, maka sekolah Ramadhan akan mentransformasikan iman menjadi taqwa, yaitu dengan kemampuan berbagi, menahan marah, memaafkan, dan berbuat kebajikan bagi publik.

Dalam soal konsumsi – tidak hanya makanan, tapi juga BBM, baja, dan beton – kendali para muttaqin tidak berhenti di halaalan, tapi terus thayyiban, satu pola konsumsi sak madyo (rendah-energi) di mana konsumsi harus berhenti sebelum kenyang, mencapai produktifitas tinggi yang rendah-energi. Muttaqin adalah investor modal sosial pro-bono. 

*) Daniel Mohammad Rosyid, Guru Besar Departemen Teknik Kelautan ITS, PTDI Jawa Timur

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.