
KEMPALAN: Politik penuh dengan simbolisme. Politik penuh dengan eufimisme dan defemisme, penghalusan dan pengkasaran kalimat. Politisi PDIP Effendi Simbolon menyebut istilah ‘’Nakhoda Indonesia’’ yang diduga bermakma ‘’Presiden Indonesia’’. Kaesang Pangarep menyebut ‘’Depok Pertama’’ yang diduga bermakna ‘’Walikota Depok’’.
Kaesang, anak bungsu Presiden Jokowi, memasang baliho di sejumlah sudut Kota Depok dengan narasi ‘’Depok Pertama’’. Ia juga sudah membuat video meminta dukungan publik dan mengatakan sudah mengatakan mendapat restu dari orangtua.
Meskipun tidak terang-terangan menyebut ingin menjadi walikota Depok, tapi ungkapan simbolis itu cukup mudah dipahami oleh partai-partai politik pendukung pemerintah. Mereka kemudian bersegera memberi dukungan kepada Kaesang untuk maju menjadi calon walikota Depok.
Effendi Simbolon mengadakan rapat kerja nasional dengan marga Simbolon. Ia mengundang Prabowo Subianto dan menyebutnya layak menjadi ‘’Nakhoda Indonesia’’. Simbolon cukup berhati-hati untuk tidak menyebut ‘’Presiden Indonesia’’. Tetapi toh ia tidak sepenuhnya aman. Banyak yang sensi oleh istilah Simbolon. Salah satunya Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto yang memaknai ungkapan itu sebagai dukungan kepada Prabowo untuk menjadi presiden Indonesia.
Tak pakai lama, Hasto gercep memanggil Simbolon ke DPP untuk mempertanggungjawabkan pernyataannya. Gerak cepat Hasto ini menunjukkan bahwa pernyataan Simbolon itu berbahaya seperti virus. Kalau dibiarkan virus itu akan menular kemana-mana, karenanya harus cepat dipadamkan.
Effendi Simbolon politisi yang berpengalaman. Ia punya banyak cara untuk menghindari sanksi. Ia mengatakan bahwa ia mengundang Prabowo dalam kapasitas sebagai menteri pertahanan, bukan sebagai calon presiden. Dalam forum itu Prabowo berbicara mengenai bela negara, bukan berkampanye sebagai calon presiden.
Rupanya Hasto cukup puas dengan keterangan Simbolon. Menurut Hasto, Simbolon masih tetap setia kepada partai. Simbolon masih tetap tegak lurus kepada partai. Begitulah ungkapan yang sering dipakai oleh kader-kader PDIP untuk menunjukkan loyalitasnya kepada partai.
Tidak ada sanksi untuk Simbolon, setidaknya untuk saat ini. Ia hanya terkena peringatan pertama. Mungkin semacam kartu kuning. Ketua Dewan Pertimbangan Partai Komarudin Watubun mengatakan bahwa sebagai anggota partai Simbolon tidak bisa berbicara bebas, karena kebebasannya dibatasi oleh aturan partai.
Hasto juga menyatakan bahwa seluruh kader partai termasuk Effendi memberikam dukungan hanya kepada bakal calon presiden yang diusung PDIP yakni Ganjar Pranowo. Kata Hasto, Effendi Simbolon justru mengkritik Prabowo pada acara itu. Hasto menyebut Effendi sempat menyampaikan pandangan objektif soal kebijakan-kebijakan Prabowo di bidang pertahanan.
Simbolon memberi penilaian yang bersifat objektif terkait dengan kebijakan Prabowo. Misalnya terkait dengan kebijakan pembelian pesawat bekas Mirage dari Qatar itu merupakan suatu kebijakan yang tidak tepat, bahkan berpotensi melanggar undang-undang.
Muncul isu liar bahwa Effendi Simbolon akan bergabung dengan Partai Gerindra. Hasto membantah isu tersebut. Hasto juga menegaskan, Effendi Simbolon sebagai kader akan tegak lurus dengan arahan partai. “Sekali merah tetap merah,” ujar Hasto.
Komarudin Watubun mengatakan kepada Effendi bahwa saat menjadi kader partai kebebasannya diatur oleh partai. Ditanya soal sanksi yang diberikan PDIP terhadap Effendi Simbolon, ia mengatakan saat ini pihaknya hanya melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Setelah itu, kata dia, hasil klarifikasi bakal dibawa dalam rapat DPP.
Insiden Efendi Simbolon ini menjadi indikasi bahwa di internal PDIP masih ada arus yang berbeda dalam hal dukungan terhadap Ganjar. Friksi yang keras antara pendukung Puan Maharani versus pendukung Ganjar bisa ditekan melalui aturan partai. Tetapi ternyata insiden semacam ini masih terjadi, dan tampaknya masih akan terjadi lagi.
Persaingan Puan vs Ganjar bisa telusuri mulai tahun lalu. Ketika itu Puan Maharani menyindir agar kader partainya tak memilih calon presiden yang bermodalkan fisik rupawan dan popularitas di media sosial.
Pernyataan ini menguatkan sinyalemen adanya faksi di internal partai. Puan terus mendapatkan dukungan dengan beragam manuver politik, seperti terlihat dari pemasangan baliho ‘Kepak Sayap Kebhinekaan’ dengan potret Puan di berbagai tempat.
Trimedia Panjaitan menyemprot Ganjar dengan terang-terangan. Bambang Pacul, loyalis Puan, tidak mengundang Ganjar dalam acara koordinasi pemenangan kepala daerah PDIP Jawa Tengah. Johan Budi dan kawan-kawan anggota DPR RI membentuk Dewan Kolonel mendukung Puan.
Pendukung Puan disebut sebagai banteng, dan pendukung Ganjar disebut celeng. Persaingan banteng vs celeng akhirnya dimenangkan untuk sementara oleh celeng. Matan walikota Solo, FX Rudyatmoko dikenal sebagai pendukung fanatik Ganjar. Ketika dia membocorkan rahasia bahwa Ganjar akan direkom oleh PDIP karena sudah lulus tes loyalitas, Hasto berang dan memanggilnya untuk klarifikasi. Tapi, akhirnya Rudy yang benar.
Sekarang posisi Rudy dilematis. Dia karibnya Jokowi, tapi sejak Jokowi main mata dengan Prabowo Rudy berada pada posisi terjepit. Rudy terlihat frustrasi melihat kenyataan ini, sampai ia menyebut bahwa kader yang tidak mendukung Ganjar adalah pengkhianat.
Anak-anak Jokowi Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep mengundang relawan Prabowo ke Solo dan Kaesang mengenakan kaos bergambar Prabowo. Hasto yang dikenal sebagai pendukung Ganjar paling fanatik memanggil Gibran dan mendisiplinkannya.
Selama ini Hasto berperan sebagai pemadam kebakaran. Sejauh ini kelihatannya cukup berhasil. Tetapi, tidak ada yang tahu sampai kapan. ()

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi