KEMPALAN: Autobiografi adalah buku yang ditulis berdasar pengalaman hidup oleh diri sendiri. Syarat utama untuk menulis autobiografi adalah jujur, orsinil, dan menjauhkan rasa ragu untuk menceritakan pengalaman yang positif maupun negatif — begitu setidaknya persepsi saya tentang penulisan buku genre ini.
Minggu 12 Oktober lalu, saya menerima pesan WA dari sahabat saya M. Anis berupa link berita Ngopibareng.id., judulnya : Dari Editor Buku “Autobiografi Erros Djarot”.
Sahabat saya ini adalah editor buku tersebut.
Setelah menerima pesan itu sesaat saya berpikir, boleh jadi banyak yang dikirimi pesan ini dari peraih 3 kali Anugerah Prapanca simbol supremasi jurnalistik Jawa Timur yang juga Pemimpin Redaksi portal berita Ngopibareng.id. Setidaknya dikirim ke sahabat : jurnalis, seniman, budayawan, pejabat, aktivis LSM, dan berbagai profesi lainnya.
Kiriman link berupa semacam esai tersebut saya tangkap sebagai bentuk kulo nuwun dari sosok kepercayaan Erros Djarot ini bahwa buku autobiografi yang proses editing dan artistiknya dimulai sejak Januari 2025, segera akan meluncur.
Anis membuka semacam esai sinopsis dari buku autobiografi ini dengan puisi karya Rendra berjudul “Aku Mendengar Suara“, lengkapnya sebagai berikut :
Ada orang memanah rembulan
Ada seekor anak burung terjatuh dari sarangnya
Orang-orang harus dibangunkan
Kesaksian harus diberikan
Agar kehidupan terjaga
Dengan mengutip puisi kontemplatif karya Rendra di atas, Anis memberi penekanan keyakinan, setidaknya untuk dirinya sendiri bahwa buku “Autobiografi Erros Djarot” memang harus ditulis, harus terbit, dan harus dibaca.
Ketika mata saya jatuh pada kalimat ‘harus dibaca’, menunjukkan betapa magmatis konsekuensi tekad Anis agar buku autobiografi ini akan banyak dibaca khalayak sekaligus disuka, dan sekaligus pula diharapkan bisa banyak memberi inspirasi.
Saya memperkirakan Anis tidak sekadar editor yang tugasnya menyunting dan me- rewrite, namun juga memberi masukan bagaimana sebaiknya materi satu dengan lainnya senantiasa terkonteks dan bisa mengesankan khalayak.
Namun demikian, Anis sosok tegas yang senantiasa rendah hati ini, menyatakan keterus-terangannya bahwa ternyata : “Banyak yang tidak saya ketahui tentang Erros Djarot.”
Anis mengibaratkan, dari 1.000 halaman buku autobiografi ini, hanya 10 lembar yang ia ketahui tentang sosok Erros Djarot.
Sejauh yang saya ketahui, M. Anis bersahabat dengan Erros Djarot lebih dari 3 dekade.
Dari mosaik-mosaik yang disajikan Anis melalui tulisan ketuk pintu ini, saya memprediksi inilah persembahan buku kategori magnum opus 2025 bagi pecinta dunia literasi.
Ketika saya menerima buku “Erros Djarot; Apa Kata Sahabat” sebulan lalu dari M. Anis yang berisi tulisan kesaksian 72 sahabat dengan total 645 halaman, antara lain saya nyatakan harapan saya pada esai yang saya tulis dan dimuat di Kempalan.com. bahwa buku ini akan menjadi (salah satu) buku terbaik tahun 2025.
Sekian saat setelah saya membaca mosaik-mosaik yang dihadirkan Anis tentang buku “Autobiografi Erros Djarot”, saya lantas menyatakan dalam hati : buku ini bakal magnum opus tahun 2025.
Maaf, akan melebihi buku “Erros Djarot; Apa Kata Sahabat”. Bukan lantaran tebalnya yang 1.000 halaman, melainkan isinya yang benar-benar memenuhi syarat sebagai buku maha-karya : orsinilitas, kedalaman, kualitas penulisan, kekuatan pengaruh, konsistensi, kredibilitas, inovasi, kualitas editing, dan pengakuan.
Bagaimana saya bisa
memprediksi 10 elemen ini ada pada buku “Autobiografi Erros Djarot” yang nantinya akan menjadi buku magnum opus, sedangkan saya belum membaca buku yang kovernya begitu indah ini?
Siapa pun yang mengenal Erros Djarot, pasti bisa menyimpulkan bagaimana prestasi dan sepak terjang negarawan yang dilahirkan sebagai budayawan dan begawan ini.
Demikian jika saya menyebut M. Anis, jurnalis idealis yang sulit saya cari kelemahannya.
Erros dan Anis adalah dua sosok yang senantiasa berjalan pada kredo : Bersatunya Kata dengan Perbuatan.
Apalagi jika saya baca paparan mosaik-mosaik buku autobiografi yang disebut Anis pada catatan ketuk pintu pada link Ngopibareng.id. ini.
Misalnya Anis menceritakan sepenggal kisah masa SMP, dimana pada suatu hari Erros Djarot dan kakaknya aktor dan sutradara film terkenal Slamet Rahardjo, dihukum ayahnya yang komandan Pangkalan AURI Tanjung Pinang, Belitung, karena ketahuan berjudi kecil-kecilan kartu cemek dengan prajurit anak buah ayahnya.
Mereka berdua disuruh berdiri dan merenggangkan kakinya, lantas di tanah di bawah selangkangan ditembaki ayahnya dengan pistol : dor !…dor !… dor !…
Anis juga memaparkan begini : Kesaksian tidak saja harus diberikan ketika Erros Djarot membimbing tangan Megawati Soekarnoputri, menuntunnya dari anak tangga bawah, terus naik hingga anak tangga paling atas, sampai kemudian duduk sebagai seorang pemimpin nasional di negeri ini.
Namun juga beberapa catatan, di antaranya seperti :
Erros Djarot sejak kecil sudah gemar bertualang. Bukan hanya petualangan secara fisik, tetapi juga petualangan secara spriritual, gagasan, karya, ide, strategi, kreativitas, dan tidak terkecuali politik.
Sejak kecil, dari membaca tulisannya, Anis mencatat bahwa Erros memang nampak mempunyai bakat menjadi sutradara, menyutradarai apa saja.
Contoh lain, ketika SMA di Jakarta, Erros Djarot pernah mencatut kesakralan nama Keluarga Cendana, hanya agar kelompok bandnya dari SMA Budi Utomo, Jakarta, bisa tampil di TVRI.
Tapi buntutnya almarhumah Ibu Tien Soeharto marah-marah setelah mengetahui ada sebuah kendang kecil yang dianggap keramat, ketika dibutuhkan tidak ada di tempat. Ternyata kendang itu ikut dibawa Erros ke studio TVRI, padahal hanya digunakan sebagai hiasan panggung saat dilakukan rekaman.
Lebih lanjut Anis mencatat, dalam perjalanan kehidupan Erros, dia bertemu dengan banyak sekali orang — banyak di antaranya yang namanya sudah kita kenal.
Erros juga seringkali menemui banyak masalah atau kesulitan, tapi selalu saja dia bisa menyelesaikannya karena memang dia banyak akal, plus nakal.
Pada akhir catatannya, Anis menulis begini :
Alhamdulillah, kesaksian-kesaksian Erros Djarot ini akhirnya terbit, tentu dengan pertanggungjawaban penuh terutama masalah moral — untuk dia sendiri bersama keluarga, untuk kami selaku team kerja, untuk para sahabat, untuk Anda pembaca, untuk perkembangan sastra dan untuk seluruh Bangsa Indonesia.
Insya Allah buku “Autobigrafi Erros Djarot” ini ada manfaatnya. (Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi