KEMPALAN : Utang-piutang ke bank boleh jadi “tak ada efek signifikan”. Kalau mentok lantaran sering melanggar aturan, ya “paling-paling” agunan atau borg disita alias pindah pemilikan. Dan yang utang ngaplo, bengong, tahu-tahu borg berupa mobil atau rumah pindah tangan ke pemberi utang.
Namun, bagaimana jika utang atau ngutangi ke teman atau saudara?
Memang dampaknya “tidak sedrastis” perkara pinjam-meminjam antara personal/perusahaan dengan bank.
Soal itu, oleh konten di beberapa medsos sering diingatkan : Jika Anda akan meminjamkan uang, siapkanlah mental Anda. Siapa tahu saat ditagih utang, teman atau saudara yang Anda utangi itu mbulet, ngeles. Lantas berakhir dengan serba tidak enak, serba canggung, yang akhirnya menjadikan : wantah, sepo — sebagaimana orang Jawa sering bilang.
Maka, jika ada yang mau nembung utang, lebih baik katakan : “Gini aja, Anda gak usah utang. Tapi saya beri separuh dari jumlah permintaan (ngutang) Anda. Dan gak usah dikembalikan. Oke ?!” Tentu saja, ini jika Anda punya duit.
Supaya apa? Ya, gampangnya, supaya Anda tidak kehilangan teman, atau hubungan saudara menjadi serba tidak enak, akhirnya menjadi tidak saling sapa.
Nah, ini ada perkara utang-piutang yang membahas soal psikologi untung-rugi, dari bahasan akun Tik Tok : ‘Fnu Susanti’.
Akun ini punya 230 ribu pengikut dengan total yang suka 3 juta netizen.
Salah satu konten akun ini muncul di beranda Tik Tok saya, diberi judul : Alasan Orang Susah Mengembalikan Uang. (Mungkin yang dimaksud ‘uang’ di sini adalah implementasi ‘utang’).
Konten ini disuka 23 ribu, dikomentari 1,1 ribu, dan dibagikan ke 3,1 ribu orang.
Fnu Susanti sebagaimana semua VT (Video Tik Tok) dia, selalu tampil bermonolog.
Mula-mula dia memberi perumpamaan : Jika Anda nemu uang Rp 100 ribu di jalan, manakala itu diumpamakan angka, Anda memperoleh rasa senang pada level : 10.
Tapi jika uang hasil nemu itu lantas hilang entah jatuh dimana, maka Anda akan mendapatkan rasa sakit di level : 25.
Padahal secara hitung-hitungan nominal, Anda tidak rugi. Kan pada dasarnya uang itu tadi bukan milik Anda. Hasil nemu. Tapi secara psikologi?
Demikianlah untuk orang yang berutang. Makanya disebut dia : 90 persen orang yang utang itu dipastikan bayar utangnya tidak tepat waktu, meleset dari janji. Bukan berarti tidak punya moral ya.
Dikatakan Fnu Susanti, sesungguhnya orang yang berutang itu pada mulanya tidak ada niat untuk tidak membayar utang. Namun pada perkembangannya yang utang tidak menduga akan timbul situasi : enggan membayar utang.
Dan situasi ini, oleh Fnu Susanti dianggap normal. Kenapa bisa begitu?
Dimisalkan olehnya, saat ada yang mau pinjam Rp 20 juta yang akhirnya berhasil. Rasa senang berada pada level : 10. Senang karena pegang Rp 20 juta, meski dari hasil utang. Tapi saat proses mengembalikan, susahnya berlipat-lipat, bagaimana pengutang itu dengan segala rupa daya berusaha mengumpulkan Rp 20 juta untuk mengembalikan utang. Oleh Fnu Susanti hal itu diumpakan level : 25.
Nah, dalam psikologi, oleh Fnu Susanti hal tersebut disebut : efek takut rugi.
Makanya orang yang berutang, susah tepat waktu jika sudah saatnya mengembalikan. Mungkin kalau itungan gampang-gampangan : 25 – 10 = 15. Jadi rugi 15. Secara psikologi, pengutang mendapatkan rasa sakit di level : 15. Artinya rasa sakit lebih banyak dibanding rasa senang yang didapat pada momen setara.
Rasa senang yang 10 itu akhirnya : gone with the wind. Lenyap tak berbekas !
Nah, jika Anda sudah tahu kondisi seperti itu, sudah siapkah mental Anda memberi utang, sudah siapkah Anda jika yang utang nantinya diprediksi selalu ngeles jika ditagih? Begitu setidaknya kesimpulan Fnu Susanti berdasarkan “teori efek takut rugi”.
Bagaimana? Apa Anda sependapat dengan yang dikatakan Fnu Susanti?
Mari kita baca sebagian dari pendapat yang ada di kolomnya komentar, sebagaimana di bawah ini.
Akun ‘@user284316123170’ berpendapat : “Namanya utang, ya harus bayar.
Gak usah pakai teori !”
“Berarti saya gak normal. Soalnya kalau saya ngutang malah gak tenang. Kalau sudah bayar malah legah dan senang,” tulis akun ‘@Zs’.
Sementara itu akun ‘@Mommy Aya’ bilang : “Gue mau minjemin uang sekiranya gue ikhlas aja 😃. Klo ga dibayar gpp 😃. Contoh, orang mau minjem 2 juta tapi gue akan bilang ‘aku cuman bisa minjemin 50 ribu’ 😂😂”.
Dalam konteks lain akun ‘@Jo’ bilang begini : “Kalau konten ini di-share ke story, reaksi para pengutang itu gimana ya?”
“Ha-ha-ha… gua abis dimaki-maki, Kak. Karena saat gua tagih, dia ngatain : gua dzolim ke dia. Padahal gua nagihnya sopan, pake salam. ‘Maaf, tolong,’ eh…masih dikatain dzolim”.
Ada komentar bernada kocak dari akun ‘@yolaa’ : “Hus huss… FYP-nya ke yang pinjam uang aja. Jangan ke yang dipinjemin.”
FYP adalah singkatan for your page, istilah yang populer di Tik Tok. Kurang lebih maksudnya : video yang lewat di beranda Tik Tok Anda.
‘@Anna’ : “Tolong
jangan ada istilah di-normal-isasi. Hal seperti itu gak ada toleran. Hutang wajib bayar … akan kutagih sampai akhirat !”
Sehabis baca komentar di atas, saya membatin : ‘Wuih…sadis banget’.
Lantas ada yang nulis begini : “Beneerr, sesimple kayak cicilan, pas udah dapet barangnya, rasanya seneng banget. Akhirnya punya sesuatu berharga. Tapi proses bayar cicilannya tuh susah payah dan berat banget, harus kerja keras biar lunas 🥺. Sekarang udah gak mau ngutang dan gak mau ngutangin,” sebagaimana pendapat akun ‘@milyumi’.
Sementara itu akun ‘@Happy24’ menulis : “Ditagih malah jawab, ‘emang lagi butuh banget yaa’. Hah, maksud lo ?! 😭”
“Kadang kita nagih uang sendiri kayak orang ngemis … mereka yang punya hutang malah bergaya hedon. Tapi bayar susah🙈. Ditolong malah mentung…🙊,” komentar dari ‘@Fitria3’.
Lain lagi komentar dari ‘@🎀 Sanbe Monrou🎀’ : “Kenapa lewatnya di berandaku ya. Apakah video ini juga lewat di beranda yang pinjam duitku. Dengar ini woyyy … balikin duitku… !!!😅🤭”
“Yang komen pasti korban. Nah, yang tersangka pasti skip video ini 😌,” kata akun ‘@AM Mengikuti’.
Soal narasi global Fnu Susanti, akun ‘@Kuota Kata’ menulis : “Analoginya masuk akal… Thankyou, Kak ✅”
Lantas : “Setuju, Mbak. Teorinya berkualitas …,” tulis akun ‘@SerangWNS’.
Sementara itu ‘@YourEyes’ ngeluh begini : “Udah kapok … kapokk pake buangettt 😭😭😭. Mana kalau ditagih jawab macam begini, ‘Takut banget siihh gak dibayar. Kamu pikir hutangku ama kamu ajja !!’. Kan anjjj …😷”
Akun ‘@delvino ardhani RF’ berterus terang : “Aku sering kepepet, terus pinjam uang dengan janji ngembaliin tanggal berapa. Padahal tanggal tu aku gak tau dapat uang dari mana lagi.”
Akun ‘@aSrr’ mengeluarkan quote populer : “Uang adalah alat terbaik untuk melihat sifat seseorang.”
Akun ‘@Yuli Nurhadi’ berkomentar agak lain : “Jam 22.00 saya pernah nemu uang 2 juta di ATM, mau tak titipkan ke security takut nanti gak sampe ke pihak bank. Akhirnya tak bawa pulang, saya pake untuk kebutuhan ini itu. Lima bulan kemudian laptop saya hilang senilai 5 jutaan. Ini jadi pelajaran hidup saya.”
“Sekarang kalo ada yang mo pinjam, tak suruh ke BRI. Karena selain males nagih, uang kita yang dipinjem orang juga kena inflasi, itu juga kalo mo bayar. Pernah minjemin gak balik juga,” komentar ini nongol dari akun ‘@OutdoorJogja.id.’
Saya punya pengalaman serupa tapi tak sama dengan narasi Fnu Susanti di atas.
Kejadiannya pada tahun 2000.
Suatu hari di tahun itu saya dihubungi salah seorang teman. Dia minta saya menjadi pelaksana produksi acaranya berupa pameran yang menjual barang-barang eksklusif.
Setelah mendengar detil paparannya, saya setuju dengan syarat saya diberi honor dasar Rp 2,5 juta. Jika barang-barang yang dipamerkan terjual, saya minta fee 10%. Dia setuju.
Jelang dua minggu ‘Hari H’, dia minta persentase fee diturunkan menjadi 5%. Saya setuju, meski pada mulanya agak berat hati.
Untuk menyelenggarakan acara ini diperlukan waktu 3 bulan, dengan rincian : 2,5 bulan persiapan, 0,5 bulan pelaksanaan acara — diselenggarakan di hotel bintang empat di Surabaya.
Acara ini cukup sukses. Honor dasar saya Rp 2,5 juta dibayar lunas, tapi fee insentif saya yang seharusnya saya terima Rp. 12 juta dincrit-incrit, diangsur berbulan-bulan. Sehingga pada sisa yang belum lunas sebesar Rp 4 juta saya nyerah. Capek nagihnya.
Dua tahun lalu sekira pertengahan Agustus 2023 saya kehilangan ADB (alat bantu dengar) telinga saya yang kiri. Saya beli 3 tahun sebelum saya kehilangan itu Rp 5 juta di Kasoem Hearing Centre, Jl. Raya Prapen, Surabaya.
Bagi saya ADB ini sangat penting. Antara lain, meski tidak sering, saya beberapa kali diminta jadi moderator diskusi literasi.
Anda bisa bayangkan bagaimana susahnya seorang moderator menjaring pertanyaan audience tanpa pendengaran yang baik.Jika tak ada alat ini, apa jadinya.
Sedangkan ADB telinga kanan saya kelas murahan, saya beli di toko alat-alat kesehatan di UD. Sukoharjo, Jl. Biliton, Surabaya, seharga Rp 600 ribu. ADB ini kemampuan menangkap suara tak secanggih ADB telinga kiri.
Bingung saya, mikir bagaimana cara membeli lagi. Darimana mendapat Rp 5 juta.
Tiba-tiba saya teringat teman dimana uang saya nyantol di dia Rp 4 juta pada tahun 2000 itu. Kabarnya dia sekarang sudah sukses sebagai pengusaha pariwisata di salah satu pegunungan di Jawa Timur. Dia juga dikenal sebagai pengusaha properti, antara lain membangun hotel dan villa. Dan yang paling menarik, dia sering bantu teman-temannya, termasuk teman-teman lama manakala membuat event.
Saya dan dia berteman di Facebook, tapi minim interaksi. Dan saya tidak punya nomor teleponnya.
Saat itu juga saya tulis kronologi urutan fakta & data di messenger Facebook, soal uang saya yang masih nyantol di dia Rp 4 juta.
Lantas dia jawab : “Ini benar Mas Amang?”
Langsung saja jawab dengan memberi nomor WA saya. Maksud saya, dengan memberi nomor WA, saya berharap dia menelepon saya untuk konfirmasi benar tidaknya jati diri saya, sembari saya tegaskan kronologi “sisa” acara tahun 2000 itu.
Tapi rupanya dia percaya. Sebelumnya didahului dengan kalimat : “Maaf ya, Mas. Sekarang ini banyak penipuan.”
Malam itu juga setelah minta nomor rekening, yang nyantol Rp 4 juta itu dilunasi.
Tapi setelah dua hari, saya mikir. Tahun 2000 harga beras se-kg berapa. Dan tahun 2023 berapa.
Sudah tahu kan maksud saya. Ini bukan perkara riba, tapi mungkin menyangkut nilai inflasi. Dia pasti paham, apalagi sebagai pengusaha.
Lantas saya teringat cerita di salah satu grup WA hasil share salah satu teman, menceritakan seorang ayah di Lampung yang sedang galau lantaran menghadapi tahun ajaran baru. Anak yang sulung mau masuk perguruan tinggi, yang bungsu mau masuk SLTA. Dia bingung lantaran tak ada persiapan finansial.
Dua hari kemudian, selepas isya’ ketamuan teman lama yang sudah 8 tahun hilang kabarnya. Otaknya langsung berpikir : Orang ini dulu yang pinjam 2 juta rupiah, tapi belum mengembalikan, ngilang begitu saja. Masak mau pinjam lagi.
Setelah ngobrol ngalor ngidul, tamu ini mengeluarkan sesuatu dari tas cangklongnya. Ternyata amplop. Lantas diserahkan ke ayah dua orang anak yang sedang galau itu.
“Lho, apa ini?”
“Buka saja. Ini uang yang dulu saya pinjam…”
Setelah dibuka, isinya bukan Rp 2 juta, tapi Rp 8 juta.
“Lho yang saya pinjamkan dulu kan Rp 2 juta, kok lantas bisa jadi sebanyak ini?”
Lantas tamu tadi menegaskan bahwa uang ayah dua orang anak ini dulu digunakan untuk usaha ternak ayam, ditambah pinjaman dari kenalan lain. Tapi gagal. Bangkrut. Lantas dia dan keluarganya pindah ke Jawa. Usaha ternak ayam lagi. Berhasil.
Kisah yang di-share salah satu teman di salah satu grup WA kami, begitu menyentuh. Tidak seperti narasi saya di atas yang to the point.
Mungkin ada yang komentar begini : “Ya lain ceritanya, uang Rp 2 juta kan dipakai untuk usaha. Sedangkan uang Anda yang (pernah) nyantol Rp 4 juta dipakai untuk apa?”
Boleh jadi akan saya jawab begini : “Ya, ndak tahulah. Yang jelas harga beras tahun 2000 dengan tahun 2023 sangat beda. Apalagi teman saya yang lantas bergerak di sektor wisata dan properti ini, sekarang sudah sukses. Bukan masih masih morat-marit seperti tahun 2000 dulu.”
Dan, yang jelas, Gusti Allah mboten sare.
Btw, terima kasih Mbak Fnu Susanti, akhirnya saya jadi tahu “teori efek takut rugi”. (Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi