Minggu, 24 Mei 2026, pukul : 04:00 WIB
Surabaya
--°C

Simin Kerja di Kandang Orangutan

KEMPALAN : Kisah Simin yang terjerembab belepotan lantaran turun dari bus yang sedang berjalan pelan dengan kaki kanan terlebih dulu, membuatnya tidak patah semangat.

Dia mengalami itu karena selalu teringat nasihat Wonokairun tetangganya di desa sebelum merantau ke Surabaya, agar hati-hati karena orang Surabaya dikenal suka ngaspo, tukang tipu.

Makanya ketika dia meneruskan perjalanan dari Terminal Bungurasih menuju Terminal Joyoboyo, nasihat Wonokairun terus diingatnya.

Ketika kernet bis kota berteriak : “Yang mau turun Terminal Joyoboyo, siap…siap… Kaki kiri dulu! Kaki kiri dulu!” — bilik nalurinya makin dipertajam.

Dipikir kernet tadi mau menipu, ia pun mencoba mengantisipasi, maka Simin pun terjerembab belepotan karena turun dengan kaki kanan lebih dulu.

Dengan tubuh digagah-gagahkan, Simin pun bangkit. Tapi celaka tiga belas, saat ia berniat mau naik angkot, catatan alamat Saman saudaranya, lha kok gak ada. Dicari di dompet, ransel, seluruh saku baju dan celana : gak ada.

‘Apa lupa gak kebawa? Atau jatuh saat saat terjerembab dari bis tadi?’, pikir Simin.

Simin galau. Di tengah lalu lintas padat merayap, ia lantas mencoba berjalan ke arah utara.

Setelah berjalan sekitar 500 meter, Simin menjumpai sebuah bangunan berpintu gerbang yang di atasnya tertulis : Kebun Binatang.

‘Oo .. ini to kebun binatang yang sering diceritakan para tetangga di desa,’ pikir Simin yang lantas berjalan mendekati pintu gerbang.

Dekat loket penjualan tiket, Simin membaca pengumuman lowongan pekerjaan dimana kebun binatang ini sedang mencari karyawan.

Setelah tanya ke salah satu penjaga pintu masuk, lantas Simin menemui yang berwenang — cekak aos, Simin diterima.

BACA JUGA  Elang-Abel Juarai Turnamen Golf Junior Piala Walikota Surabaya 2026, Ini Kuncinya

“Sementara Anda saya tempatkan di kandang orangutan dekat kandang macan,’ kata manajer personalia.

Simin pikir dia akan jadi tukang bersih-bersih kandang orangutan, ee… nggak tahunya dia disuruh berpakaian mirip orangutan dan bergelantungan kesana-kemari lantaran satu-satunya orangutan yang dimiliki kebun binatang itu mati.

‘Ya, sudahlah nggak apa-apa, daripada nggak dapat kerja,’ Simin membatin.

Tiga hari kerja Simin mulai kerasan. ‘Cuma kerja gini aja dapat gaji dan dapat makan sehari tiga kali, apalagi tinggal gratis di asrama. Masih berat dibanding jadi buruh metik kelapa di desa,’ pikir Simin.

Hari keempat kerja, Simin apes. Ketika action mengayun kesana kemari, tangannya lepas dari tali dan jatuh dekat kandang macan. Salah satu kakinya terkilir. Mau teriak minta tolong takut ketahuan pengunjung. ‘Mana ada orangutan bisa ngomong,’ pikirnya. la tidak bisa bergerak.

Sementara itu seekor macan datang mendekat. Meski kandang orangutan dan kandang macan masing-masing dikelilingi jeruji besi dan dibatasi ruang kosong (koridor) satu meter, Simin ngeri juga.

Orangutan, ee … Simin, di tengah ketakutannya sempat berkata lirih, “Mati aku! Bisa dikruwes macan sialan ini …”

Si Macan rupanya kaget, kok ada orangutan bisa ngomong, dan rupanya macan menangkap sesuatu yang tidak asing dengan logat dan volume suara itu. ‘Jangan-jangan ini Simin’, pikir si macan.

Benar saja orangutan itu Simin. Macan pun mengaku kalau ia adalah Saman yang menggantikan macan beneran yang lagi sakit, dan ia pun diberi kostum sangat mirip macan.

BACA JUGA  20 Tahun Teater Ambigu Smanisda Sidoarjo Hipnotis 412 Penonton

Lantas, sambil berbisik mereka saling tanya.

“Man, katanya kamu kerja di pabrik, kok jadi macan?”

“Seminggu yang lalu aku kena PHK, Min. Dari pada nganggur mending jadi macan … “.

Lantas Simin tanya berapa Saman dibayar, Saman menjawab, “Aku dibayar sehari 125 ribu, Min…”

“Lho lha kok lebih besar kamu Man, aku cuma 100 ribu”.

“Yaa … kamu kan cuma makan buah-buahan, sedang aku harus makan daging mentah, he-he-he, auumm .. auumm …”


Bagaimana analisis utak atik gathuk dari anekdot kisah Simin dan Saman ini ?

Orang-orang lugu dan susah macam mereka, bekerja menjual tenaga adalah sah-sah saja. Padahal kalau diamati pekerjaan di atas mengkhawatirkan.
.
Bagi orang yang mengerti hukum, tentu saja ini salah satu bentuk penipuan, pembohongan terhadap publik. Tapi bagi orang-orang macam dua bersaudara itu, memang agak susah mendefinisikannya. Apalagi jika manajer personalia yang lebih terpelajar lantas menyusulkan dengan argumentasi canggih, “Ini pekerjaan sementara, seminggu dua minggu akan datang kiriman orangutan beneran dari kebun binatang lain. Anda tenang-tenang saja…”

Orang macam Saman dan Simin menganggap bentuk kejahatan itu cuma pencurian, merampok, ngembat harta orang lain dengan cara menipu, berjudi, serta bentuk kriminalitas konvensional lainnya.

Mereka tidak tahu ada bentuk kejahatan yang lebih canggih yang sungguh tidak diketahuinya dan yang pada suatu hari bisa menjebaknya ke dalam jerat hukum.

Yang lebih celaka lagi orang-orang miskin macam di atas pada akhirnya acapkali tidak bisa menghindari hukum lantaran tidak bisa membeli hukum. (Amang Mawardi).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.