Minggu, 3 Mei 2026, pukul : 02:24 WIB
Surabaya
--°C

Keajaiban di Detik Terakhir: Drama Ibu dan Anak “Bertarung” Melawan Waktu Demi Satu Panggung Wisuda Unesa!

SURABAYA–KEMPALAN : Panggung Wisuda Unesa ke-118 pada hari Rabu 11 Februari 2026 bukan sekadar seremoni akademik biasa. Di tengah ribuan wisudawan, terselip satu kisah epik yang menguras emosi sebuah “perjudian” nasib antara ibu dan anak yang nyaris gagal bersanding di podium juara akibat sistem yang hampir terkunci.Mereka adalah Sri Wahyuningsih, sang ibu pejuang dari S2 Manajemen Pendidikan (Jalur RPL), dan putrinya, Sahda Atthiyah Tsaqif Qonita, lulusan S1 Ilmu Hukum yang penuh prestasi.

Skenario Tuhan di Menit ke-11: “Perang” Melawan Server

Bayangkan sebuah drama di depan layar komputer yang mencekam. Jarum jam terus berdetak menuju batas akhir pendaftaran yudisium. Keringat dingin mengucur, napas memburu. Sri Wahyuningsih berhasil menembus ketatnya sistem pada pukul 14.00 WIB. Namun, sang putri, Sahda, masih tertahan di luar “pintu gerbang” digital.

“Jantung saya rasanya mau copot. Saya sudah aman, tapi Sahda masih berjuang dengan koneksi dan verifikasi. Saya hanya bisa berdoa, ‘Ya Allah, jangan biarkan momen ini terpisah’,” kenang Wahyuni dengan suara bergetar.
Drama mencapai puncaknya saat Sahda baru bisa menekan tombol submit pada pukul 15.30 WIB. Hanya sisa 30 menit sebelum sistem terkunci rapat dan terkubur selamanya untuk periode ini! Jika Sahda terlambat sedikit saja, mimpi untuk bersanding di podium wisuda akan hancur lebur. Tapi takdir berkata lain; pintu surga akademik itu terbuka di detik-detik terakhir.

Bahu Sang Ibu: Tempat Belajar Sekaligus Bersandar

Perjalanan Wahyuni tidaklah semulus kain toga yang ia kenakan. Sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan Guru Bahasa Inggris, ia harus membelah diri antara tugas negara dan tugas kuliah.

Namun, di balik kesulitan teknologi seperti mengoperasikan Mendeley atau berburu jurnal di Publish or Perish, ada “malaikat kecil” bernama Sahda yang selalu setia membimbing jemari ibunya. “Sahda selalu membantu saat saya kesulitan teknologi. Kami saling menyemangati,” ujar Wahyuni.

Sahda: Bangkit dari Puing Penolakan

Kisah Sahda tak kalah heroik. Ia adalah penyintas kegagalan UTBK 2022. Sempat terhempas, ia bangkit melalui Jalur Prestasi Kepemimpinan dengan beasiswa penuh. Namun, ujian mental sesungguhnya datang di semester akhir: proposal skripsinya ditolak mentah-mentah.
“Ibu itu sibuknya luar biasa sebagai Wakasek, tapi beliau tetap tegar menyelesaikan tesisnya. Saya malu kalau harus menyerah di tengah jalan,” ucap Sahda dengan mata berkaca-kaca.

Pesan untuk Dunia: “Jangan Biarkan Api Itu Padam”

Di akhir prosesi yang mengharukan ini, Sri Wahyuningsih menitipkan sebuah pesan bagi seluruh mahasiswa yang masih berjuang di luar sana:

“Pendidikan tidak mengenal batas usia, dan perjuangan tidak mengenal kata terlambat. Ketika sistem seolah menutup pintu, dan lelah nyaris mematikan langkah, ingatlah bahwa doa dan kegigihan adalah kunci yang bisa membuka pintu mana pun. Jangan pernah menyerah pada keadaan, karena keajaiban selalu datang bagi mereka yang bertahan satu detik lebih lama dari rasa putusnya.”

Garis Finish yang Manis

Kini, dua generasi ini berdiri sejajar. Satu membawa gelar Magister, satu membawa gelar Sarjana Hukum. Antara revisi yang berdarah-darah hingga drama sistem yudisium yang nyaris tertutup, mereka telah membuktikan: Bahwa cinta ibu dan anak adalah bahan bakar paling ampuh untuk mencapai puncak tertinggi di Universitas Negeri Surabaya.(Ambari Taufiq M Fasichullisan)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.