Sabtu, 2 Mei 2026, pukul : 02:46 WIB
Surabaya
--°C

‎Perlawanan, Moralitas, dan Kekuasaan: Studi Kasus atas “Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” Karya W.S. Rendra

‎Oleh: M.Rohanudin Praktisi Penyiaran

KEMPALAN : ‎Puisi “Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” karya W.S. Rendra merupakan teks sastra yang tidak hanya menyentuh persoalan moralitas individual, tetapi juga membongkar struktur sosial yang melahirkan kemunafikan.

Dengan bahasa yang keras dan konfrontatif, Rendra menyerang langsung logika moral masyarakat yang gemar mengutuk pelacuran, tetapi enggan melihat keterlibatan mereka sendiri di dalam sistem tersebut.

Seruan perlawanan tampak jelas dalam bait berikut:

Araklah keliling kota
‎Sebagai panji yang telah mereka nodai
‎Kinilah giliranmu menuntut


Katakan kepada mereka
‎Menganjurkan mengganyang pelacuran
‎Tanpa menganjurkan
‎Mengawini para bekas pelacur
‎Adalah omong kosong



Dalam bait ini, Rendra memutarbalikkan posisi sosial. Mereka yang selama ini distigma justru diangkat sebagai “panji” simbol perlawanan moral.

Kata “nodai” mengandung ironi: yang mencemari bukan para pelacur semata, melainkan masyarakat yang memanfaatkan lalu menghukum mereka.

Kritik menjadi tajam ketika Rendra menyatakan bahwa kampanye pemberantasan pelacuran tanpa tanggung jawab sosial adalah “omong kosong”.

Di sini, puisi berfungsi sebagai argumen etis, moralitas tanpa keberanian menanggung konsekuensi sosial adalah kemunafikan.

Nada solidaritas dan pembangkitan kesadaran tampak dalam bait berikut:

Pelacur-pelacur kota Jakarta
‎Saudari-saudariku
‎Jangan melulu keder pada lelaki

Sapaan “Saudari-saudariku” adalah strategi retoris yang kuat. Rendra membangun solidaritas horisontal, bukan relasi hierarkis. Ia menolak bahasa penghakiman dan memilih bahasa persaudaraan.

Secara ideologis, ini adalah pembongkaran struktur patriarki: perempuan yang dianggap objek kini menjadi subjek yang diajak berpikir dan bertindak.

Satire sosial semakin tajam dalam bagian berikut:

Dengan mudah
‎Kalian bisa telanjangi kaum palsu
‎Naikkan tarifmu dua kali
‎Dan mereka akan klabakan
‎Mogoklah satu bulan
‎Dan mereka akan puyeng


Kata “telanjangi” di sini bukan sekadar literal, melainkan metafora pembukaan kedok. Kaum lelaki yang merasa bermoral ternyata bergantung pada praktik yang mereka kecam.

Rendra mengungkap relasi kuasa yang tersembunyi: pelacuran bertahan bukan karena perempuan semata, tetapi karena adanya permintaan dari struktur sosial yang lebih luas.

Jika para pelacur “mogok”, sistem moral palsu itu akan runtuh oleh kontradiksinya sendiri.

Puncak sindiran yang pahit terlihat pada baris:

Lalu mereka akan berzina
‎Dengan isteri saudaranya


‎Baris ini mengandung hiperbola yang satiris. Rendra hendak menunjukkan bahwa represi tanpa transformasi moral hanya akan menggeser masalah, bukan menyelesaikannya.

Hasrat dan kemunafikan yang tidak diakui akan menemukan saluran lain yang mungkin lebih merusak.

Studi Kasus: Penertiban Prostitusi dan Paradoks Moral Publik

‎Untuk memperkuat pembacaan puisi ini, kita dapat melihat fenomena berupa kebijakan penertiban atau penutupan lokalisasi prostitusi di berbagai kota di Indonesia.

