
KEMPALAN: Penyerangan terhadap kantor MUI (Majelis Ulama Indonesia) di Jakarta terjadi hanya beberapa hari setelah geger ancaman halal darah Muhammadiyah yang dilakukan oleh peneliti BRIN, Andi Pangerang Hasanudin. Polisi cepat menyimpulkan bahwa penyerangan terhadap kantor MUI tidak ada hubungan dengan terorisme.
Ancaman pembunuhan terhadap warga Muhammadiyah bisa dipastikan tidak ada hubungannya dengan terorisme, meskipun secara harfiah warga Muhammadiyah bisa merasa terteror oleh ancaman itu. Penyerangan terhadap kantor MUI tidak ada unsur terorisme, meskipun para pengurus MUI yang sedang berada di kantor bisa saja terteror oleh penyerangan itu.
Kesimpulan polisi ini seperti forgone conclusion, atau kesimpulan yang sudah diambil terlebih dahulu. Beda kasusnya dengan seorang perempuan yang masuk ke halaman Mabes Polri beberapa waktu yang lalu, yang kemudian diketahui membawa pistol mainan. Polisi melakukan penyelidikan mendalam dan menyimpulkan adanya jaringan terorisme di sekitar perempuan malang itu.
Pelaku penyerangan MUI tidak bisa dikorek keterangannya karena keburu tewas ketika dikejar petugas. Keterangan dari sejumlah saksi menyatakan bahwa penyerang mengalami ganggguan jiwa. Penyerang itu dianggap mengalami halusinasi dengan mengaku sebagai nabi.
Dalam banyak kasus penyerangan terhadap ustadz dan ulama, para penyerang juga biasanya disebut gila atau punya kelainan jiwa. Beberapa waktu yang lalu, penyerangan terhadap Syekh Jabir juga disebutkan dilakukan oleh seorang pria yang menderita gangguan jiwa. Penyerangan terhadap beberapa imam masjid juga disebut dilakukan oleh orang gila.
Kasus ancaman terhadap Muhammadiyah dan penyerangan terhadap kantor MUI terjadi pada Mei. Meskipun skalanya berbeda tapi kasus-kasus penyerangan ini seolah sebuah déjà vu, pengulangan peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya. Pada 1998 menjelang puncak reformasi, terjadi peristiwa pembunuhan sejumlah ulama dan kiai di Banyuwangi dengan motif yang belum diketahui sampai sekarang. Pelaku yang tertangkap banyak yang langsung dieksekusi oleh massa, dan disebut sebagai orang gila.
Tragedi Banyuwangi berlangsung pada Februari hingga September 1998, telah menewaskan ratusan orang. Korban terbanyak adalah dukun santet dank asus ini termasuk salah satu kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia yang belum terselesaikan hingga kini. Meski sudah puluhan tahun berlalu, belum diketahui secara pasti motif dan siapa dalang di balik peristiwa ini.
Peristiwa ini berawal dari pendataan dukun atau orang-orang yang masih memiliki kekuatan magis oleh Purnomo Sidik, bupati Banyuwangi kala itu. Purnomo Sidik mengirimkan radiogram kepada seluruh jajaran aparat pemerintah dari camat hingga kepala desa untuk mendata orang-orang yang dianggap dukun santet. Sejatinya pendataan ini dilakukan untuk memberi perlindungan kepada orang-orang yang diduga merupakan dukun santen di Banyuwangi.
Namun, hal yang terjadi justru sebaliknya. Data orang-orang yang diduga dukun justru memberi informasi kepada kelompok tertentu untuk melakukan penyisiran, kekerasan, dan pembunuhan massal terhadap orang-orang yang diduga dukun santet.
Sebelum muncul radiogram bupati, sudah terjadi pembunuhan terhadap orang-orang yang dituding sebagai dukun santet. Sejak Januari hingga Maret 1998, dilaporkan terjadi lima kasus pembunuhan terhadap dukun santet. Korban pembunuhan telah mencapai puluhan orang pada September 1998.
Dalam satu hari, disebutkan ada dua hingga sembilan orang yang dibunuh. Korban kemudian meluas menyasar kalangan santri dan kiai yang dituduh sebagai dukun santet. Pembunuhan terhadap kalangan santri, kiai, dan guru agama ini disebut-sebut lekat dengan motif politik.
Pembunuhan ini kemungkinan memang dilatarbelakangi motif kebencian terhadap dukun santet. Namun, situasi politik nasional yang sedang tidak menentu ketika itu menjadi salah satu faktor teror terhadap masyarakat Banyuwangi. Ketika itu mulai muncul aksi demonstrasi untuk mendesak Soeharto lengser seusai terpilih kembali sebagai presiden dalam Sidang Umum MPR pada Maret 1998.
Banyuwangi yang terkenal sebagai kawasan tapal kuda basis Nadhlatul Ulama (NU), diduga sengaja dipilih sebagai sasaran kekerasan dengan motif politik. Menurut data kepolisian, 85 korban tewas, tiga orang luka berat, dan tujuh luka ringan. Polisi mengevakuasi 227 orang yang diduga sebagai dukun santet.
Hingga kini, belum diketahui siapa pelaku atau dalang di balik pembantaian itu. Masyarakat menyebut pembunuhan dilakukan oleh ninja. Ada juga yang menyebutnya sebagai operasi naga hijau karena menyasar santri dan kiai. Pembunuh berpakaian serba hitam dan diketahui memakai alat komunikasi berupa handy talky Ada beberapa versi cerita yang menyebut bahwa para ninja tersebut adalah orang-orang terlatih dan bekerja secara sistematis.
Kini, 25 tahun berselang, kekerasan terhadap kelompok agama dalam skala yang berbeda, mulai banyak terjadi. Tidak ada bukti kuat bahwa penyerangan kantor MUI bisa menjadi preseden peristiwa yang lebih besar seperti geger Banyuwangi. Juga tidak ada bukti bahwa kali ini sasaran target adalah ulama Muhammadiyah. Kebetulan di MUI ada ketua PP Muhammadiyah Buya Anwar Abbas yang terkenal vokal dan kritis.
Pada 1998 NU dianggap menjadi musuh rezim Orde Baru karena kiprah politik tokoh NU KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Kali ini Muhammadiyah bisa saja dianggap sebagai kerikil dalam sepatu oleh rezim. Perbedaan Hari Raya Idul Fitri tahun ini seharusnya hanyalah perbedaan khilafiyah yang kecil, ternyata menggelinding menjadi besar.
Terlalu jauh untuk menyebutkan kemungkinan peristiwa kejatuhan Soeharto pada 1998 akan terulang kembali 25 tahun kemudian. Tetapi harus diingat bahwa sejarah selalu mengulangi dirinya sendiri. ()

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi