KEMPALAN – JAKARTA: Pemerintahan Prabowo Subianto baru saja menerima rapor merah dari Forum Tanah Air (FTA) berdasarkan hasil kajian dan angket, evaluasi satu semester pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Tim perumus yang terdiri dari: Syafril Sjofyan, Donny Handricahyono, Ida N Kusdianti, Iskundarti Mansyur, Heri Kurniawan dan tim pengarah: Tata Kesantra menjelaskan tujuan kajian dan diskusi tersebut adalah untuk memperbaiki kinerja kabinet merah putih.
Ruang lingkup evaluasi kajian dan diskusi dibatasi hanya dalam empat bidang yang dianggap sangat krusial dalam menentukan keadaan dan keberadaan bangsa dan negara kedepannya yaitu: hukum dan HAM politik, ekonomi pertahanan dan keamanan.
Dirilis FTA di bagian metode evaluasi kajian dan diskusi, memakai pendekatan analisa pakar (expert Judgement) sesuai bidangnya masing-masing dalam empat kategori yang dibahas. Metode kajian dan diskusi efektif dilakukan secara maraton dari tanggal 15 sampai 26 Maret 2025.
Disebutkan bahwa narasumber yang hadir mempunyai keahlian di bidangnya masing-masing adalah:
Prof. Dr. Zaenal Arifin Mochtar, S.H., LL. M.
Prof. Ir. Daniel Mohammad Rosyid, M. Phil, Ph.D.
Chusnul Mar’iyah, Ph.D
Dr. Anthony Budiawan, MBA, CMA
Dr. Ir. Marwan Batubara, MSc
Dr. Slamet Ginting, S. IP, MSc
Dr. Feri Amsari, SH, M.H, LL.M
Dr. Anton Permana, S. IP, M.H
Diskusi dihadiri oleh diaspora dari berbagai negara seperti USA Jerman, Swiss, Kanada, Australia, Hongkong, Singapura, Jepang turut hadir pula koordinator FTA dari berbagai provinsi di Indonesia. Diskusi dipandu oleh Tata kesatra ketua umum FTA. Dalam kajian dan diskusi tersebut juga dilakukan evaluasi dengan metode kualitatif untuk mendapat wawasan dan persepsi pakar dan publik yang hadir dalam pembahasan kajian dan diskusi terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Selain itu dilakukan juga evaluasi dengan metode kuantitatif untuk mengukur kebijakan-kebijakan yang diambil melalui Data statistik dan survei yang akan memperkuat hasil evaluasi kualitatif. Survei dilakukan dengan memberi kuesioner kepada masyarakat luas melalui anggota dan jaringan FTA yang tersebar di 5 benua dan 38 provinsi di Indonesia, dari tanggal 1 – 4 Mei 2025.
Dalam forum tersebut, FTA menyampaikan hasil kajiannya terhadap kinerja pemerintahan Prabowo di semester pertama.
- Masalah penegakan hukum menjadi barometer yang bisa jadi ukuran keberhasilan
pemerintahan Prabowo di 6 bulan pertama. Sayangnya, banyak momentum
momentum yang terlewat begitu saja karena penanganan kasus kasus hukum hanya
di permukaan saja, tidak menyentuh substansi delik dan permasalahannya. Beberapa
kasus yang menjadi sorotan adalah penanganan korupsi di ranah pengadilan.
Sekalipun di awalnya terkesan lamban dan alot, pada akhirnya kasus kasus besar
berhasil diungkap dan terjadi mutasi besar besaran di tubuh peradilan. Kita masih
menunggu tindak lanjut bersih bersih di tubuh peradilan dan pengungkapan kasus
kasus besar karena korupsi di ranah peradilan ini diduga kuat sudah menjadi jaringan
yang saling terkait. Kasus pagar laut di PIK 2 yang hanya menyasar pada salah satu
kepala desa dan aparatnya juga menjadi catatan buruk dalam penegakan hukum
pemerintahan Prabowo. Demikian juga dengan penanganan kasus di tubuh Pertamina
yang hanya berakhir pada jajaran pelaksana tugas, tidak menyelesaikan substansi
masalahnya yang sarat dengan permainan mafia migas yang selama ini selalu lolos
dari kejaran hukum. Hal hal tersebut diatas, adalah salah satu dari unsur yang
memberi rapor merah penegakan hukum oleh Prabowo di satu semester pertama
pemerintahannya. Survei penegakan dan penerapan hukum selama satu semester
pemerintahan Prabowo adalah kurang baik 44.1%, tidak baik 39.5% sementara yang
menjawab baik 11.4%. Sisa 5% terbagi untuk sangat baik dan tidak tahu.
- Kebebasan berbicara dan kebebasan pers harus menjadi fokus utama pemerintahan
Prabowo untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa pemerintahannya
berbeda dengan pemerintahan sebelumnya dalam issu ini, bila tidak maka akan
menambah nilai merah bagi Prabowo. Tidak ada lagi kriminalisasi, tidak ada cara
cara proxy dengan memakai pihak lain, baik perorangan maupun ormas, dalam
melaporkan para pengkritik dan pencari keadilan. Kebebasan berbicara dan
kebebasan pers adalah kebutuhan masyarakat untuk bisa menjadi pengontrol
pemerintah, mengawal kebijakan yang diambil pemerintah. Kebebasan berbicara
dan kebebasan pers sebagai pilar keempat demokrasi, telah dijamin kemerdekaannya
dan diakui keberadaannya dalam pasal 28 UUD 1945, seperti halnya tiga pilar
demokrasi lainnya, yakni kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. - Komunikasi publik dan komunikasi politik dari pemerintahan Prabowo yang buruk
harus diperbaiki agar rakyat mendapatkan informasi yang terbuka dan akurat. Tanpa
komunikasi yang baik, bukan mustahil dukungan rakyat terhadap Prabowo dan
pemerintahannya semakin berkurang karena langkah dan kebijakan kebijakan yang
diambil tidak tersosialisasi dan terinformasi dengan baik ke masyarakat. Hasil survei
FTA tentang kemampuan pemerintahan Prabowo mengkomunikasikan dan mensosialisasikan kebijakan kebijakannya menunjukkan responden menyatakan
kurang mampu 51.9%, tidak mampu 28.5% dan mampu hanya 13.6%, sisanya 6%
terbagi pada sangat mampu dan tidak tahu. - Permasalahan yang kompleks dalam bidang ekonomi membutuhkan terobosan
terobosan besar dalam mengkaji ulang program dan rencana kerja pemerintahan
Prabowo. Harus dibuat kebijakan kebijakan yang radikal untuk bisa bertahan dan
membalikkan keadaan ekonomi sehingga membangunkan sektor riil yang berdampak
langsung dengan hajat hidup orang banyak. Satu semester pemerintahan Prabowo
tidak menghasilkan suatu yang signifikan dalam pembangunan ekonomi sehingga
memberi rapor merah bagi kabinet Merah Putih. Konsekuensinya, reshuffle kabinet
menjadi suatu keniscayaan. Hasil survei apakah mendukung reshuffle kabinet
menunjukkan, 74.4% sangat mendukung, 21% mendukung, sisanya sekitar 5%
terbagi untuk yang kurang mendukung, tidak mendukung dan tidak tahu. - Pemerintah harus sangat hati hati bermain dalam isu-isu yang berhubungan dengan
TNI dan POLRI. Selain karena pengalaman rakyat di masa lalu, keterlibatan TNI dan
Polri dalam ranah publik serta politik, dapat dilihat sebagai kemunduran demokrasi.
Hal ini tentu akan berdampak kepada kepercayaan pihak asing untuk masuk
melakukan investasi. Kinerja POLRI yang sangat buruk perlu menjadi prioritas
pemerintahan Prabowo untuk dibenahi. Hasil survei kinerja dan prestasi POLRI
menunjukkan 62.5% tidak baik, 28.4% kurang baik, sisa 9% terbagi untuk sangat
baik, baik dan tidak tahu. - Secara keseluruhan evaluasi pemerintahan Prabowo Subianto, baik secara kualitatif
maupun kuantitatif, dalam satu semester pertama nilai rapornya masih merah atau 5
dari total 10 angka tertinggi. Hal ini selain karena memang kebijakan kebijakan yang
diambil oleh Prabowo belum menunjukkan perubahan dan hasil yang signifikan
dalam 6 bulan pertama, juga kebijakan kebijakan yang diambil belum menyentuh
langsung substansi dari permasalahan yang ada. Survei Penilaian kinerja
pemerintahan Prabowo dalam satu semester ini kurang baik 49.8%, tidak baik
29.2%, baik 15.4%, sisanya 5% terbagi untuk sangat baik dan tidak tahu.
Tanggapan Narasumber
Dalam sesi Zoom meeting yang dilakukan pada hari Minggu (11/5) beberapa narasumber yang hadir dalam forum tersebut memberikan tanggapan atas kajian FTA, antara lain:
Hersubeno Arief (wartawan senior) mengatakan, “Saya menginginkan kajian FTA ini bisa dilakukan secara berkala”.
Chusnul Mar’iyah, (pengamat politik sekaligus seorang dosen) mengkritisi pemerintahan Prabowo dengan lugas mengatakan, ” Saya kira Prabowo masih belum bisa lepas dari poros Jakarta – Beijing – Solo”. Selain menanggapi beberapa aspek kajian, dia juga menggaris bawahi mengenai metode survei yang dilakukan FTA karena hal tersebut menjadi salah satu dasar pembuatan kesimpulan kajian FTA, bukan hanya sekedar penggiringan opini.
Refly Harun (analis politik sekaligus ahli tata negara) menanggapi beberapa hal dari kajian FTA terhadap pemerintahan Prabowo tersebut dengan mengatakan, “MA harus di shutdown, dikoreksi orang-orangnya, mengingat banyaknya masalah termasuk makelar kasus”. Selain itu, Refli Harun juga menanggapi soal kebebasan pers, dia menginginkan tidak ada satu orang pun yang ditangkap karena kebebasan berbicara contohnya mahasiswi ITB yang ditangkap beberapa waktu yang lalu.
Pentingnya Menerima Kritik
Kritik dan saran dari FTA dan narasumber tersebut penting bagi pemerintahan Prabowo untuk meningkatkan kinerjanya dan memenuhi kebutuhan rakyat. Dengan menerima kritik dan saran, pemerintahan Prabowo dapat memperbaiki diri dan meningkatkan kepercayaan rakyat.
Kaesang Pangarep Hadir dalam Zoom Meeting
Ada yang menarik dalam Zoom meeting tadi malam, terdapat peserta yang menggunakan nama Kaesang P. Meskipun tidak jelas apakah benar-benar Kaesang Pangarep, namun kehadiran dan penggunaan nama tersebut menarik perhatian peserta. Bahkan Chusnul sempat mengatakan kalau itu memang benar Kaesang Pangarep, semoga dia bisa mengambil dan mendapatkan pelajaran dari kegiatan tersebut.

Kembali ke pembahasan kajian FTA, dengan menerima kritik dan saran, diharapakan
pemerintah dapat meningkatkan kinerjanya dan memenuhi kebutuhan rakyat, apalagi mendapatkan masukan dari hasil kajian dan evaluasi secara gratis (Chusnul menyebut dengan istilah free project). (Izzat)
Editor: Nur Izzati Anwar (Izzat)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi