OLEH: Aming Aminoedhin
KEMPALAN: LELAKI setengah baya brengosan dan bercambang yang suka dandanan eksentrik memakai udheng di kepala itu, bernama Agus R. Subagyo. Di samping pakai udheng, sering tampil baca puisi dengan pakai sepatu boot tinggi lengkap dengan sarungnya yang khas itu. Terkadang saat mengajar anak-anak di Sanggar Rumah Ilalang atau lembaga sekolah malah suka pakai sandal jepit saja. Tapi itulah sosok nyentrik, SanRego atau Kang Rego yang mengaku petani itu.
Lelaki ini lahir Nganjuk pada 7 Oktober I973, sehari-hari memang berprofesi sebagai petani. Menggarap sawah dan ladang keluarga, menanam padi dan bawang merah di kampungnya Karangnongko, Kelutan – Ngronggot – Nganjuk.
Meski begitu, jagat teater adalah magnet terbesar yang tidak pernah bisa dia jalani. Sejak masih sebagai mahasiswa Fakultas Peternakan di Universitas Brawijaya, Malang, sibuk dan aktif berteater. Tidak sekadar rnenjadi penampil di panggung, seniman dikenal dengan nama Rego llalang dan biasa dipanggil Kang Rego itu juga menggagas lahirnya banyak kelompok teater di Jawa Timur.
Ada lima di antaranya berlokasi di Malang. Di kota itulah, dia menggembleng dirinya untuk menjadi seniman teater yang mumpuni sembari kuliah. Pada akhirnya, Rego lebih memilih seni teater sebagai jalan hidupnya. Sampai meninggalkan Universitas Brawijaya pada I996, dia tidak pernah menyandang status sarjana. Namun lewat teater, dia mengharumkan nama kampusnya.
Sejak 01 Desember 2000, Rego bersama enam orang temannya yaitu: Banimal Malabar, Yusuf Syafroni Karim, Masboegi, Chikul Mahardika, Shinta dan Mawar Kumala mendirikan Sanggar Rumah llalang – Komunitas Seni Ilalang Indonesia. Sejak saat itulah Rego semakin serius menggeluti teater. Sanggar dan komunitas itu kemudian menjadi menjadi inspirasi bagi lahirnya banyak komunitas dan sanggar teater lainnya. Khususnya di Nganjuk, Kediri dan Malang. Ia sendiri beberapa kali tampil baca puisi di berbagai kota, seperti: RB Kalimasada Blitar, Tuban, Bojonegoro, Surabaya, Malang, Banyuwangi, dan banyak lagi.
Beberapa kali menjadi guru dan tentor, Rego mengerti benar bahwa ilmu akan menjadi semakin berkembang jika ditularkan. ltu berlaku pula untuk teater. Maka, selain mendirikan dan membina 22 kelompok teater, pria 49 tahun itu juga menjadi pembina di 13 sanggar yang lain. Tujuh di antaranya adalah “cabang” Sanggar Rumah llalang yang tersebar di Nganjuk, Kediri, Malang, dan Banyuwanqi. Rego tidak pernah menyebutnya sebagai cabang tetapi menyebutnya sebagai “rumpun” karena menurutnya Ilalang tidak bercabang tetapi merumpun.

Rego yang kini menjabat wakil ketua I (koordinator nasional) Yayasan Pelaku Teater Indonesia itu juga produktif dalam berkarya, sampai saat ini, tidak kurang dari 16 buku kumpulan puisi bersama penyair lain telah dia luncurkan. Itu belum termasuk delapan buku kumpulan puisi tunggalnya. Yang paling anyar adalah Buku Ajar Baca Puisi untuk Anak (2020) lalu.
Di sela kesibukannya mengulik teater, Rego juga menuliskan naskah drama. Karyanya termasuk dalam buku antotogi naskah drama bersama Belantara Samargod yang diterbitkan Balai Bahasa Jawa Timur pada 2016. Selain itu, sekitar 52 naskah drama dia hasilkan sejak 1994 sampai sekarang.
Naskah dramanya yang paling populer dan paling sering diadaptasi ke atas pentas bertajuk Matahari Setengah Mati I – Mimpi Kang Sukardi. Naskah drama Matahari Setengah Mati l – Mimpi Kang Sukardi terbit pada 2002. Naskah tersebut selain dipentaskan oleh banyak kelompok teater di Indonesia juga beberapa kali dikaji sebagai bahan penelitian skripsi dan kajian ilmiah lainnya. Kompetensi seniman nyentrik berambut gondrong itu diakui berbagai kalangan.
Terbukti dengan kepercayaan yang diberikan kepada Rego untuk menjadi juri berbagai kompetisi dan festival. Baik itu yang berkaitan dengan teater, puisi, maupun literasi. Dari 2002 sampai 2022 lalu, Rego menjuri sedikitnya 55 kompetisi dan festival tingkat daerah serta nasional.
Selain itu Rego tetap mengelola dan menggelorakan Sanggar Rumah Ilalang hingga saat ini. Sejak tahun 2015 Sanggar Rumah Ilalang mengadakan sebuah acara yaitu Pagelaran Musim puisi, tari, teater, pantomime, musik bahkan juga lukisan. Pagelaran MusimTandur sampai tahun 2022 sudah diadakan sebanyak 8 kali.
Selain Pagelaran Musim Tandur Rumah Ilalang juga mengadakan acara Nyadran Puisi yang sudah digelar sebanyak 3 kali. Sejak awal tahun 2022 Sanggar Rumah Ilalang membuat program Pentas Nglurug Dulur (pNd). Yaitu sebuah program pentas menghadiri undangan yang ada dari komunitas – komunitas.
Selama tahun 2022 pNd sudah dilakoni sebanyak 18 kali di antaranya di Malang, Batu, Kediri, Solo, Surabaya dan Nganjuk, yang sebagian besar menampilkan baca puisi dari anak-anak Rumah Ilalang yang rata-rata masih sekolah di tingkat dasar (SD/MI).
Hingga kini masih aktif tampil baca puisi di berbagai kota, termasuk baca puisi bertajuk Sepuluh Tahun Puisi Menolak Puisi yang akan digelar di Tuban, 25 Februari 2023 ini. Sungguh, lelaki yang tangguh berkesenian di jalur sastra itu, bernama SanRego. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi