Minggu, 17 Mei 2026, pukul : 03:33 WIB
Surabaya
--°C

Euro 2024, Pan-Eropa, dan Naturalisasi

KEMPALAN: Upaya untuk menyatukan Eropa menjadi satu entitas politik yang utuh sudah sering dilakukan dengan berbagai cara. Tapi, sangat tidak mudah, kalau bukan mustahil, menyatukan Benua Biru menjadi satu satu kesatuan dalam Pan-Eropa.

Gerakan penyatuan semacam itu sudah banyak dilakukan di berbagai wilayah dan selalu gagal. Pan-Islamisme selalu gagal. Pan-Arabisme hanya menjadi impian dan berantakan di tengah jalan.

Orang-orang kuat pada zamannya, seperti Gamal Abdel Naser dari Mesir menggagas persatuan negara-negara Arab berdasarkan nasionalisme Arab, tapi gagal total.

Seluruh jazirah Arab relatif homogen karena mayoritas Islam dan berbicara dengan bahasa yang sama, Bahasa Arab. Toh mereka enggan bersatu dalam sebuah serikat berdasarkan identitas nasionalisme Arab.

Kemudian muncul gagasan menyatukan seluruh Arab berdasarkan identitas Islam, Pan-Islamisme. Ide ini diawali oleh gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir oleh Hasan Al Banna yang kemudian meluas ke banyak negara Arab. Pemerintahan diktatorial di negara-negara Arab menolak, dan ide itu pun layu sebelum berkembang.

Gagasan yang sama muncul di tempat lain, termasuk Eropa. Penyatuan pernah dilakukan penyatuan paksa melalui kekerasan dan ideologi. Tetapi eksperimen politik itu pun ambruk dan tidak bisa bertahan lebih dari setengah abad.

Komunisme di Uni Soviet dan Yugoslavia terbentuk melalui teror dan pemaksaan. Tapi pada akhirnya pun ambruk pecah berkeping-keping menjadi negara-negara kecil.

Tidak mudah menyatukan Eropa. Dari dulu sampai sekarang Eropa terpecah-pecah-pecah oleh suku-suku bangsa kecil-kecil dengan ratusan Bahasa yang berbeda. Menjadikan Eropa sebagai entitas yang bersatu di bawah Pan-Eropa adalah impian lama yang sulit terealisasi.

Di panggung sejarah Eropa telah muncul orang-orang kuat yang ingin menyatukan Eropa menjadi satu. Tidak cukup dengan negosiasi politik yang damai tapi dengan kekerasan dan peperangan.

Seperti ungkapan Carl von Clausewitz dalam “On War” (1832) perang adalah diplomasi dengan cara berbeda. Maka muncullah orang-orang kuat yang menyulut Perang Eropa. Napoleon dari Prancis dan Hitler dari Jerman. Mereka berambisi menyatukan Eropa di bawah kepemimpinan diktatorial mereka.

Keduanya gagal dengan akibat yang mengerikan. Perang sudah tidak ada lagi. Eropa modern sudah bersatu dalam Uni Eropa, tapi penyatuan dalam arti Pan-Eropa dalam satu pemerintahan yang utuh tidak bisa terwujud.

Persaingan dan rasa saling curiga masih kental di antara raksasa-raksasa Eropa. Karena itu Inggris kemudian keluar dari Uni Eropa melalui gerakan Brexit yang bikin gempar.

Perang Eropa sekarang berkobar lagi. Bukan di medan perang tapi di stadion sepakbola. Euro 2024. Piala Eropa adalah ajang perang lanjutan antara negara-negara kuat Eropa.

Ajang Euro akan menjadi ajang persaingan keras kekuatan-kekuatan lama Eropa dengan kekuatan baru. Tim-tim besar wakil status quo berhasil maju ke babak gugur 16 besar. 

Tuan rumah Jerman masih tetap menjadi favorit. Dulu dijuluki sebagai tim diesel karena selalu terlambat panas. Tapi sekali panas, Jerman sulit dihentikan. Jerman selalu diperhitungkan karena sangat jago dalam strategi pertandingan berformat turnamen seperti Piala Eropa dan Piala Dunia. Sejak dulu Jerman adalah kekuatan hebat di Eropa, meskipun kekuatan militernya dikebiri seusai Perang Dunia Kedua, tapi Jerman menjelma menjadi kekuatan ekonomi yang dahsyat sampai sekarang.

Siapa yang tidak menjagokan Inggris? Pelatih Gareth Southgate mempunya pemain-pemain muda yang sangat hebat seperti Jude Bellingham, Phil Foden, Cole Palmer, Bukayo Saka, Connor Gallagher, Kobbie Mainoo. Usia mereka masih belum jangkap 20 tahun tapi kualitas mereka sudah sejajar dengan bintang-bintang top dunia. Dipadu dengan pemain-pemain matang yang penuh pengalaman seperti Harry Kane, Inggris menjadi favorit panas sebagai juara turnamen ini.

Tapi, Inggris ternyata melempem tidak bisa mengoptimalkan potensinya. Tiga Singa lolos ke 16 besar secara kurang meyakinkan. Performanya di penyisihan grup datar dan hambar. Di dunia politik internasional Inggris pernah menguasai dunia. The sun never set in Great Britain, matahari tidak pernah tenggelam di Britania Raya, karena wilayah jajahan Inggris membentang luas dari Asia ke Afrika.

Tapi Inggris kemudian layu dan loyo. Kepemimpinan internasional diambil alih oleh Amerika Serikat sejak Perang Dunia Kedua. Di dunia sepakbola Inggris mengklaim sebagai negara yang melahirkan olahraga sepakbola. Semboyan ‘’Football Coming Home’’ menggema pada Euro yang lalu. Tapi tuan rumah Inggris kalah dari Italia sehingga semboyan itu diplesetkan menjadi ‘’Football Coming Rome’’.

Portugal juga tetap menjadi favorit karena ada Ronaldo. Meskipun sudah menjadi mesin tua tapi Ronaldo tetap menjadi andalan di lini depan. Pelatih Roberto Martinez terlalu sungkan untuk tidak memasang Ronaldo. Meskipun tidak mencetak gol dalam tiga pertandingan penyisihan, Ronaldo tetap menjadi starter.

Dalam pertandingan penyisihan terakhir Portugal dipermalukan oleh Georgia 2-0. Ronaldo frustasi, lebih banyak berteriak-teriak daripada berlari, dan akhirnya kena kartu kuning dan ditarik keluar oleh Martinez. Kendati demikian Portugal tetap favorit juara karena pemain-pemain mudanya sangat cemerlang.

Spanyol juga kembali menjadi favorit juara. Dengan konsep tiki taka Spanyol menjadi juara dunia pada 2010 dan juara Eropa edisi 2008 dan 2012. Setelah itu Spanyol melempem. Sekarang muncul wonderkid Lamine Yamal yang usianya masih 16 tahun tapi menjadi tumpuan harapan untuk membangkitkan kembali sepakbola Spanyol.

Prancis adalah tim yang menarik untuk ditonton. Tanpa kapten Kylian Mbappe yang cedera Prancis tetap calon juara yang sangat diperhitungkan. Tiap kali menonton timnas Prancis perhatikanlah berapa banyak pemain berkulit hitam. Dalam setiap line up setidaknya ada sembilan pemain berkulit hitam hasil blasteran Prancis dan Afrika.

Pemain-pemain tua berkulit legam seperti N’Golo Kante masih menjadi andalan di lini tengah. Pemain-pemain lain seperti Usman Dembele, Benjamin Mendy, Julius Kounde, Aurelien Tchoumeni, Eduargo Camavinga, semuanya berkulit legam dan lahir dari orang tua Afrika.

Prancis adalah kekuatan kolonialis besar di awal abad ke-20, menjajah negara-negara Afrika dan Asia. Sekarang Prancis menjadi negara multikultural paling berwarna-warni di Eropa. Gambaran timnas Prancis yang didominasi ‘’pemain naturalisasi’’ berkulit hitam menunjukkan bahwa publik Prancis tidak keberatan dengan banyaknya pemain naturalisasi. 

Mungkin para suporter timnas Indonesia bisa belajar dari Prancis, meskipun kasusnya tidak sama persis. Prancis menerima pemain-pemain kulit hitam sebagai bagian dari politik multikulturalisme, sementara Indonesia mengimpor pemain naturalisasi dari Eropa karena kepepet dan ambil jalan pintas.

Politik tidak bisa menyatukan Eropa. Tapi sepakbola bisa menyatukan mereka. Sama dengan di Indonesia. Ketika pilpres orang saling bermusuhan, tapi ketika timnas Indonesia bermain mereka semua bersatu.

Penulis: Dosen ilmu komunikasi Unitomo, Surabaya

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.