Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 14:58 WIB
Surabaya
--°C

Basa-basi Maaf Idul Fitri Politisi

Kholid A.Harras
Pengamat Pendidikan dan Sosial, Dosen UPI

KEMPALAN: Menjelang tibanya hari Raya Idul Fitri, dapat dipastikan tidak satu pun sudut-sudut strategis perkotaan di negeri ini yang terbebas dari aksi mejeng wajah-wajah para politisi. Khususnya mereka yang akan ikut kontestasi pada Pemilu serentak tahun 2024 nanti.

Tampilan busana mereka akan mendadak ‘soleh’ dan ‘solehah’. Yang laki-laki dengan baju koko dan pecinya. Yang perempuan dengan baju muslim dan kerudungnya. Sambil mengucapkan tahniah lebaran khas ala Indonesia “Minal Aidin Walfaazin, Mohon Maaf Lahir Batin”. Rona wajah-wajah mereka menebar senyum sumringah dengan latar warna dan logo partainya.

Tak perlu bantuan analisis dari pakar politik untuk mengungkap maksud dari aksi mejeng berjamaah para politisi dan ucapan “Minal Aidin Walfaazin, Mohon Maaf Lahir Batin” mereka. Sarpakun, staf RW di perumahan tempat saya tinggal yang hanya lulusan SMP, saya lihat piawai menangkap maksudnya. “Sekedar ‘nyari dukungan’. Sedangkan permintaan maafnya hanya sekedar ‘basa-basi’, alias palsu belaka”, ujar Sarpakun sambil tertawa.

Semua orang pasti sepakat bahwa meminta dan atau memberikan maaf merupakan perbuatan yang mulia. Semua ajaran agama maupun moral-etika sangat merekomendasikanya. Apalagi dalam ajaran Islam, meminta dan atau memberikan maaf kepada orang lain merupakan amal saleh yang sangat dianjurkan.

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasûlullâh SAW bersabda: Barangsiapa yang didatangi saudaranya (sesama Muslim) untuk mengakui dan meminta maaf (atas kesalahannya) maka hendaklah dia menerimanya, baik dia yang bersalah atau benar, karena jika dia tidak melakukan itu (memaafkan saudaranya) maka dia tidak akan mendatangi telagaku (di akhirat kelak). Namun untuk membuktikan ketulusan dalam meminta maaf kepada orang lain, ajaran Islam memberikan sejumlah persyaratan. Antara lain mengakui kesalahan yang telah dilakukan, menyesali perbuatan tersebut, dan berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan serupa pada masa mendatang.

Adalah fakta, salah satu sifat manusia mahkluk yang bisa dan pandai berpura-pura, bahkan berbohong, prilaku terpuji dan mulia meminta dan atau memberikan maaf ini kerap kali menjadi terkontaminasi. Hanya sekedar basa-basi. Jauh dari tulus dan sekedar seremoni. Dalam kajian Psikologi, prilaku yang merujuk pada upaya permintaan maaf yang tidak tulus (insincere), tanpa benar-benar merasa menyesal atau bersalah dikenal sebutan ‘Fauxpology’.

Fauxpology bisa terjadi dalam berbagai ranah dan komunitas. Misalnya dalam konteks pertemanan antarpribadi, organisasi, bisnis, ekonomi maupun politik. Untuk membedakan antara fauxpology dan permintaan maaf tulus antara lain, permintaan maaf tulus biasanya dilakukan dengan mengakui kesalahan yang telah dilakukan terlebih dahulu, kemudian diikuti rasa penyesalan atas kesalahan tersebut.Setelah itu ajuan permohonan maaf. Sedangkan fauxpology biasanya dilakukan dengan cara yang manipulatif dan sebatas apologi dan basa-basi. Salah satu contoh ucapan maaf yang terkontaminasi muatan fauxpology misalnya ketika seseorang mengatakan “Maaf jika kamu tersinggung atas ucapan saya” atau “Saya minta maaf atas ketidakpahaman Anda”.

Apakah ucapan “Minal Aidin walfaizin, Mohon maaf Lahir batin” berjamaah yang kini marak disampaikan para politisi pada berbagai spanduk atau baliho raksasa termasuk juga dalam katagori fauxpology? Meski teman saya Sarpakun baru mengetahui istilah fauxpology, namun saat hal itu ditanyakan kepadanya secara tegas ia membenarkannya. Ucapan “mohon maaf lahir batin” tersebut merupakan bentuk fauxpology, ujarnya.

Menurut Sarpakun ada dua alasan indikasinya. Pertama, para politisi itu meminta maaf kepada siapa? Itu tidak jelas. Jika yang dimaksud oleh politisi yang ingin mereka pinta maafnya itu adalah masyarakat pembaca spanduk atau baliho, jelas-jelas hal yang tidak jelas. Lagi pula jika pun masyarakat tahu maksudnya, memangnya masyarakat peduli atau sukarela memberikan maafnya?

Kedua, para politisi itu sesungguhnya mengajukan permohonan maaf atas kesalahan apa atau yang manakah? Ini juga tidak mereka katakan secara jelas dan nyata. Kalau mereka jujur sebagai wakil rakyat yang mengemban amanat, mestinya mereka katakan saja meminta maaf atas kesalahan yang pernah mereka perbuat. Misalnya mereka meminta maaf karena tidak bisa amanah, atau ikut menikmati duit-duit yang bukan haknya. Atau ikut serta menciptakan banyak pejabat yang korupsi, arogan dan menyakiti hingga menghianati hati rakyat.

Sekiranya redaksi permintaan maaf pada spanduk dan baliho raksasa para politisi seperti itu, menurut Sarpakun ada peluang kemungkinan masyarakat luas akan memberikan maafnya. Karena bukankah bangsa ini terkenal sebagai masyarakat yang tidak susah dalam memberikan permaafan. Bahkan untuk banyak kesalahan yang kerap berulang layaknya rotasi arisan. Masalahnya, ujar Sarpakun, apakah para politisi tersebut memiliki keberanian melakukan permohonan maaf yang tulus seperti itu? ***

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.