Ketika Jokowi Dilempar Sandal

waktu baca 5 menit
Presiden Joko Widodo di tengah kerumunan warga saat berkunjung ke Maumere. (ist)

KEMPALAN: Seorang presiden dilempar telur adalah kejadian biasa di negara demokrasi. Tapi, seorang presiden dilempar sandal, mungkin, baru terjadi di Indonesia. Insiden itu terjadi terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri acara yang digagas sang menantu, Bobby Nasution, di Gedung Serba Guna Deli Serdang, Sumatera Utara, Ahad (27/8).
Acara bertajuk ‘’Rembuk Kemerdekaan Relawan Wali Kota Medan Bobby Nasution’’ itu dihadiri ribuan orang. Seperti biasanya, banyak yang berdesak-desakan ingin bersalaman dengan Jokowi. Banyak juga yang berebut ingin berswafoto dengan Jokowi. Presiden dengan sabar meladeni permintaan itu. Beberapa kali Jokowi memotret dengan menggunakan gajet relawan.
Pasukan Pengaman Presiden atau Paspampres berusaha mengendalikan kerumunan supaya tidak menimbulkan ancaman terhadap presiden. Di tengah situasi berdesak-desakan itu tiba-tiba seorang perempuan berpakaian hitam dengan motif adat Sumatera Utara, menerobos ke depan melewati barisan Paspampres dan melemparkan botol air minum ke arah Jokowi

Paspampres bertindak cepat dengan menangkap perempuan itu dan menyeretnya menjauh dari Jokowi. Tidak menyerah, perempuan itu meronta dan menolak untuk mundur. Ia malah melepas sandalnya dan melemparkannya ke arah Jokowi.
Paspampres dengan sigap menyeret perempuan itu dan men-take down sampai terjengkang ke lantai. Perempuan itu tetap melawan dan meronta. Ia menolak bangun dari lantai. Dengan posisi tergeletak si wanita berteriak histeris sambil menuding-nuding. Perempuan itu antara lain berteriak ‘’Tolong, kami mencari keadilan’’.
Hadirin yang melihat insiden itu banyak yang meneriaki perempuan itu. Beberapa di antara mereka, termasuk sekalangan jurnalis, mencoba merekam insiden itu lewat kamera. Paspampres berteriak melarang aksi itu. “Jangan rekam, jangan rekam,” teriak Paspampres.
Teriakan Paspampres itu sia-sia karena banyak yang membawa kamera dan merekam insiden itu dengan video. Tak ayal insiden itu langsung viral di media sosial. Rentetan insiden itu terekam dengan jelas.

Belakangan terungkap bahwa perempuan itu bernama Roida Tampubolon. Polda Sumatera Utara mengamankan perempuan itu dan menyerahkannya kepada Dinas Sosial Kota Medan, karena perempuan itu terindikasi sebagai orang dengan gangguan jiwa alias ODGJ. Tidak ada penjelasan lanjutan mengenai latar belakang perempuan tersebut. Dengan mengungkapkan bahwa pelaku adalah ODGJ maka kasus dianggap selesai.

Dari teriakan Rodia yang menuntut keadilan sangat mungkin ia mengalami ketidakadilan dalam kasus tertentu. Karena beratnya pikiran bisa jadi Roida mengalami depresi dan dianggap sebagai ODGJ. Seandainya Jokowi sempat melihat insiden itu dan memberikan kesempatan kepada perempuan itu untuk berbicara mungkin akan terungkap persoalan yang sesungguhnya.

Dalam beberapa kunjungan ke daerah terjadi aksi unjuk rasa dadakan terhadap Jokowi. Beberapa waktu yang lalu ketika Jokowi berkunjung ke Blitar, Jawa Timur, seorang peternak ayam membentangkan poster memprotes mahalnya harga pakan ternak. Polisi mengamankan pengunjuk rasa tunggal itu. Tetapi, ketika kasusnya viral di media sosial, Jokowi mengundang pengunjuk rasa itu ke Istana dan memberi bantuan pakan makanan kepada peternak itu. No viral no justice, kata lawyer M. Soleh.

Dalam beberapa kunjungan banyak insiden yang melibatkan orang-orang yang menerobos Paspampres untuk mendekat ke arah Jokowi, sekadar salaman atau berswafoto. Dalam sebuah kunjungan terlihat seorang perempuan mengadang mobil Jokowi. Mobil berhenti dan Jokowi membuka jendela dan menyalami sekaligus melayani permintaan berfoto.

Paspampres terlihat baik-baik saja dan memberikan kesempatan kepada intruder itu untuk mendekati Jokowi. Paspampres terlihat bersikap longgar tanpa memeriksa secara teliti. Mungkin Paspampres sudah memeriksa sebelum intruder itu diizinkan mendekat. Dalam kasus ini Paspampres membebaskan kamera untuk merekam.

Perlakuan yang berbeda dialami oleh emak-emak orang tua korban Tragedi Kanjuruhan. Ketika beberapa waktu yang lalu Jokowi berkunjung ke Malang, tiga orang perempuan orang tua korban Tragedi Kanjuruhan ingin membentangkan poster protes terhadap Jokowi. Kebetulan Jokowi didampingi oleh Erick Thohir, menteri BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang nyambi jadi ketua PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia).

Sayangnya niat itu tidak kesampaian, karena pasukan keamanan keburu mengendus aksi itu dan meminta emak-emak itu menjauhi lokasi. Terjadi insiden adu mulut di lokasi itu. Pihak keamanan bersikeras melarang emak-emak melakukan protes. Emak-emak itu hanya bisa menangis.

Insiden lempar sandal ala Roida Tampubolon merupakan insiden yang biasa dalam dunia demokrasi. Di negara-negara demokrasi banyak presiden atau pun kepala negara yang menjadi sasaran lemparan telur atau tomat, atau benda lunak lainnya.

Seorang pria ditangkap polisi Inggris karena melemparkan telur kepada Raja Charles III dan Permaisuri Camilla. Peristiwa itu terjadi saat Raja Charles menghadiri acara di Inggris utara.
Video yang direkam Reuters Rabu (9/11/2022), menunjukkan seorang pria melempar 4 butir telur ke arah Raja Charles dan Camilla saat menghadiri upacara tradisional di York. Telur itu jatuh di dekat Charles dan kemudian pecah di tanah. Charles dan Camilla tidak menghiraukan insiden itu dan terus berjalan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron, dilempari telur saat mengunjungi pameran perdagangan makanan internasional di Lyon. Seorang pemuda berusia 19 tahun dan berstatus mahasiswa diketahui sebagai pelaku pelemparan.

Video yang dilansir Associated Press, Selasa (28/9/2021), menunjukkan Macron sedang berjalan melewati kerumunan orang ketika sebutir telur dilemparkan ke arahnya. Telur itu mengenai bahu Macron, namun tidak pecah. Beberapa saat kemudian seorang pria terlihat diamankan dan dibawa pergi menjauhi lokasi oleh sejumlah pengawal kepresidenan.

Ini bukan kali pertama Macron menjadi korban pelemparan. Dia pernah menjadi target pelemparan telur pada 2017 saat menjadi calon presiden. Telur itu pecah di kepalanya pada saat itu. Pada Juni 2021, wajah Macron ditampar oleh pria dalam kerumunan di Prancis selatan. Pasukan pengawalan presiden dengan sigap menangani situasi.

Dalam kasus pelemparan telur oleh mahasiswa, Macron berkomentar santai, ‘’Jika dia punya sesuatu untuk dikatakan kepada saya, maka dia bisa datang dan berbicara”. Mungkin, Jokowi bisa meniru ucapan Macron itu untuk menjawab Rodia Tampubolon. Kita tunggu. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *