KEMPALAN-SIDOARJO: Di tengah geliat modernisasi dan arus digitalisasi yang kian deras, Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda) menancapkan tonggak baru dalam upaya pelestarian seni budaya Sidoarjo.
Dekesda menyiapkan sebuah ruang baru yang tidak hanya menyimpan artefak sejarah, tetapi juga semangat kebudayaan yakni Museum Seni Budaya Narotama, yang siap diresmikan pada bulan September ini.
Berlokasi di Jalan Erlangga 7, Sidoarjo, di kompleks Dekesda, museum ini bukan sekadar tempat menyimpan replika warisan seni budaya. Ia dirancang sebagai ruang hidup kebudayaan, tempat generasi muda dapat belajar, bertanya, dan memahami jati diri budaya Sidoarjo yang kaya namun sering terlupakan.
“Museum ini kami rancang sebagai sarana pembelajaran luar ruang (out door learning), dengan target utama pelajar, mahasiswa, dan masyarakat yang ingin memahami seni budaya khas Sidoarjo,” tutur Ribut Wiyoto, Ketua Dekesda.
Dijelaskan, museum Narotama akan menghadirkan sejumlah replika koleksi yang menggambarkan identitas seni budaya Sidoarjo. Baik yang tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) maupun koleksi non-WBTB yang tetap hidup dalam memori kolektif masyarakat.
Untuk WBTB, Ribut menjelaskan akan menampilkan Reog Cemandi, warisan langka dari Desa Cemandi, Sidoarjo, yang berakar dari perjuangan spiritual dan perlawanan kolonial di awal abad ke-20.
Koleksi WBTB lainnya adalah Rias Pengantin Putri Jenggala, yang akan menelusur pada jejak Kerajaan Jenggala, kerajaan penting dalam lintasan sejarah di Sidoarjo.
Sedangkan koleksi non-WBTB adalah Wayang Kulit Gagrag Porongan, yang memiliki gaya unik khas Sidoarjo, dan koleksi penari remo Munali Patah dari tahun 1960, lengkap dengan atribut seperti keris, selendang, gongseng, dan udeng pacul gowang yang menyimpan legenda sekaligus dedikasi terhadap seni tari tradisional.
Tak ketinggalan tarian-tarian khas Sidoarjo yang kini menjadi bagian dari etalase museum, seperti Tari Buri Bandeng, Tari Keris Ronjot, dan Tari Banjar Kemuning, yang semuanya merepresentasikan dinamika kebudayaan yang hidup dan terus berkembang.
Ribut menegaskan, Museum Seni Budaya Narotama berbeda dari museum-museum besar yang dibangun dengan anggaran melimpah. “Museum ini lahir dari semangat gotong royong. Ia dibangun dari kepedulian, bukan dari proyek, juga bukan dari instruksi. Tapi dari cinta pada dunia seni budaya,” papar Ribut.
Tentang anggaran pembangunannya, dia menjelaskan rinci sumbangan dari dosen Umsida sebesar Rp 10 juta, kontribusi internal Dekesda sebesar Rp 1,5 juta, penggalangan dari komunitas seni Rp 500 ribu, dan bantuan dari Puti Guntur Soekarno, anggota DPR RI komisi X, sebanyak Rp 3 juta.
“Museum ini bukan hasil proyek besar pemerintah atau sponsor tunggal. Tapi buah swadaya dan semangat bersama para pegiat seni budaya,” tegas Ribut.
Penamaan Narotama dipilih sebagai penghormatan pada sang maha patih dari Prabu Airlangga, tokoh sejarah yang tak hanya dikenal karena strategi militernya, tetapi juga dedikasinya terhadap ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Melalui nama ini, Dekesda berharap museum ini tak hanya menjadi tempat menyimpan replika benda-benda masa lalu, tetapi juga menjadi rumah ide dan inspirasi, tempat berkumpulnya pemikiran, diskusi, dan pertumbuhan seni budaya Sidoarjo.
“Dekesda ingin menciptakan ruang hidup seni budaya yang terbuka, akrab, dan membumi. Museum seni budaya ini milik bersama bagi siapa saja yang ingin belajar dan berdiskusi tentang seni budaya Sidoarjo,” pungkasnya.
Sebelumnya, Puti Guntur Soekarno, anggota DPR RI, sempat meninjau Dekesda, Jumat (12/9/2025). “Indonesia bukan hanya kaya akan emas, batu bara, dan gas alam. Negeri ini juga menyimpan kekayaan yang tak bisa dikuras habis yakni seni budaya,” kata Puti saat memberi sambutan dalam sarasehan “Membangun Ekosistem Berkebudayaan di Sidoarjo”, di aula serba guna Dekesda.
“Sumber mineral bisa habis. Tapi seni dan budaya tidak. Itu warisan yang bisa terus hidup, diwariskan lintas generasi, dan menjadi sumber devisa yang abadi,” ujar cucu Proklamator RI, Bung Karno.
Usai sarasehan, Puti meninjau lokasi museum Narotama yang terletak di komplek halaman Dekesda. (ntok)
.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi