Minggu, 3 Mei 2026, pukul : 16:09 WIB
Surabaya
--°C

Catetan Tahun 1946′ Puisi Chairil Anwar Paling Indah

KEMPALAN : Jika masih hidup, penyair Pelopor Angkatan 45 –Chairil Anwar– berusia seabad.

Meski berusia pendek (26 Juli 1922 – 23 April 1949), penyair yang telah menulis 75 puisi, 7 prosa, dan 10 puisi terjemahan ini, oleh Harian Kompas dalam Peringatan Seabad Indonesia (1901-2001), dicatat sebagai penyair terpenting.

Kompas menurunkan empat sosok terhebat di bidang sastra-teater-budaya, yaitu: Chairil Anwar (puisi), Pramudya Ananta Tour (prosa), Rendra (teater) dan Umar Kayam (budaya).

Saya lupa alasan Kompas memilih Chairil, mengapa bukan STA, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Taufik Ismail, Subagio Sastrowardoyo, Sutardji Calzoum Bachri atau yang lain.

Bagi saya –mungkin, juga bagi teman-teman– Chairil kemenonjolannya terletak pada vitalitas yang luar biasa.

Selain itu, dari periodisasi Angkatan Balai Pustaka, Angkatan Pujangga Baru, tiba-tiba muncul bentuk dan jiwa berbeda yang digaungkan Chairil. Tak ada gradasi.

Maka muncullah “puisi-puisi aneh” macam ‘Aku’, ‘Persetujuan dengan Bung Karno’, ‘Krawang – Bekasi’, ‘Catetan Tahun 1946’, ‘Kepada Kawan’, ‘Kepada Peminta-minta’, ‘Isa’ (Kepada Pemeluk Teguh), ‘Cintaku Jauh di Pulau’, ‘Cerita buat Dien Tamaela’, ‘Derai-Derai Cemara’, dan masih banyak lagi.

Pengertian “aneh” di sini, jika dibandingkan dengan karya-karya penyair dari periodisasi sastra sebelumnya. Atau jika ditarik ke masa kini, mungkin seperti melihat “keanehan” pada puisi-puisi karya Afrizal Malna.

Kenapa cuma deretan puisi-puisi di atas yang saya sebut, ya karena cuma itu yang pernah saya baca.

Dari yang saya sebut itu, tiga puisi yaitu ‘Persetujuan dengan Bung Karno’, ‘Aku’ dan ‘Catetan Tahun 1946’ pernah saya deklamasikan di depan umum, saat SD (‘Persetujuan dengan Bung Karno’), SMP (‘Aku’), dan ketika STM (‘Catetan Tahun 1946’).

Yang lainnya saya cuma membacanya. Atau membacanya dengan gaya berdeklamasi sembari tiduran atau duduk-duduk. Artinya, baca puisi untuk saya nikmati sendiri.

Yang saya masih hafal puisi berjudul ‘Aku’. Namun. Yang saya anggap paling indah adalah puisi ‘Catetan Tahun 1946’. Padahal saya nggak ngerti artinya. Aneh ya, nggak ngerti artinya tapi menganggap paling indah.

Mungkin saat itu saya tersentuh dengan ‘Catetan Tahun 1946’ ketika jatuh cinta, atau boleh jadi daya tarik puisi ini pada kalimat ‘tidak tahu Romeo & Yuliet berpeluk di kubur atau di ranjang’. Atau pada kalimat ‘jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu’. Atau pada deretan kata ‘karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu asah’.

Inilah tiga puisi karya Chairil Anwar yang pernah saya deklamasikan/baca saat sekolah dulu :

CATETAN TAHUN 1946

Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai
Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut
Dan suara yang kucinta; ‘kan berhenti membelai
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut

Kita –anjing diburu– hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarang
Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat

Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu
Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu;
Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir sempat

Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu asah
Tulis karena kertas gersang; tenggorokan kering sedikit mau basah!

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengar bicaramu, dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu

Dari mula tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal² kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal² kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal² kita bertolak & berlabuh

AKU

Kalau sampai waktuku
kumau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Amang Mawardi jurnalis senior dan penulis, tinggal di Surabaya.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.