Minggu, 8 Maret 2026, pukul : 13:38 WIB
Surabaya
--°C

AMAL?

KEMPALAN : Ini kejadian lama. Mungkin seputar 10 tahun lalu, tapi masih saya ingat betul.

Saat mengangkat pot-pot di void halaman belakang rumah, syaraf tulang belakang saya kecetit. Sakit luar biasa. Akibatnya kalau untuk berdiri dari duduk sulit sekali. Berjalan pun trantanan sambil memegangi tembok. Pokoknya segala gerakan tubuh harus pelan sekali agar tidak terjadi sakit.

Sengaja tidak saya bawa ke dokter. Kejadian seperti ini pernah 2 tahun sebelum mengangkat pot-pot itu, juga karena salah posisi saat mengangkat pot-pot. Sembuh seminggu kemudian setelah saya beri salonpas dan krem oles panas.

Saran teman saya, kalau sudah tidak begitu sakit sebaiknya dipijat/diurut agar tidak terjadi pengeroposan tulang. (Hal ini barangkali dimaksudkan untuk memperlancar aliran darah ke segenap elemen tubuh, sehingga pada bagian-bagian tertentu bisa menguatkan tulang).

Meski untuk posisi membungkuk masih sedikit sakit, Kamis sore hari, saya pijatkan di pertokoan Yakaya, Rungkut, Surabaya, yang di emperannya sebagian disewa pijat refleksi dengan delapan kursi malas.

Gedung Yakaya lumayan luas dengan dua lantai. Sebagian luas lantai I disewa supermarket Sup** In**. Di emperan lantai I selain pijat refleksi tadi, disewa macam-macam UMKM dengan masing-masing floor luasnya 2 x 1 meter.

Sedangkan lantai II disewakan untuk karaoke.

Setelah pijat, saya bergegas menuju kendaraan yang berada di depan pintu utama supermarket Sup** In** itu.

Untuk menuju ke situ harus melipir emperan, kemudian belok kiri melewati jalan lebar berkeramik yang persis di depan gerbang utama supermarket tersebut.

Jalan berkeramik ini lebar sekitar 5 meter dan panjang lebih kurang 8 meter. Di ujung panjang itu, kendaraan saya parkir. Sementara di kiri kanan jalan berkeramik tersebut, terdapat stan-stan UMKM seperti penjual kuwe basah, pukis, burger, teh (yang katanya) minuman sehat dalam gelas plastik langsung diadon di situ, dan macam-macam UMKM lagi, termasuk nasi goreng.

Nah, di tengah-tengah jalan berkeramik itu tampak Pak Tua bersosok dekil dan maaf — bertampang ndeso– sedang berjualan krupuk bundar berdiameter 10 sentimeter yang diplastiki. Masing-masing plastik isinya enam lembar krupuk singkong. Dan bungkusan-bungkusan plastik ini dimasukkan dalam plastik besar yang ujung atasnya terbuka. Rasanya dua hari sebelumnya salah satu anak saya juga membawa pulang krupuk ini.

Saat melewati Pak Tua itu hati saya berkata: Sakno (kasihan)… Tapi ya sekadar sakno tok. Buktinya saya segera menghidupkan kendaraan saya.

Namun, hati saya tidak enak. Mesin saya matikan. Saya “balik kucing” (putar balik) dan menghampiri Pak Tua tadi.

“Pinten (berapa), Pak?”

“Sepuluh ribu (dapat) dua bungkus, koh…”

Langsung saya keluarkan uang Rp 10.000.-, disertai membatin, emang tampang saya koyok wong…. Kok dipanggil ‘koh’ (He-he-he… saya pun tersenyum).

Dalam perjalanan pulang saya membatin lagi, apakah ini yang disebut amal? Saya sebetulnya tidak tertarik dengan krupuk ini. Barangkali anak saya yang kemarin dulu membawa pulang krupuk-krupuk ini juga demikian? Tapi kenapa saya beli juga. Sakno? Atau jangan-jangan saya egois? Kok?

Kalau saya membiarkan rasa sakno saya dengan tidak membeli krupuk tadi, bukankah terjadi perang batin, yang jangan-jangan mengakibatkan kepikiran dan tensi darah saya naik? Bukankah ini bermotif?

Kalau disebut amal, mestinya ketika Pak Tua tadi menyebut Rp 10.000,- lantas secepatnya saya bayar dengan lembar Rp 50.000,-, dengan menolak kembalian, ini yang mesti disebut amal?

Atau jangan-jangan yang beramal justru pemilik properti Yakaya, atau supermarket Sup** In**, dengan membiarkan Pak Tua itu berjualan di tengah jalan berkeramik yang terkesan indah yang kontras dengan sosok dekil Pak Tua? (AM/Ilustrasi foto : Google).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.