Dalam banyak kasus, pemerintah daerah mengampanyekan pemberantasan prostitusi atas nama moralitas dan ketertiban umum. Lokalisasi ditutup, para pekerja seks dipulangkan, dan wilayah tersebut “dibersihkan”.

Namun, studi sosial menunjukkan bahwa penutupan tersebut sering kali tidak disertai solusi ekonomi yang memadai. Banyak mantan pekerja seks kembali ke pekerjaan yang sama secara sembunyi-sembunyi atau berpindah ke kota lain.

Permintaan pasar tetap ada, sementara stigma terhadap perempuan semakin kuat. Sementara itu, pelanggan yang sebagian besar laki-laki jarang menjadi objek sorotan moral atau sanksi sosial.

Fenomena ini persis seperti yang dikritik Rendra: “Menganjurkan mengganyang pelacuran / Adalah omong kosong” jika tidak diikuti tanggung jawab struktural.

Moralitas dijadikan slogan politik, tetapi akar masalah kemiskinan, ketimpangan gender, eksploitasi ekonomi, tidak disentuh.

Bahkan, dalam beberapa kasus, praktik prostitusi justru berpindah ke ruang digital atau tersembunyi, membuat pengawasan dan perlindungan semakin sulit.

‎Studi kasus ini menunjukkan bahwa puisi Rendra bukan sekadar ekspresi emosional, melainkan analisis sosial yang tajam. Ia memahami bahwa pelacuran adalah gejala dari sistem, bukan penyebab tunggal kerusakan moral.

Dengan demikian, solusi moralistik yang parsial hanya memperpanjang siklus hipokrisi.

Analisis Kritis: Moralitas, Patriarki, dan Kekuasaan

‎Secara teoritis, puisi ini dapat dibaca melalui lensa kritik sosial dan feminis. Rendra menyoroti bagaimana tubuh perempuan menjadi arena kontrol moral, sementara tubuh dan hasrat laki-laki cenderung dimaafkan.

Ini mencerminkan struktur patriarki, di mana standar moral diberlakukan tidak setara.

Gaya retorika imperatif (“Araklah”, “Katakanlah”, “Naikkan”, “Mogoklah”) menunjukkan bahwa puisi ini adalah teks agitasi, seruan untuk kesadaran kolektif.

Rendra tidak menawarkan simpati pasif, melainkan dorongan untuk resistensi simbolik. Ia membayangkan kemungkinan pembalikan kuasa: jika yang terpinggirkan sadar akan posisi tawarnya, sistem moral palsu bisa diguncang.

Selain itu, penggunaan satire dan hiperbola memperkuat efek kejut. Rendra sengaja memilih bahasa yang keras agar pembaca tidak nyaman. Ketidaknyamanan itu adalah strategi estetis untuk membongkar kepura-puraan.

Penutup

‎“Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” adalah puisi yang melampaui zamannya. Ia bukan sekadar membela kaum marginal, tetapi juga menantang fondasi moral masyarakat yang rapuh dan selektif.

Melalui bahasa yang keras, satire yang tajam, dan keberpihakan yang jelas, Rendra menunjukkan bahwa pelacuran bukan hanya persoalan individu, melainkan cermin dari struktur sosial yang timpang.

Studi kasus tentang penertiban prostitusi memperlihatkan relevansi kritik Rendra bahwa moralitas tanpa tanggung jawab sosial adalah retorika kosong. Selama sistem ekonomi dan relasi kuasa tidak berubah, stigma hanya akan berpindah bentuk.

Pada akhirnya, puisi ini mengajukan pertanyaan mendasar: siapa sebenarnya yang bermoral, dan siapa yang paling diuntungkan dari definisi moral itu?

Dengan mengguncang kesadaran pembaca, Rendra menegaskan fungsi sastra sebagai suara nurani keras, jujur, dan tak kompromi terhadap kemunafikan.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.