KEMPALAN : Suatu hari beberapa ‘anggota dewan’ melakukan kunjungan kerja ke sebuah desa dan menanyakan kebutuhan yang belum terpenuhi di desa itu.
Penduduk desa menjawab : “Kami punya dua kebutuhan yang belum terpenuhi, Pak. Pertama, kami punya klinik, tapi tidak ada dokter”.
Mendengar hal tersebut, salah satu dari mereka segera mengeluarkan ponselnya, setelahnya mengatakan : “Tenang saja. Barusan saya langsung menelepon Menkes, dan beres. Sudah teratasi. Besok 3 orang dokter akan tiba di sini.”
Kemudian ‘pak dewan’ tadi bertanya : “Masalah yang kedua apa?”
Dijawab : “Yang kedua, Pak, di desa kami tidak ada sinyal ponsel…”
Bagaimana uthak athik gathuk anekdot ini jika dianalisis ?
Saya mencoba memberi sedikit ilustrasi perihal sosok Teguh Slamet Raharjo almarhum, pemimpin Srimulat — dimana beliau pernah mengatakan bahwa Aneh itu Lucu.
Pak Teguh memformulasikan bahwa Srimulat harus punya “kredo” sendiri tentang bagaimana sesungguhnya lucu itu.
Maka, salah satu contoh implementasi keanehan yang diciptakan beliau, antara lain sosok-sosok wanita di Srimulat yang dipoles secantik mungkin. Sedangkan untuk performa pria dibikin sejelek, seunik, dan seaneh mungkin. Misal, menggunakan celana panjang yang bagian atasnya jauh di atas pusar. Atau dasi yang dipakai cuma secuil.
Atau penampilan penyanyi pria di panggung saat acara sisipan pergantian babak, berdandan mirip orang tua dari desa, jalan terbungkuk-bungkuk mendekati mikrofon. Eh, pas action yang dinyanyikannya sebuah lagu Barat.
Sebaliknya gambaran anekdot ‘anggota dewan’ di atas menunjukkan hal konyol tapi efeknya lucu. Konyol itu Lucu, barangkali begitu kalau dipersepsikan.
Konyolnya dimana? Main nyolot, sok pandai, dan ini yang parah : pembohong. Begitulah gambaran ‘anggota dewan’ tersebut, apalagi jika diproyeksikan dengan situasi dan kondisi baru-baru ini.
Di balik itu semua, sesungguhnya bukan semata-mata persoalan tidak memahami sepenuhnya masalah yang dihadapi oleh penduduk desa, melainkan juga yang menyangkut perkara sok tahu dan sok kuasa. Dan ini yang parah, menganggap kebanyakan orang desa itu bodoh.
Disamping itu, anekdot ini juga saya persepsikan sebagai kritik terhadap birokrasi yang tidak sepenuhnya tanggap dan cepat akan realitas kebutuhan lokal. (Amang Mawardi).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi