Kamis, 23 April 2026, pukul : 19:28 WIB
Surabaya
--°C

Tidak Ada WNI yang Jadi Korban Kerusuhan di Nepal

SURABAYA-KEMPALAN: Buntut keputusan pemerintah memblokir 26 platform media sosial, aksi unjuk rasa di Nepal memanas. Kendati demikian, Kementerian Luar Negeri Indonesia memastikan bahwa seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) yang ada di Nepal aman.

Direktur Perlindungan WNI pada Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha menyampaikan, hingga saat ini tidak ada informasi adanya WNI yang jadi korban dalam kerusuhan di Nepal.

Menurutnya, KBRI Dhaka mencatat ada sekitar 57 WNI yang menetap di Nepal. Selain itu ada 43 WNI yang menjadi anggota delegasi dalam berbagai pertemuan di sana.

KBRI Dhaka yang memiliki wilayah akreditasi di Nepal telah berkoordinasi dan berkomunikasi dengan otoritas setempat. Juga dengan Konsul Kehormatan RI di Nepal dan komunitas Indonesia di negara tersebut.

Direktur Perlindungan WNI pada Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha (kiri) saat memberi keterangam kepada wartawan di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu (10/9) petang.

“Berdasarkan komunikasi terakhir, tidak ada WNI yang menjadi korban dalam kerusuhan tersebut. Namun kita tetap melakukan langkah-langkah kontingensi,” kata Judha Nugraha kepada wartawan di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Rabu (10/9) petang.

Dia menjelaskan informasi yang baru saja diterima menyebutkan bahwa situasi di Nepal relatif telah membaik. Namun, KBRI mengeluarkan imbauan agar para WNI terus meningkatkan kewaspadaan, menghindari kerumunan massa, dan  memonitor situasi keamanan dari sumber pemerintah serta media.

“WNI yang sedang melakukan kunjungan atau wisata di Nepal diminta melapor ke hotline KBRI Dhaka,” ujar Judha.

Seperti diketahui, para tentara Nepal berpatroli di jalan-jalan ibu kota Nepal, Kathmandu, pada Rabu (10/9) untuk mengembalikan ketertiban. Hal ini dilakukan setelah para pengunjuk rasa membakar gedung parlemen dan memaksa perdana menteri mundur.

Berdasarkan catatan yang ada, kejadian ini merupakan kekerasan terburuk yang terjadi di Nepal dalam dua dekade terakhir. Dilansir kantor berita AFP, Rabu (10/9), aksi-aksi demo dimulai pada hari Senin (8/9) lalu di Kathmandu untuk menentang larangan pemerintah terhadap media sosial.

Aksi tersebut kemudian meningkat menjadi luapan kemarahan nasional, dengan gedung-gedung pemerintah dibakar setelah tindakan keras kepolisian yang merenggut setidaknya 19 nyawa.

Seorang reporter AFP mengatakan, kepulan asap mengepul dari gedung-gedung pemerintah, tempat tinggal politisi, supermarket, dan bangunan-bangunan lain yang menjadi sasaran pengunjuk rasa. Jalan-jalan ibu kota Nepal dipenuhi bangkai kendaraan dan ban yang terbakar.

“Hari ini sepi, tentara ada di mana-mana di jalanan”, kata seorang tentara yang sedang memeriksa mobil di pos pemeriksaan darurat di jalan. (Dwi Arifin)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.