
Disampaikan pada Khutbah Idul Fitri di SMP Muhammadiyah 10 Suko, Sidoarjo, Jumat 21 April 2023)
KEMPALAN: Hari ini (21/4) umat Islam di berbagai penjuru dunia merayakan hari kemenangan setelah melewati ujian selama sebulan saat Ramadhan. Jika proses Ramadhan dijalani dengan baik maka kaum muslimin hari ini mengalami transformasi, perubahan mendasar, menjadi manusia yang bertakwa yang lahir bersih seperti bayi dari rahim ibu.
Idul fitri secara etimologis mempunyai dua makna. Pertama, kembali berbuka (fitr berasal dari akar kata yang sama dengan iftar). Artinya, hari ini umat Islam sudah kembali diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Karena itu disunnahkan untuk sarapan dulu sebelum Shalat Id.
Kedua, idul fitri dimaknai sebagai kembali kepada kesucian, sebagaimana hadist Nabi Muhammad saw, ‘’Barang siapa berpuasa dengan ikhlas dan iman dia akan keluar dari dosa-dosanya seperti saat dilahirkan oleh ibunya’’.
Puasa mempunyai kakuatan transformatif untuk mengubah manusia menjadi formasi yang lebih baik. Sebagaimana kupu-kupu yang bermetamorfosa dari ulat yang berpuasa, manusia beriman akan menjadi kupu-kupu yang cantik dan indah setelah berpuasa. Ular dan rajawali, yang sudah kehilangan kekuatan, melakukan transformasi melalui tirakat dan puasa. Paruh dan cakar rajawali yang sudah rapuh dan lemah akan terkelupas dan tumbuh cakar dan paruh baru yang kuat dan kokoh. Ular akan memperoleh kembali kulitnya yang kuat dan mulus setelah berpuasa.
Idul fitri adalah hari kemenangan. Umat Islam disunnahkan untuk keluar rumah berduyun-duyun sambil bertakbir mengagungkan Asma Allah. Laki-laki dan perempuan, tua-muda, anak-anak kecil semuanya diperintahkan untuk keluar rumah berkumpul di lapangan terbuka sambil terus-menerus mengumandangkan takbir.
Inilah show of force ala Rasulullah yang bertujuan untuk unjuk kekuatan Islam. Secara kuantitatif show of force ini bisa membuat lawan gentar. Ketika kaum kuffar mempunyai kekuatan yang lebih dominan, maka umat Islam menunjukkan identitasnya secara terbuka sebagai simbol perlawanan senyap.
Jumlah yang besar sangat penting. Tetapi, Rasulullah sudah mewanti-wanti jangan sampai terlena oleh kuantitas yang besar sehingga lalai memperhatikan kualitas. Ulama besar Indonesia H. Abdul Malik Karim Amrullah–atau lebih kita kenal sebagai Buya Hamka—mengatakan bahwa jika kita ingin menyaksikan orang Islam maka lihatlah pada saat Shalat Id. Tetapi, kalau ingin menyaksikan orang mukmin lihatlah pada saat Shalat Subuh.
Ini menunjukkan beda antara orang Islam dan orang beriman. Mereka yang mengaku Islam belum tentu sudah memiliki iman di dadanya (QS Al-Hujurat ayat 14). Shalat subuh berjamaah dan juga shalat Isyak berjamaah menjadi indikasi keimanan seseorang. Rasulullah mengetes keimanan pada sahabat dari shalat Isyak dan Subuh berjamaah. Siapa yang tidak berjamaah pada dua shalat itu dikecam oleh Rasulullah sebagai orang munafik, yang layak dihukum dengan dibakar rumahnya.
Jumlah umat Islam yang besar tidak menjadi jaminan kualitas. Justru jumlah yang besar itu tidak akan ada artinya dan hanya akan menjadi objek kelompok lain kalau tidak mempunyai landasan iman yang kuat. Umat Islam hanya akan menjadi buih di lautan yang terombang-ambing kesana kemari.
Suatu hari, di tengah kerumunan para sahabat, nabi Muhammad SAW bertutur soal kondisi umat islam akhir zaman. Rasul mengatakan, umatku nanti dikepung oleh musuh-musuh dari berbagai sisi, bagai hidangan yang siap disantap oleh orang-orang lahap yang mengitarinya. Para sahabat pada merunduk sedih, lalu sebagian ada yang menanyakan: “..am min qillah nahnu ya Rasulallah?” Apa karena jumlah kami sangat minoritas? Rasul: “Oh tidak, jumlah kalian banyak sekali, kalian mayoritas. Tapi rapuh seperti buih di atas air sesuai kemauan air. “ghutsa’ ka ghutsa’ al-sail”.
Mengapa umat islam yang mayoritas di negeri sendiri menjadi begitu rapuh dan dikuasai oleh minoritas? Rasul menjelaskan: “Kalian terserang penyakit Wahan”. Para sahabat bertanya: “Apakah wahan itu ya Rasulallah?” Rasul menjawab: “Hubb al-dunya wa karahiyah al-maut”. Kalian terlalu senang dunia dan takut kematian”.
Banyak interpretasi pada hadis ini. Pendapat ulama paling umum adalah, umat Islam ketika itu kurang militan, kurang berpegang pada prinsip keimanan, kurang berjihad membela agama secara proporsional dan bijak. Lemah menghadapi nonmuslim, mengalah dan akhirnya tidak disegani oleh lawan.
Sedangkan “hubb al-dunya”, umumnya dimaknai bahwa banyak tokoh yang suka bermewah-mewah, sehingga lemah dalam kepemimpinan. Mdereka lemah iman dan lemah prinsip. Itulah yang dikhawatirkan Nabi.
Virus ‘’Wahan’’ ini sekarang menjadi pandemi yang menyerang umat Islam dimana-mana terutama di Indonesia. Virus Wahan jauh lebih dahsyat ketimbang Virus Wuhan yang melahirkan pandemi Covid-19. Virus Wuhan bisa diatasi dengan melakukan prokes ketat. Virus Wahan juga bisa diatasi dengan melakukan prokes jaga jarak dan selalu membersihkan tangan dari ‘’hubb al-dunya’’ yang berlebihan.
Hubb al-dunya itu sekarang disebut sebagai ‘’hedonisme’’, mengejar kenikmatan dunia dengan segala cara. Hedonisme adalah penyakit yang dibawa oleh ideologi utilitarianisme yang sekuler. Utilitarianisme yang diperkenalkan oleh failasuf Inggris Jeremy Bentham mengajarkan cara untuk mengejar kenikmatan dunia semaksimal mungkin, dengan modal seminim mungkin, tanpa mempedulikan kepentingan orang lain.
Utilitarianisme ini kemudian melahirkan kapitalisme yang mengajarkan kepada penganutnya untuk ‘’maximizing profit’’ dan ‘’minimizing capital’’ memakismalkan keuntungan dengan biaya serendah mungkin. Ideologi kapitalisme liberal ini melahirkan orang-orang yang rakus harta tanpa batas dan akhirnya menjadi rakus kekuasaan tanpa batas.
Ideologi kapitalisme liberal sekarang berkembang menjadi ideologi neo-liberalisme, yang melahirkan oligarki yang menguasai mayoritas kekayaan negara. Jumlah oligarki itu tidak sampai 10 persen, tetapi mereka menguasai 90 persen kekayaan negara. Oligarki terus-menerus diberi kesempatan untuk membesarkan kekayaannya sampai mentok dan kemudian meneteskan kekayaannya ke bawah sesuai dengan teori ‘’trickle down effect’’.
Tetapi, tetesan ke bawah tidak pernah benar-benar sampai kepada rakyat, karena para oligarki itu menadahi tetesan itu dengan ember-ember yang lain. Konglomerasi oleh oligarki terjadi secara vertikal dan horizontal, sehingga seluruh potensi kekayaan negara mereka kuasai tanpa ada tetesan kepada rakyat.
Para pejabat terjangkit hubb al-dunya hedonisme yang parah. Dimana-mana para pejabat tanpa malu pamer kekayaan, flexing, memamerkan barang-barang branded berharga ratusan juta dari uang yang tidak jelas asal-usulnya. Tidak mengherankan kalau kemudian ada transaksi keuangan Rp 349 Triliun yang diduga melibatkan praktik haram.
Masyarakat umum juga ikut-ikutan flexing pamer kekayaan secara berlebih-lebihan. Mereka bangga disebut sebagai sultan. Kekayaannya melimpah, mulai dari rumah mewah sampai pesawat terbang pribadi. Kekayaan mereka tidak jelas asal-usulnya, dan banyak yang kemudian terlibat dalam bisnis haram seperti penipuan dan perjudian.
Ummat Islam juga terjangkit oleh hedonisme ini. Ingin hidup nikmat tanpa kerja keras. Apa saja dilakukan senyampang bisa menghasilkan uang. Hal inilah yang kemudian memunculkan fenomena NPWP, nomer piro wani piro, dalam berbagai kontestasi politik. Masyarakat sudah tidak peduli lagi dengan idealisme, sehingga rela menggadaikan suaranya hanya untuk beberapa ratus ribu rupiah.
Lingkaran setan ini bisa diputus kalau umat Islam melakukan transformasi melalui puasa Ramadhan. Dengan puasa, kita menumbuhkan semangat solidaritas terhadap para duafa dan masakin. Dengan puasa, kita belajar untuk menumbuhkan empati terhadap kelompok yang tidak berpunya, sehingga tumbuh solidaritas sosial yang menyuburkan semangat filantropis untuk senantiasa berbagi.
Itulah esensi takwa, yang menjadi salah satu indikator bahwa puasa Ramadhan telah kita jalani dengan sukses. Wallahu a’lam bis-shawab. ()

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi