
KEMPALAN: Setelah heboh oleh kritik tiktoker muda Bima Yudho Saputro, jagat maya Indonesia sekarang heboh oleh tiktoker muda Syarifah Fadhiah Alkaff, yang masih sekolah di SMP. Sama dengan Bima yang mengritik jalan rusak di provinsi Lampung, Syarifah berani mengritik jalan rusak di sekitar rumah neneknya di wilayah kota Jambi.
Bima membuat heboh karena unggahannya di Tiktok-nya membuat gubernur Lampung Arinal Djunaidi panas kuping dan melaporkannya ke polisi. Bima yang sekarang menjadi mahasiswa di Australia mengatakan bahwa pembangunan di Lampung mandeg tidak ada perkembangan, proyek besar mangkrak, dan jalan provinsi lebih mirip kubangan kerbau.
Unggahan itu viral nasional. Bima dilaporkan ke polisi, tetapi gubernur Lampung malah menjadi sasaran rundungan netizen seluruh Indonesia. Ujung-ujungnya laporan dicabut dan Bima tidak jadi dipolisikan.
Kasus ini langsung menjadi arena panjat sosial. Tidak tanggung-tanggung, Presiden Jokowi langsung turun tangan meninjau kondisi jalan-jalan kubangan kerbau di Lampung. Video yang menggambrakan Jokowi naik mobil kepresidenan di tengah jalan kubangan kerbau menjadi viral nasional. Jokowi langsung menjadi penyelesai masalah dengan mengirimkan anggaran APBN untuk membangun jalan kubangan kerbau itu.
Kali ini muncul kasus yang persis sama. Pelakunya masih anak SMP, dan konten unggahannya lebih berani ketimbang Bima. Syarifah yang sangat marah melihat jalanan kota yang rusak parah sampai menyebut kata ‘’Fir’aun’’ dan ‘’iblis’’.
Mungkin Syarifah terinspirasi oleh video Cak Nun yang menyebut pimpinan rezim Indonesia sekarang ini sebagai Fir’aun. Mungkin Syarifah sudah tidak bisa lagi mengendalikan emosinya sampai menyebut kata ‘’iblis’’.
Beberapa waktu yang lalu budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun membuat heboh karena menyebut Jokowi sebagai Fir’aun, dan para pembantunya sebagai Karun dan Haman. Video ini viral nasional dan mendapat respons luas. Cak Nun yang merasa tidak nyaman kemudian meralat unggahannya dan mengaku bahwa dirinya ‘’kesambet’’.
Beda nasib Cak Nun, beda nasib Syarifah. Cak Nun tidak dipolisikan, dan Syarifah dilaporkan ke polisi dengan pasal ujaran kebencian. Ada juga yang melaporkan Cak Nun ke polisi tapi tidak berlanjut.
Nasib Syarifah tidak semujur itu. Dia dilaporkan ke polisi dan menjadi sasaran perundungan oleh influencer lokal. Bukan hanya diserang unggahannya tapi Syarifah juga diserang secara pribadi dan disebut sebagai wanita penghibur.
Syarifah siswi SMPN 1 Kota Jambi viral dengan unggahannya yang mengritik kebijakan Walikota Jambi Syarif Pasha yang dianggapnya melakukan kongkalikong dengan perusahaan China yang menggarap proyek PLTU di Jambi. Syarifah marah karena rumah neneknya menjadi korban kendaraan proyek bertonase besar, sampai merusak jalanan dan mempengaruhi sumur keluarga yang menjadi andalan sumber air bersih.
Kerusakan terjadi jalan akibat Pemkot Jambi mengizinkan truk bertonase 20 ton lebih melewati jalan lorong warga. Padahal, jalan tersebut hanya diperuntukan bagi mobil berbobot 5 ton. Selain itu, ia juga mengkritik perusahaan yang semestinya menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Uap, tetapi malah menjadi perusahaan kayu hutan.
Syarifah mengingatkan bahwa sang nenek ialah seorang veteran pejuang yang pernah berjuang dalam perang kemerdekaan sebagai perawat di garis depan. Dengan jasa perjuangan semacam ini Syarifah merasa bahwa pemerintah kota layak memberi perlakuan yang baik kepada sang nenek.
Alih-alih, Syarifah malah dilaporkan ke Polda. Dia dipanggil dan diinterograsi. Ia sudah melaporkan akun influencer lokal yang membuat konten pelecehan seksual terhadapnya, tetapi malah Syarifah yang diperiksa karena ujaran kebencian.
Wajah demokrasi Indonesia belakangan ini berubah total dengan maraknya internet dan media sosial. Demokrasi adalah wahana bagi warga negara (citizen) untuk menyuarakan haknya melalui ruang publik. Pada demokrasi konvensional, ruang publik atau public sphere itu sering kali terbatas atau hanya dikuasai oleh elite tertentu untuk kepentingan tertentu.
Suratkabar adalah ruang publik, demikian pula radio dan televisi yang seharusnya menjadi ruang publik yang bebas diakses oleh citizen. Tetapi, dalam praktiknya, ruang publik itu sudah terkooptasi oleh kekuasaan dan menjadi korban hegemoni penguasa. Penguasa bukan hanya pemerintah, tetapi termasuk pemasang iklan, kelompok elite politik, dan pemilik media yang tidak membiarkan publik mengakses media menjadi ruang terbuka.
Disinilah media sosial menawarkan revolusi. Ruang publik menjadi ruang yang betul-betul terbuka bebas yang bisa diakses siapa saja. Pemerintah tidak bisa lagi memonopoli kebenaran seperti pada era media konvensional. Pemerintah harus bertarung di ruang publik itu untuk mempertahankan kebijakannya yang ditantang atau ditentang para warga negara.
Sekarang pemerintah terlihat kewalahan menghadapi era baru demokrasi para netizen itu. Banyak yang panas kuping dan main kuasa dengan melaporkan ke polisi. Kasus Bima Yudho di lampung adalah contohnya. Sekarang kasus yang sama menimpa Syarifah.
Alih-alih memeriksa kebenaran informasi mengenai kerusakan jalan dan lingkungan, penguasa lebih suka memberangus kritik dengan melaporkan ke polisi. Yang dilakukan oleh penguasa adalag ‘’kill the messanger’’ membunuh si pengirim pesan, bukan meneliti pesan yang disampaikan si messanger.
Syarifah didesak untuk meminta maaf. Dia tidak punya pilihan lain kecuali meminta maaf, karena ada ancaman pidana melalui UU ITE. Esensi kritiknya mengenai pelanggaran kebijakan yang dilakukan walikota Jambi jadi terlupakan.
Seperti biasanya, kasus yang viral semacam ini langsung direspons oleh elite politik. Kali ini Menko Polhukam Mahfud MD yang bereaksi terhadap kasus Syarifah. Mahfud mengatakan akan mengawal kasus Syarifah supaya tidak terjadi kriminalisasi.
Sama dengan kasus Bima Yudho, ending kasus Syarifah ini bisa gampang diduga. Syarifah meminta maaf kepada walikota dan kasus dianggap selesai. Tapi, mungkin Presiden Jokowi akan turun tangan lagi menyelesaikan kerusakan jalan di Jambi sebagaimana yang dilakukannya di Lampung.
Jokowi turun tangan dan semua masalah selesai. Tingkat kepuasan rakyat terhadap kinerja Jokowi akan semakin tinggi. Fir’aun besar dan Fir’aun kecil pun terlupakan. Terima kasih, Syarifah. ()

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi