KEMPALAN: Dulu pernah suatu ketika bertemu tokoh sastra Hardjono WS ini di Dewan Kesenian Surabaya (DKS Lawas, depannya ada pohon keres), dan ia kemudian bercerita bahwa, “Penyair itu Jangan Takut Pada Malam.”
Hal ini dikatakan Hardjono, saat saya mau pulang dan waktu itu jam telah cukup larut malam. Tapi sebenarnya, Hardjono WS, masih ingin berbincang-panjang soal sastra, dan dia cukup gathuk-mathuk bercerita sastra dengan saya. Tapi karena memang sudah larut malam, saya tetap pulang; dan dianya berkata agak jengkel, “Penyair kok takut pada malam!” Saya tetap melenggang pulang. Lalu setelah berselang sekian lama – sekitar 10 tahunan, ketemu lagi saat dia telah pindah berumah di Gondang Mojokerto; saya bertemu di Taman Budaya Surabaya. Malam belum begitu larut, dianya pamit pulang ke Mojokerto, lantas ganti aku katakan seperti dia katakan, “Penyair kok takut pada malam!” Hardjono WS ngakak atas kalimat saya, dan di tetap pulang menembus remang malam Surabaya ke arah desanya.
Penyair ini memang punya kemampuan yang cukup banyak, dari menulis puisi, cerita anak, melukis, teater anak, novel, hingga membuat patung juga. Sungguh seniman multi-talenta.
Sedangkan kenangan yang bersama dia yang saya ingat, ketika jadi Panitia Festival Cak Durasim (FCD) 2000 yang telah lalu. Bersama Hardjono WS, Heri Lentho, Agustinus, Bambang SP, Agus Bing, Bambang Jazz dan banyak lagi sempat ngamen di bus kota, dan beberapa kampus untuk kampanye adanya FCD tersebut. Ketika itu, benar-benar militan untuk suksesnya sebuah kegiatan kesenian di Taman Budaya Jawa Timur (TBJT). Seingat saya, waktu itu kepala TBJT-nya, Pak Pribadi Agus Santosa, lulusan ASRI (sekarang ISI) Yogyakarta.

Hardjono WS
Kata WS di belakang namanya singkatan Wiryo Soetrisno, adalah nama Bapaknya. Ia lahir di Bondowoso, 11 Maret 1945. Berkiprah berkesenian di Surabaya, utamanya di Sanggar Aksera, dan Dewan Kesenian Surabaya. Ia terakhir beralamat di Desa Jatidukuh, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, hingga meninggal dunia 23 Januari 2013 lalu.
Beberapa puisinya juga ada yang ikut dalam kumpulan puisi Malsasa (Malam Sastra Surabaya) 1994, yang saya pernah saya himpun bersama penyair lain se-Jawa Timur. Sedangkan kumpulan puisinya sendiri berjudul Pizza dan Puisi, waktu itu launching dibacakan di gedung lawas DKS. Lantas ada novelnya berjudul: Tamu dari Jati, Bulik Asih, Garis Lengkung, Titik Akhir, dan banyak lagi. Naskah drama anak-anak berjudul Air Prawita Sari dan banyak lagi. Beberapa kali pula memenangkan lomba penulisan karya sastra, baik cerpen, dan naskah drama.
Hardjono WS pernah menjabat sebagai biro film dan drama di DKS, ketua Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (DKKM), dan punya Padepokan Seni di Jatidukuh. Ia juga aktivis seniman yang sangat militan ketika ada Festival Seni Cak Durasim di Taman Budaya Jawa Timur tahun 2000. Hardjono memang telah tiada, tapi karya seni dan kiprahnya pada kesenian di Surabaya tak bisa diragukan lagi. Dari puisi, teater anak, lukisan, patung, novel, dan banyak lagi. Semoga saja semua amalan baiknya diterima Tuhan Yang Maha Esa. Aamin YRA.
(Aming Aminoedhin)
PUISI-PUISI MINGGU INI: KARYA HARDJONO WS
SAJAK KALI GREGES – Hardjono WS
Aku berjalan menyusuri
jalan-jalan panjang
sepanjang matahari di atas bayang-bayangku
ketika telinga
tersadar menikmati gerak air menghitam
membelah kotaku
teringat aku lenguh sapi jantan
dan ringkik kuda di padang duka barisan toklua
yang berjajar panjang memandangku antara
Soe dan Niki iki
aku berjalan dengan irama
yang menggenapi langkah kaki kiri kananku
makin jauh makin jauh dan bayangan tubuhku
makin memendek
teringat aku akan hutan jati yang telah
mengering dan daun-daun pun runtuh
Di mana kotaku
kalau aku hanya mampu menikmati air sungai
yang tak mau mengalir lagi
sementasa dosa para penguasa tak mau surut
dari sampah-sampah para tetangga
Di mana rumahku
kalau aku hanya bisa melihat kampungku
telah lenyap ditelan janji
ditelan mulut para raksasasa berwajah dewata
Di mana negeriku
kalau aku hanya mampu mendengar mereka
para pencipta puisi
sementara aku dilarang menulis
seperti janji nenek moyangku
ketika aku masih dalam kandungan ibu pertiwi
Di mana…di mana… di mana…..
jawablah Kali Greges yang tetap setia mengalir
di depan istanaku
mesti air terkantuk-kantuk menahan bangkai sampah
dan sumpah serapah
Kali Greges
kali panjang sepanjang lukaku yang tetap menganga
ke mana kau pergi kali Greges
ke muara atau ke laut lepas
lepaskan segala dukamu
lepaskan segala tangismu
lepaskan segala sumpahmu pada pantai
pada laut yang saatnya nanti pasti berubah
menjadi gelombang dan air bah!
(Surabaya, 1994)
SEMUA CINTA NEGERI INI – Hardjono WS
Berderap-derap tentara berjalan
bersiul-siul anak sekolah
berlenggang-lenggang remaja berjalan
selalu mengisi kisah cintanya
lihat jalan-jalan penuh mobil
seakan tak ada lagi jalan yang tersisa
menghitung-hitung besar kreditnya
kapan lepas dan bebas kecewa
kota-kotaku (seluruh Indonesia) makin semarak
namun banjir terus melanda
mungkin kita sudah lupa dan tinggalkan sejarah
negeri ini milik siapa
lihat sawah dan gunung milik siapa
lihat laut dan hutan-hutan milik siapa
negeri ini bukan milik sang raja
negeri ini milik kita semua
SEMUA CINTA NEGERI INI ……..KATANYA
SEMUA CINTA NEGERI INI ……..KATANYA
SEMUA CINTA NEGERI INI ……..KATANYA
SEMUA CINTA NEGERI INI ……..KATANYA
SEMUA CINTA NEGERI INI ……..KATANYA
(Surabaya, 1986)
SAJAK TIGA – Hardjono WS
Pelabuhan telah sepi retno
tetapi garis langit masih juga mengajakku
merangkak pelan-pelan ke arah laut
sebentar lagi retno sebentar lagi
kawanan burung-burung bertengger
di tali-tali kapal sempat berdendang
kenapa hari-hari ini semakin sempit
atau cinta kita tak pernah bertanya?
(1986)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi