Oleh: Ferry Is Mirza (Jurnalis Senior)
KEMPALAN: Kamis semalam saat akan ke peraduan sekitar pukul 20.20 WIB ada japri masuk ke seluler penulis, “Innalilahi wa inna ilaihi raji’un, barusan Ambo wafat. Mohon doa dan maafkan bila Ambo ada kesalahan. Maaf Bang gak bisa call dengan WA,” begitu isi japri dari adinda Jasir Bin Hasyim Jahya salahsatu putra alm Hasyim Jahja yang dalam keluarga dipanggil Ambo.
Seketika penulis beranjak dari peraduan lalu kontak ke beberapa kerabat, di antaranya Ridwan ‘Tatok’ Hisyam. “Kita doakan Ambo Husnul khotimah,” tutur Tatok. Begitu pula di WAG Fastabikhul Khairat isinya rasa duka dan doa dari keluarga besar Bani Jahja.
Ambo bagi penulis bukan cuma paman, tapi juga panutan dan penuntun dalam menjaga keimanan.
Ambo bersama keluarga hijrah ke Makkah tahun 1974. Ketika tahun 2014 istri Ambo –Tante Asma wafat– penulis pas ada di Makkah dan ikut memakamkan almarhumah setelah jenazahnya disholati di Masjidil Harram.

Waktu itu almarhum Ambo dan almarhumah Tante Asma tinggal di kawasan Sare Sittin Makkah. Sejak 2011 ketika penulis berhaji dan setiap menunaikan ibadah umrah di bulan Ramadhan selalu bersilaturahmi ke kediaman almarhum Ambo di daerah Baqa Quraysh Makkah. Hampir setengah abad, persisnya 49 tahun –sejak 1974– Ambo bermukim di kota suci Makkah Al-Mukarramah hingga Ambo berpulang keharibaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala Kamis sore 16.13 Waktu Saudi atau 20.13 WIB.
Insyaa Allah, jenazah Ambo disholati ba’da sholat Jumat nanti di Masjidil Harram, Makkah dan kabarnya dimakamkan di Ma’la. Allahumma Inna nas’aluka jannah wa naudzu bika minan nar.
Kilas balik
Ketika tahun 1974, putusan menggelar Sidang Raya Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD) ke-5 di Jakarta sudah bulat. Pemerintah Suharto merestui kendati umat Islam mengecam keras.
Tokoh umat sudah angkat suara. Umat pun bergerak. Sayang, pemerintah bergeming. Sidang tinggal menghitung hari. Hari-hari yang menggelisahkan
Seorang pemuda Hasyim Jahja sang muazin masjid Mujahiddin Perak kota Pahlawan, Surabaya menuju Jakarta, Juli 1974. Berbekal tekad bulat dan keberanian serta kecerdikan, Hasyim datangi rumah pengurus DGD.

Entah bagaimana caranya, melalui samaran ia berhasil lolos dari penjagaan aparat. Didapatinya seorang bule. Tentu saja pemuka agama — kelak diketahui namanya Eric Constable– dari gereja Anglikan Australia.
Eric yang ditemui Hasyim dalam waktu amat singkat itu berdampak amat besar. Pihak DGD segera alihkan lokasi sidang raya dari Jakarta ke Nairobi, Kenya.
49 tahun pasca gagalnya sidang DGD penistaan agama dari penguasa Jakarta kini justru terjadi. Aparat hukum sama sekali tak tergerak dan lambat dalam menangani pelecehan dan penghinaan terhadap agama Islam. Bahkan, ulama dan ustadz diperkusi dengan dalih dituduh radikal.
Media besar pun bungkam. Urusan menghadapi penguasa yang pongah didukung cukong (oligarki) di belakangnya sungguh berat.
Kali ini, satu penguasa dzalim berikut jejeran cukong licik bisa jadi takkan mempan dengan demo damai, jangan sampai umat terpancing anarkis. Semoga penguasa mendengar, agar jangan sampai kejadian ala Jason Bourne nyata terjadi lagi. Karena umat Islam merasa dibuntukan aspirasinya.
Husnul khotimah almarhum Ambo Hasyim Jahja. Aamiin (fim)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi