Pesawat Garuda yang dipiloti Prabowo dan ko-pilot Gibran ini sudah menjadi sasaran tembak Amerika dan Israel. Semua data dibocorkan pilot pengkhianat dan akan beralih ke tangan mereka.
Oleh: M Rizal Fadillah
KEMPALAN: Sudah banyak aspirasi atau desakan agar Prabowo Subianto atau Indonesia segera keluar dari BoP (Board of Peace) karena hal itu bertentangan dengan prinsip luar negeri bebas aktif, kebersamaan dalam gerakan non blok, preambule UUD 1945, serta ideologi Pancasila.
Demikian juga dengan dukungan konsisten selama ini untuk kemerdekaan bangsa Palestina serta mengecam pendudukan dan genosida Israel. Keanggotaan dalam BoP jelas merupakan kekeliruan dan kebodohan fatal.
Prabowo dalam keadaan dilematis atas sikap yang diambil tanpa pertimbangan matang dan persetujuan rakyat. Ancaman BRICS (Brazil, Russia, India, China, dan South Africa) dan jebakan BoP harus menjadi bahan evaluasi serius.
Serangan Israel dan Amerika atas Iran penting bagi penilaian. Bukan damai yang ada dalam benak Amerika dan Israel, tetapi perang. BoP hanya wadah akal-akalan damai Amerika dan Israel.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyikapi dengan tegas supaya Indonesia mencabut keanggotaan BoP mengingat badan ini tidak akan efektif umtuk jalan kemerdekaan Palestina.
Pernyataan MUI ini tertuang dalam Tausiyah Nomor 28/DP-MUI/III/2026 tanggal 1 Maret 2026 yang ditandatangani Ketum MUI KH Anwar Iskandar dan Sekjen Buya Amirsyah Tambunan di Jakarta.
Desakan MUI dan berbagai kelompok masyarakat lainnya patut untuk menjadi perhatian serius Presiden Prabowo.
Mengabaikannya, apalagi menolak, hal itu hanya menyebabkan kerja dan kinerja pemerintahan Prabowo berada dalam tekanan rakyat. Memperlambat keputusan sama saja dengan mempercepat ketidakpercayaan dan kejatuhan.
Sopir yang mengabaikan peringatan dan menjalankan kendaraan dengan ugal-ugalan pasti membahayakan keselamatan.
Peringatan demi peringatan telah disampaikan mulai soal penggantian Kapolri, efektivitas MBG, ketergantungan Joko Widodo, status Gibran Rakabuming Raka, budaya korupsi, reshuffle kabinet, impor jor-joran, penegakan hukum, hingga kekacauan politik luar negeri.
Peringatan terakhir adalah soal BoP menjadi sangat serius dan menentukan. Kualifikasinya menyimpang dari konstitusi dan ideologi.
Prabowo sendiri yang menyulut bom waktu agar cepat meledak. Ultimatum rakyat adalah keluar dari BoP atau keluar dari Istana. Jika ambisi Prabowo ingin tetap menjadi Presiden maka pilihannya adalah keluar dari BoP.
Sebaliknya jika lebih rela menjadi kacung Amerika dan Israel, maka segera saja bersiap-siap untuk tinggalkan istana.
Biarlah rakyat sendiri yang akan menentukan proses pergantian dalam rangka perbaikan dan penyelamatan.
Pesawat Garuda yang dipiloti Prabowo dan ko-pilot Gibran ini sudah menjadi sasaran tembak Amerika dan Israel. Semua data dibocorkan pilot pengkhianat dan akan beralih ke tangan mereka.
Rudal BoP diarahkan dan siap diluncurkan. Waktu dan ruang menjadi sempit untuk menghindar dan bermanuver. Situasi sudah sangat berbahaya bagi Indonesia.
Pengkhianat itu harus segera ditangkap dan dihukum mati. Bila perlu digantung.
*) Rizal Fadillah, Pemerhati Politik dan Kebangsaan

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi