SURABAYA –KEMPALAN : Dunia atletik Jawa Timur santer membicarakan cabang olahraga yang identik dengan lari. Secara mengejutkan dan aklamasi, sebanyak 38 Pengurus Kabupaten/Kota (Pengkab/Pengkot) PASI se-Jawa Timur resmi memasang “barier” politik olahraga yang kokoh. Mereka satu suara meminta Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes., yang akrab disapa Cak Hasan, untuk terus menakhodai Pengprov PASI Jatim hingga periode 2030.
Dukungan masif ini disampaikan langsung di hadapan Cak Hasan sesaat setelah dirinya tuntas memaparkan Laporan pertanggungjawaban (LPJ) Masa Bhakti 2021-2026 pada Rabu, 4 Februari 2026 di Lantai 11 Gedung Rektorat Universitas Negeri Surabaya ( UNESA) Kampus 2 Lidah Wetan Surabaya.
Legenda Berbicara: “Cak Hasan Adalah Role Model Nyata”
Komentar menohok datang dari legenda atletik Jawa Timur, Sugeng Jatmiko. Dengan nada tegas, ia menyatakan bahwa PASI Jatim akan kehilangan arah jika beralih tangan.yang
“Cak Hasan itu langka. Beliau tidak hanya bisa memberi contoh dengan teori, tapi beliau sendiri adalah contoh nyata dari semangat dan dedikasi. Di bawah kendalinya, atletik Jatim punya wibawa. Kita butuh keberlanjutan, bukan eksperimen baru,” tegas Sugeng di lokasi acara.
Menanti ‘Restu’ KONI Jatim


Kini, bola panas ada di tangan KONI Jawa Timur. Para anggota PASI Jatim dikabarkan tengah menunggu petunjuk teknis dan arahan strategis dari KONI untuk memformalkan dukungan ini melalui mekanisme Musyawarah Provinsi (Musprov) PASI Jatim.
Ketua Umum KONI Jatim M Nabil dalam berbagai kesempatan selalu menekankan pentingnya stabilitas organisasi untuk menjaga prestasi. Sinyal hijau diprediksi kuat akan turun mengingat prestasi PASI Jatim yang stabil dan inovatif di bawah kepemimpinan Cak Hasan.
Visi 2030: Sport Science dan Dominasi Nasional
Cak Hasan sendiri telah menyiapkan ide-ide cerdas menuju Visi PASI Jatim 2030, di antaranya:
Sentralisasi Sport Science: Mengintegrasikan laboratorium keolahragaan modern milik UNESA untuk memantau performa atlet secara real-time.
Liga Atletik Jatim: Menciptakan kompetisi rutin antar daerah guna memutus rantai kelangkaan bibit sprinter dan pelari jarak menengah.
Digitalisasi Database Atlet: Sistem monitoring berbasis aplikasi untuk melacak perkembangan fisik dan gizi atlet se-Jatim secara presisi.
“Tugas kita belum selesai. 2030 bukan sekadar angka, tapi tahun di mana Jawa Timur harus menjadi kiblat atletik nasional yang mandiri secara prestasi dan industri,” pungkas Cak Hasan dengan optimisme tinggi.(Ambari Taufiq / M Fasichullisan)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi